Breaking News
  • Arus kendaraan Gerbang Tol Palimanan berkurang 29 persen
  • Ledakan truk minyak di Pakistan tewaskan ratusan orang
  • Nurul Arifin siap maju di pemilihan wali kota Bandung
  • Presiden Jokowi terima GNPF-MUI di Istana Merdeka
  • Wapres dampingi Presiden Jokowi open house di Istana

REFLEKSI Mengubah Politik dengan Integritas 21 Feb 2017 14:15

Article image
Tak mudah menjadi pribadi yang matang dan berintegritas tinggi, namun itu harus diupayakan oleh siapapun. (Foto: John Ankerberg Show)
Bukan politik yang mengubah para politisi, tetapi justru sebaliknya. Bukan politik yang merusak karakter, tetapi karakter-karakter yang jelek merusak politik.

Oleh Valens Daki-Soo

 

Kerap dalam politik atau saat 'berburu kekuasaan', orang bisa berubah menjadi seakan bukan dirinya sendiri. Mungkin Anda pernah berpikir tentang kenalan Anda yang politisi, "Orang ini tidak seperti yang saya kenal sehari-hari."

Rupanya politik (tepatnya, 'libido politik' alias hasrat mengejar kekuasaan) mampu mengubah karakter orang: menjadi lebih ganas, agresif, konfrontatif, juga sensitif dan defensif. Politik akhirnya menjadi rumah bagi kepentingan sendiri, karena di rumah itu berdiam hasrat kekuasaan yang selalu menuntut pemenuhan segera dan sebesar mungkin.

Pakar ilmu politik Peter Merkl menulis bahwa politik menjelma menjadi wahana perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan karena asas kepentingan sendiri. Imbasnya, orang mengubah diri untuk memenuhi tuntutan politik sehingga terjebak dalam pragmatisme dan 'karakter musiman'. Politik membuatnya melakukan penyangkalan diri terhadap integritas pribadinya.

Atau boleh jadi, politik justru bisa menyingkap diri sejatinya seseorang. Politik yang berorientasi pada hasrat berkuasa menampilkan sisi tersembunyi dari seseorang karena selama ini ditekan secara sengaja. Di sini diktum Abraham Lincoln, Presiden ke-16 USA sangat tepat dan relevan: "Jika ingin tahu karakter seseorang, beri dia kekuasaan."

Memang tak mudah menjadi pribadi yang matang dan berintegritas tinggi, namun itu harus diupayakan oleh siapapun, terutama politisi, jika dia ingin kehadirannya sungguh berarti seraya memancarkan kekuatan karakter dan kharisma pribadi.

Bukan politik yang mengubah para politisi, tetapi justru sebaliknya. Bukan politik yang merusak karakter, tetapi karakter-karakter yang jelek merusak politik, demikian kata Theodor Heuss. Oleh karena itu, politik berkaitan dengan daya ubah dan karakter para politisi. Integritas moral dan otonomi diri dapat dibangun untuk mengendalikan politik demi pemenuhan kemaslahatan publik (bonum commune).

Para kader muda, selamat berjuang menjadi nasionalis-negarawan yang mencintai negerinya dengan tulus hati, berpikir tentang -- dan berkarya untuk -- masa depan bangsanya. Itu lebih daripada (ke)banyak(an) politisi yang cenderung hanya berpikir dan menuntut "apa yang bisa saya dapatkan hari ini".

 

Penulis adalah penikmat psikologi, pemerhati politik dan militer, Chairman PT VDS, Pendiri & Pemred IndonesiaSatu.co

Komentar