Breaking News

OPINI Menembus Kabut Politik Luar Negeri Jerman Dalam Bingkai Karakter Asli Mayoritas 23 Dec 2020 23:50

Article image
Orang-orang Jerman pada dasarnya memang gentle, supel dan ramah, namun jika sudah berkenaan dengan politik luar negeri Jerman, kita harus waspada.

Oleh Saiful Huda Ems (SHE)

 

PATUT diakui secara jujur bahwa karakter orang-orang Jerman itu aslinya gentle, supel dan murah senyum. Mereka juga mudah meminta maaf jika merasa melakukan kesalahan sekecil apapun. Olehnya, ungkapan "entschuldigung, es tut mir sehr leid" yang berarti maaf atau maafkan saya menyesal, seringkali terucap dari bibirnya orang-orang Jerman yang kami temui di sana.

Orang-orang Jerman juga sangat hormat dan menghargai orang-orang asing, meskipun di sana ada juga kelompok Neo Nazi atau Skinhead yang organisasinya banyak terdapat juga di Inggris dan di negara-negara lainnya.

Mereka juga sangat rasis dan merupakan sisa-sisa pengikut Hitler yang gemar mempersekusi orang asing. Namun keberadaan mereka itu sebenarnya tidak terlalu banyak dan berpengaruh di Jerman, bahkan setahu saya, banyak orang Jerman sendiri yang tidak menyukainya.

Neo Nazi di Jerman disebutnya sebagai 'Rechstradikale' atau radikal sayap kanan, berbeda dengan kamus Politik di Indonesia bahwa yang termasuk radikal kanan itu merupakan golongan ekstremis Islam.

Sewaktu saya masih tinggal di Berlin antara tahun 1991-1995, terdapat banyak aksi demonstrasi orang-orang Jerman yang berbaur dengan orang-orang asing yang melawan kelompok Rechtsradikale ini. Atau dalam istilah Jerman disebut 'Gegen Rechstradikale.'

Namun meskipun demikian secara umum dapat saya katakan seperti di awal tulisan ini, orang-orang Jerman dan Pemerintahan Jerman sendiripun sebenarnya sangat menghormati dan menghargai orang asing yang tinggal di sana. Oleh kultur itulah, banyak mahasiswa yang betah tinggal di Jerman hingga puluhan tahun, juga para pencari suaka politik dari berbagai negara, banyak yang memilih Jerman sebagai tujuan utamanya karena Pemerintahan Jerman dianggap banyak memberikan kenyamanan hidup bagi mereka.

Orang-orang asing yang banyak tinggal di Jerman itu kebanyakan orang Turki dan Vietnam, tak terkecuali Indonesia. Ada belasan ribu orang Indonesia yang tinggal di sana, dan semuanya rata-rata mendapatkan fasilitas yang cukup dari Pemerintahan Jerman. Apalagi setelah terjadinya Arab Spring, banyak juga para pengungsi dari negara-negara Timur Tengah yang tinggal di Jerman, meski merekapun rentan berpotensi melakukan kegiatan terorisme di sana.

Semua yang saya gambarkan di atas merupakan bukti bahwa aslinya orang-orang Jerman itu sangat gentle, ramah dan terbuka. Mereka mudah percaya dan berpikir positif pada orang asing, asal jangan sesekali menghianati kepercayaannya. Karena sekali dikhianati, mereka akan susah memberikan kepercayaannya lagi. Lalu bagaimana ceritanya Jerman hingga 'dikeroyok' oleh banyak negara dalam Perang Dunia I dan II? Apakah tidak kontradiktif dengan penjelasan saya di atas

Begini menurut pandangan saya:

Orang-orang Jerman atau Pemerintahan Jerman memang gentle, ramah dan terbuka, namun itu hanya untuk persoalan dalam negerinya sendiri. Namun ketika Jerman sudah menampilkan kebijakan politik luar negerinya, mereka akan berubah menjadi sebaliknya, licik penuh tipu muslihat dan horor.

Banyak negara yang "dikadalinya" tak terkecuali Indonesia. Pernahkah kalian mengingat bisnis daur ulang sampah Jerman dengan Indonesia menjelang akhir kekuasaan Soeharto sekitar tahun 1995-an? Kapal-kapal perang eks Jerman Timur yang sudah menjadi sampah disuruh beli oleh Indonesia, padahal kapal itu sudah tak terpakai semenjak akhir Perang Dunia II. 

Yang terjadi kemudian, ketika kapal-kapal perang itu dibawa pulang oleh Angkatan Laut kita, ada beberapa yang tenggelam. Dan untuk merenovasi kapal-kapal lainnya yang selamat, dibutuhkan dana yang nyaris sama dengan membeli kapal perang baru.

Demikian pula dengan bisnis sampah, benar-benar sampah Jerman dengan Indonesia. Jerman yang saat itu mulai kebingungan membuang sampahnya yang tersebar di sana karena luas Negara Jerman jauh lebih kecil dari luas Negara Indonesia, disuruh dibawa ke Indonesia. Padahal di Indonesia sendiri saat itu juga sudah menumpuk banyak sampah. Mereka mengatakan di Indonesia sampah itu bisa didaur ulang hingga bisa menjadi bahan baku barang-barang yang antik. Lucunya, ketika sampah itu berhasil dibawa ke Indonesia, Pemerintahan Soeharto tidak memiliki alat atau mesin daur ulang yang memadai, sehingga Jerman menawarkan alat-alat atau mesin-mesin daur ulangnya dan Indonesia harus membelinya.

Sampah menumpuk dan menggunung di pelabuhan-pelabuhan besar Indonesia kala itu, dan yang terjadi kemudian Indonesia hanya bisa menikmati pencemaran polusi udara dari sampah-sampah yang menggunung yang diimport dari Jerman itu. Ini beberapa contoh liciknya politik luar negeri Jerman yang berhubungan dengan perdagangan peralatan perang dan sampah, belum lagi hal-hal yang lainnya. Juga bisa dikatakan pula, itu sebuah contoh, betapa bodohnya Pemerintahan Orde Baru Soeharto di masa lalu.

Sekarang mari kita tembus lagi kabut politik luar negeri Jerman dengan lebih serius, yakni dalam hal keterlibatannya sebagai konspirator besar negara-negara penyokong organisasi teroris dunia, Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS).

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa berdirinya ISIS tak luput dari Amerika dan NATO, yang di dalamnya ada negara Jerman, Inggris dan Prancis telah ikut andil dalam pendiriannya dan pemasok senjatanya. Organisasi ini telah sukses memporak-porandakan beberapa negara di Timur Tengah. Dan Amerika bersama sekutunya NATO yang di dalamnya ada negara Jerman itu, tentu sangat menikmati keuntungan bisnis perdagangan senjata dan minyak mentah dari negara-negara yang dilanda perang saudara tersebut.

Hillary Clinton, salah seorang kandidat Presiden Amerika yang kalah sebelum pertarungan antara Trump versus Biden, pernah terang-terangan menyatakan hal itu, hingga dunia dibuat terperangah oleh pengakuannya.

Oleh sebab itu, saya ingin semua teman-teman yang kemarin mendengar klarifikasi dari pihak Kedutaan Jerman perihal kedatangannya ke markas FPI dan kemungkinan keterlibatan Pemerintahan Jerman dalam dukungannya kepada FPI, haruslah disikapi secara hati-hati atau penuh kewaspadaan. Orang-orang Jerman pada dasarnya memang gentle, supel dan ramah, namun jika sudah berkenaan dengan politik luar negeri Jerman, kita harus waspada.

Negara-negara seperti Inggris, Belanda, Chekoslovakia, Hunggaria (dalam Perang Dunia) pernah hancur oleh serangan Jerman. Lalu yang terakhir negara Irak, Tunisia, Libya, Yaman, Suriah, dan lain-lain (dalam peristiwa Arab Spring), sudah pernah remuk karena konspirasinya dan tipu muslihatnya Jerman bersama NATO dan Amerikanya. Jangan sampai kemudian negara kita Indonesia menjadi korban terakhirnya. Kita perlu terus mengikuti dengan cermat perilaku politik luar negeri Negara Jerman tanpa harus bereaksi berlebihan sebelum kita menemukan pembuktian baru yang mengarah pada keterlibatannya mendukung FPI dan organisasi lainnya yang berpotensi mengacaukan Indonesia. Semoga Bangsa Indonesia terselamatkan!

***

(Penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat HARIMAU PERUBAHAN)

Komentar