Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

GAYA HIDUP Mengenal Pernikahan Tanpa Cinta 16 Oct 2018 19:35

Article image
Foto: Ilustrasi pasangan yang tidak saling berkomunikasi
"Keinginan untuk tidak hidup berdampingan dengan baik, identik dengan kebencian. Banyak pasangan kurang memahami cara melalui masalah dalam rumah tangga. Hal itu bisa hadir karena kurangnya waktu bersama dan hilangnya kasih sayang," papar Zamore.

WASHINGTON, IndonesiaSatu.co-- Pernikahan tanpa cinta tentu menjadi tantangan besar untuk dijalani oleh setiap pasangan yang hendak dan akan menjalani hidup selama bertahun-tahun.

Hal tersebut bukan hanya terjadi karena pernikahan yang dipaksakan karena perjodohan orang tua, namun dapat juga terjadi pada pasangan yang sudah saling mencintai tetapi lantas kehilangan rasa saling memiliki dan ketertarikan untuk mempertahankan hubungan.

Pakar hubungan asmara, Jenna Ponaman mengatakan bahwa pernikahan tanpa cinta adalah pernikahan karena kebutuhan atau keinginan.

“Perkawinan semacam ini ditopang karena takut; baik takut gagal, takut harus memulai dari awal atau takut sendirian. Banyak pasangan yang menikah karena alasan ketakutan tersebut. Maka tidak heran jika masalah serius mengintai kehidupan mereka setelah pernikahan,” ucap Jenna.

Agar setiap pasangan lebih peka dan terhindar dari hal ini, berikut tanda-tanda pernikahan tanpa cinta dan cara mengatasinya.

Pertama, merasa terlalu nyaman. Pasangan memutuskan untuk hidup bersama karena hanya masalah kebiasaan. Mereka tidak dapat membedakan, apakah keputusan mereka untuk hidup bersama karena ketertarikan seksual atau sekedar ikatan persahabatan.

"Beberapa pasangan hidup seperti persahabatan yang nyaman, tapi bukan karena gairah," papar Rachel Zamore, terapis pasangan. Zamore menyarankan agar mereka yang mengalami masalah semacam itu untuk membangkitkan kembali gairah tersebut.

Kedua, tidak ada ketergantungan. Orang lain mungkin menganggap kehidupan pernikahan kita bahagia dan penuh cinta. Nyatanya, saat berada di rumah, kita menjalani kehidupan sendiri-sendiri. Hubungan yang terjadi tidak lebih seperti teman sekamar daripada pasangan. Ini adalah tanda peringatan pertama tentang hilangnya rasa cinta dalam pernikahan.

Ketiga, pasangan tak lagi menarik. Jika pasangan kita tidak lagi menarik bagi kita, atau jika kita kehilangan upaya untuk mengubah hal-hal menjadi berbeda, kita mungkin telah terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini.

"Kita berada dalam pernikahan tanpa cinta saat kita merasa enggan, bahkan hanya sekadar mengatakan cinta pada pasangan," kata Ponaman. Menurutnya, ini terjadi karena kita tak merasakan motivasi untuk membuat pernikahan berjalan baik. Kita hanya memikirkan hal-hal yang semestinya terjadi tanpa berusaha dan tanpa melakukan intropeksi serta melakukan hal untuk memperbaikinya.

Keempat, selalu merasa benar dan mulai membenci pasangan. Orangtua merupakan titik dalam pernikahan yang menentukan pertumbuhan anak. Namun, stres dan komitmen membesarkan anak juga dapat menyebabkan miskomunikasi, bahkan kebencian. Jika terus dibiarkan, ini akan menyebabkan prahara dalam rumah tangga.

"Keinginan untuk tidak hidup berdampingan dengan baik, identik dengan kebencian. Banyak pasangan kurang memahami cara melalui masalah dalam rumah tangga. Hal itu bisa hadir karena kurangnya waktu bersama dan hilangnya kasih sayang," papar Zamore.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan saat terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Para ahli setuju jika hal pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki komunikasi. Cobalah dan bicarakan satu sama lain tentang hal-hal yang membawa kita dan pasangan untuk kembali saling mencintai. Entah itu dengan mengingat momen saat kencan pertama atau mengunjungi tempat saat pertama kali bertemu. Luangkan waktu untuk hal-hal seperti kencan atau hal-hal yang membawa spontanitas dan kegembiraan kembali ke dalam pernikahan.

--- Guche Montero

Komentar