Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

TAJUK Menggali Pancasila (1 Juni 2018) 01 Jun 2018 10:15

Article image
Pancasila, sebagai dasar dan ideologi Negara. (Foto: Ist)
Pancasila memiliki ciri keluasan dan kedalaman: Keluasannya seluas alam pikiran pikiran filsafat bangsa Indonesia; dan mempunyai kedalaman pengertian sedalam jiwa dan hasrat sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia.

SOEKARNO dalam berbagai kesempatan kerap mengatakan dirinya adalah "penggali Pancasila", bukan "pencipta Pancasila" atau "pembuat Pancasila". Untuk "menggali Pancasila", Soekarno mengaku bertafakur dan menyelami sejarah bangsa Indonesia lapis demi lapis, bahkan hingga zaman pra Hindu. Ia menembus endapan pergumulan sejarah bangsa, serta menggali kekayaannya.

Dalam pidatonya pada 1964 mengenang "malam spiritual" penggalian nilai-nilai Pancasila 31 Mei 1945, Soekarno bersaksi:“Saudara-saudara, setelah aku mengucapkan doa kepada Tuhan ini, saya merasa mendapat ilham. Ilham yang berkata: Galilah apa yang hendak engkau jawabkan itu dari bumi Indonesia sendiri. Maka malam itu aku menggali, menggali di dalam ingatanku, menggali di dalam ciptaku, menggali di dalam khayalku, apa yang terpendam di dalam bumi Indonesia ini, agar supaya sebagai hasil dari penggalian itu dapat dipakainya sebagai dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang akan datang.”

Maka jika kita membaca Pancasila, yang dihadirkan Soekarno bagi bangsa Indonesia hari ini, Pancasila adalah denyut nafas bangsa. Digali dari jantung perjalanan bangsa, Pancasila sebagai “pandangan hidup” (weltanschuung), “dasar Negara” (philosphische grondslag), serta ideologi merupakan intisari perenungan dan “titik “persetujuan” bangsa (common denominator). Lima sila Pancasila menjadi kristalisasi tenunan kebudayaan dan pengalaman bertahun-tahun sejarah bangsa.

Ketika menguraikan pidato monumental pada I Juni 1945 di hadapan sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Soekarno berujar: “Philosophische Grondslag itulah fundamen (fondasi), filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.”

Kata “sedalam-dalamnya” menunjukkan bahwa Pancasila memiliki kekayaan makna dan nilai yang perlu digali secara terus-menerus. Kedalaman hasrat, jiwa dan filsafat Pancasila menunjukkan: Pancasila lebih luas dan lebih kaya dari paparan Soekarno ataupun studi akademis tentang Pancasila!

Pancasila memiliki ciri keluasan dan kedalaman: Keluasannya seluas alam pikiran pikiran filsafat bangsa Indonesia; dan mempunyai kedalaman pengertian sedalam jiwa dan hasrat sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia.

Ciri keluasan dan kedalaman Pancasila ini menolak upaya pembacaan tunggal atau pembenaran ideologis terhadap Pancasila. Kita pernah mengalami era totalitarianisme pembacaan ideologi Pancasila demi melegitimasi kepentingan strategis pihak-pihak tertentu. Selain itu, pembacaan totalitarian atas Pancasila menolak ciri kedalaman dan keluasan Pancasila.

Makna Pancasila tidak dapat dibekukan, dituntaskan, dan dikurung dalam pemaknaan tunggal, tetapi harus senantiasia digali agar dipetik makna dan relevansinya di tengah deras kemajuan zaman. Namun, penggalian ideologi Pancasila dapat dijamin apabila demokrasi menjadi basis operasionalisasi.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar