Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

ANALISIS MILITER Mengenal Jet Tempur T-50i Golden Eagle 21 Dec 2015 00:49

Article image
Jet tempur taktis ringan T-50i Golden Eagle TNI-AU. Yang bercorak biru-kuning seperti di gambar dipakai pula untuk
Berperan sebagai pesawat latih tempur dan jet tempur taktis ringan, T-50i diklaim termasuk "generasi 4+". Salah satu cirinya mampu menyerap gelombang radar, tidak memantulkannya kembali ke pihak lawan.
Oleh: Valens Daki-Soo*
 
 
INSIDEN jatuhnya pesawat jet tempur T-50i Golden Eagle milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) di kawasan Lanud Adisutjipto Jogya, Minggu (20/12) ibarat mendung yang mendadak menggantung di langit cerah dirgantara Indonesia. Betapa tidak. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sudah menyatakan akan terus meningkatkan kekuatan militer Indonesia, baik dari segi kesejahteraan prajurit, peningkatan kemampuan dan profesionalisme prajurit, maupun pemerkuatan alat utama sistem kesenjataan (Alutsista).
 
Bahkan Presiden Jokowi pun menegaskan berulang kali komitmen pemerintah untuk memberikan lebih banyak perhatian bagi peningkatan postur pertahanan negara ini. Menindaklanjuti amanat Kepala Negara tersebut, Panglima TNI pun mengungkapkan akan menambah Alutsista TNI termasuk Angkatan Udara, sebagai bagian dari upaya mencapai terwujudnya Minimum Essential Force (MEF) pada 2024.
 
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriyatna mengelaborasi, antara lain, TNI-AU -- melalui Kemhan sebagai institusi yang berwenang melakukan pembelian -- akan mendatangkan jet tempur tercanggih dari "generasi 4++" Sukhoi Su-35 buatan Rusia yang bakal memancarkan efek gentar (deterrent effect) kuat di kawasan regional, pesawat angkut pengganti Hercules yang uzur, helikopter serbu, heli angkut berat hingga pesawat amfibi Beriev yang selain untuk kepentingan militer, juga berguna untuk SAR dan pemadaman kebakaran berskala massif. Sesuai anggaran yang tersedia, pengadaan segala mesin perang dilengkapi arsenal berupa rudal dan persenjataan lainnya akan berlangsung secara bertahap 2016-2019.
 
Namun, di tengah rencana dan ikhtiar untuk memperkuat Alutsista itu, kita dikejutkan dengan kehilangan dua penerbang andal, Letnan Kolonel (Penerbang) Marda Sarjono dan 'back seater' Kapten (Penerbang) Dwi Cahyadi, yang gugur bersamaan dengan jatuhnya sebuah jet T-50i di Jogya. Setelah melakukan solo aerobatic dalam rangka acara Gebyar Dirgantara, pesawat mereka jatuh dan terbakar. Setelah kehilangan dua penerbang tempur muda dan sebuah jet latih tempur itu, salah satu pertanyaan muncul: apakah T-50i Golden Eagle dapat diandalkan? Bahkan ada pertanyaan pula, apakah perlu semua armada T-50i di Skadron 15 yang bermarkas di Lanud Iswahyudi Madiun itu perlu di-grounded dan diperiksa ulang? Pihak TNI-AU menjelaskan, sebuah tim investigasi akan segera bekerja dibantu produsen pesawat tersebut dari Korea.
 
Berbeda dengan jet tempur F-16 "bekas pakai" refurbished Angkatan Udara Amerika Serikat yang di-upgrade setara Block 52ID dan dibeli dengan skema hibah senilai US$ 700 juta (setelah upgrade rangka, sistem avionik dan berbagai perangkat baru lainnya) pada era Presiden SBY, 16 pesawat T-50i dibeli dari Korea -- juga pada masa pemerintahan SBY -- sebagai produk yang benar-benar baru.
 
Kedatangan 16 unit atau satu skuadron pesawat tempur T-50i Golden Eagle untuk memperkuat matra udara TNI merupakan salah satu momen penting dan memberi harapan. Jika biasanya penyerahan pesawat terbang atau arsenal baru kepada militer Indonesia berlangsung pada tingkat menteri saja, namun kedatangan dan serah-terima T-50i disaksikan langsung oleh Presiden SBY didampingi Menhan dan para petinggi TNI.
 
Latih Tempur dan Tempur Taktis Ringan
 
T-50i Golden Eagle dibuat Korea Aerospace Industry bekerja sama dengan Lockheed Martin dari AS. Pesawat itu hadir sebagai buah pelaksanaan kontrak yang ditandatangani pada 25 Mei 2011 dengan nilai kontrak US$ 400 juta. Bentuknya cukup perkasa. Meski lebih kecil, Golden Eagle mirip dengan F-16 Fighting Falcon, jet tempur lincah yang sudah terbukti perkasa di berbagai palagan. Kemiripan rancang bangun Golden Eagle dengan F-16 mungkin dikarenakan Lockheed Martin juga dikenal sebagai produsen F-16, dengan mengambilalihnya dari General Dynamics.
 
Skuadron Golden Eagle dibeli untuk menggantikan Hawk Mk-53 di Skuadron Udara 15, yang berbasis di Lanud Iswahjudi Madiun, Jawa Timur. Seperti Hawk, Golden Eagle termasuk tipe jet latih tempur untuk melatih para pilot andal TNI-AU sebelum mereka beralih ke jet "tempur berat" seperti F-16 dan Sukhoi. Namun, jika dilengkapi persenjataan memadai, Golden Eagle juga dapat berperan sebagai jet tempur taktis ringan. Oleh produsennya, Golden Eagle diklaim termasuk "generasi 4+". Salah satu ciri pesawat dari generasi ini adalah kemampuan menyerap gelombang radar, jadi tidak memantulkannya kembali ke pihak lawan.

Mulanya TNI-AU sempat mempertimbangkan kompetitor utama Golden Eagle, yakni Yakovlev Yak-130 Mitten (Rusia), Aermacchi M-346 (Italia), dan L-159 buatan Ceko. Pilihan akhir jatuh kepada Golden Eagle walaupun TNI-AU sempat kuat melirik Mitten yang dikenal tangguh.
 
Selain fungsinya untuk pendidikan pilot tempur dan tempur taktis ringan, Golden Eagle juga dijadikan pesawat tim aerobatik pancar gas TNI-AU berlabel Jupiter Aerobatic Team. Sebelumnya TNI-AU telah berulang kali memiliki tim aerobatik yang kepiawaiannya mengagumkan, tak kalah dibanding negara-negara terkemuka lainnya. Salah satunya bernama sama, tetapi memakai tipe pesawat KT-1B Wong Bee yang bermesin turboprop.
 
Oleh karena merupakan pendatang baru di dunia penerbangan militer, performa Golden Eagle mungkin belum dikenal secara baik atau belum cukup teruji. Oleh karenanya, pasca insiden Jogya tersebut memang perlu dilakukan investigasi menyeluruh.
 
Kita berharap, ke depan dapat lebih diminimalisasi potensi dan kemungkinan insiden serupa. Selain kerugian material akibat berkurangnya salah satu jenis Alutsista andalan, yang paling utama adalah kita kehilangan para penerbang atau prajurit terbaik.
 
 
* Penulis adalah pengamat militer