Breaking News

POLITIK Menebak Estafet DPC PDI Perjuangan Sikka, Petrus Selestinus: "Yang Lama Meradang, Yang Baru Ambigu" 14 Jul 2019 18:20

Article image
Pasangan Aleks Longginus dan Robby Idong (Paket Aleks-Idong) saat maju pada Pilkada Sikka 2014 lalu. (Foto: lenterapos.com)
"Ini akan menjadi persoalan fatsun politik, etika, sopan santun dan tabe adat dalam politik tradisional di Sikka," kritik Petrus.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo (Robbby Idong) santer dikabarkan mendapat dukungan dan akan ditetapkan menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai PDI Perjuangan kabupaten Sikka periode 2019-2024.Menebak

Jabatan Ketua DPC Partai PDI Perjuangan kabupaten Sikka masih diemban Aleksander Longginus selama kurun waktu hampir 20 tahun tak tergantikan.

Meskipun upaya menempatkan dan penetapan Robby Idong menjadi Ketua DPC PDIP Sikka belum menjadi keputusan resmi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai PDI Perjuangan, namun Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) justru menanggapi secara kritis.

Dalam rilis yang diterima media ini, Minggu (14/7/19), Koordinator TPDI, Petrus Selestinus menilai situasi transisi tersebut sangat dilematis.

"Jika benar Robby memimpin DPC PDI Perjuangan kabupaten Sikka, maka sangat mungkin Aleks Longginus meradang dan komuninitas independen RoMa (Robby-Marianus) akan merana," nilai Petrus.

Petrus beralasan, Aleks Longginus akan meradang dan menolak rencana DPP PDI Perjuangan menempatkan Robby Idong sebagai Ketua DPC kabupaten Sikka, karena akan sangat mengganggu kohesivitas politik di internal kader-kader partai yang sudah lama 'antri' ingin menggantikan posisi Aleks Longginus.

Menurut Advokat Peradi ini, alasan penolakan oleh Aleks Longginus tidak lain karena Robby Idong sebagai pendatang baru, belum 'berkeringat' untuk Partai dan secara berjenjang belum pernah menjadi pengurus partai bahkan belum menjadi anggota Partai. 

Selain itu, lanjut Petrus, Robby juga dinilai belum pernah menjadi kader Partai. Sementara, kriteria dan syarat untuk menjadi seorang kader atau pimpinan Partai antara lain, harus mengikuti pendidikan dan pelatihan kader yang dilakukan oleh DPP. 

"Ada syarat lain yang tak kalah penting untuk menjadi kader Partai yakni pernah memdharmabhaktikan tenaga dan pikirannya untuk partai PDI Perjuangan," kata Petrus. 

Melangkahi Kaderisasi Organisatoris Partai

Petrus beranggapan bahwa Aleks Longginus akan mengklaim bahwa selama kepemimpinan selama 20 tahun menjadi Ketua DPC, telah membina dan memiliki kader-kader muda potensial yang teMelangkahilah mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk Partai di kabupaten Sikka, sehingga kader-kadernya itu lebih layak menggantikan dirinya daripada Robby Idong. Inilah yang membuat kubu Aleks Longginus meradang dan membangun pertahanan untuk menolak Robby Idong.

"Alasan penolakan oleh kubu Aleks Longginus karena kehadiran Robby Idong dikhawatirkan menutup kesempatan bagi kader-kader Aleks Longginus menjadi Ketua DPC. Ini adalah soal lain di internal PDI Perjuangan, di mana kehadiran Robby dinilai tidak melalui  mekanisme organisatoris yaitu dari bawah, menjadi anggota, sehingga jelas membuat kader-kader Partai merasa dilangkahi," nilai Petrus.

Situasi Dilematis

Pada sisi yang lain, lanjut Petrus, langkah Robby ke PDI Perjuangan dinilai sebagai sikap politik yang inkonsisten yakni dengan meninggalkan komunitas dukungan politik kepada paket RoMa.

"Dukungan komunitas RoMa merupakan kekuatan riil jalur independen pada pilkada Sikka 2018 lalu dan berhasil mengantarkan Robby Idong dan Romanus Woga menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sikka mengalahkan hegomoni Partai Politik dalam kontestasi Pilkada Sikka. Ini akan menjadi persoalan fatsun politik, etika, sopan santun dan tabe adat dalam politik tradisional di Sikka," Petrus mengkritisi. 

Menurutnya, komunitas politik RoMa sebagai kekuatan politik riil dan konstitusional dalam pilkada, tentu saja merasa ditinggal pergi begitu saja sonder permisi oleh Bupati Sikka Robby Idong, sehingga ini akan menjadi noda hitam dalam karir politik Robby Idong di masa yang akan datang. 

"Komunitas independen RoMa tentu merasa bahwa Robby sudah keluar dari komitmen politiknya yaitu tetap membangun dan mempertahankan kendaraan politik melalui Komunitas independen yang telah sukses secara gemilang meluluhlantakan dominasi dan hegomoni Partai Politik dalam sejarah pilkada di NTT," imbuhnya.

Petrus khawatir, pilihan politik dan tata cara Robby dalam memilih kendaraan politik melalui PDI Perjuangan memberi kesan bahwa Robby lebih memilih jalan politik praktis menjadi seorang pragmatis yang maunya secara instan menuju puncak kekuasaan, ketimbang mewujudkan janji-janji kampanyenya yaitu memenuhi hak-hak dasar masyarakat Sikka yang hingga saat ini satupun dari janii-janji kampanyenya itu belum terwujud. 

"Robby Idong lebih mengedepankan kenyamanan dalam membangun kekuasaan politik untuk periode pasca 2024, apakah kembali mencalonkan diri menjadi Bupati Sikka dua periode atau menjadi Cagub atau Cawagub NTT 2024. Tentu jalan politik praktis sangat pragmatis," simpul Petrus.

--- Guche Montero

Komentar