Breaking News

REFLEKSI Menjadi Berkat Bagi Sesama 10 Dec 2018 16:54

Article image
Kita dapat menjadi berkat dengan cara yang sederhana. (Foto: Helpguide.org)
Benar, hidup adalah kesempatan untuk menjadi berkat. Sayang sekali kalau disia-siakan.

Oleh Valens Daki-Soo

 

KITA sering mendengar atau malah mengucapkan ungkapan ini, bukan? Menjadi berkat bagi banyak orang adalah tanda bahwa kita sendiri diberkati dan dipenuhi Daya Ilahi. Namun, bisa diartikan seperti apa saja ungkapan imperatif ini?

Ketika ditanya seorang sahabat tentang apa alasan atau tujuan saya menjadi calon anggota DPR RI, dengan ringan saja saya menyahut, "Mungkin saya bisa menjadi berkat bagi lebih banyak orang." 

Konkritnya, saya berharap bisa melanjutkan pekerjaan saya selama ini yang selalu terkait dengan upaya/kerja menjaga keutuhan NKRI secara lebih efektif. Lalu, tentu saja, saya bisa bikin dan bantu lebih banyak hal bagi lebih banyak sesama di NTT.

Menjadi berkat bagi sesama tentu tidak hanya diartikan dalam spektrum politik. Di bidang ekonomi Anda bisa menjadi berkat bagi sesama bila Anda membangun usaha atau bisnis yang melibatkan banyak pekerja. Anda berbagi peluang dan rejeki dengan sesama.

Secara sosial Anda menjadi berkat bagi sesama dengan sedapat mungkin selalu hadir dan terlibat dalam urusan bersama di lingkungan Anda. Atau membangun pergaulan yang sehat dan produktif, bukan relasi yang negatif dan menyakiti sesama. Anda menjadikan sesama sebagai subjek yang bermartabat.

Filsuf Prancis, Gabriel Marcel (1951), memiliki cara yang khas untuk menjelaskan pola relasi yang menjadikan seseorang sebagai berkat bagi sesama. Terdapat tiga jenis relasi yang dilakukan, dialami, dan dihadapi manusia. (1) Relasi Aku-Itu. Orang lain diperlakukan sebagai “Itu”; sebagai benda. Orang lain adalah objek semata sehingga tidak dihargai keunikan dan kekhasannya. Orang lain berguna bagi saya sejauh kehadirannya mendatangkan manfaat. Kita tentu secara tegas menolak pandangan ini karena akan mendatangkan kekerasan atau memungkinkan sikap jahat. Dalam hidup bermasyarakat, kita tidak boleh menganggap orang lain hanya sebagai objek pemuas kebutuhan ataupun objek kekerasan. Relasi ini membuat kita tidak menjadi berkat bagi sesama. Bahkan kehadiran kita melukai sesama.

(2) Relasi Aku-Engkau. Dalam relasi ini orang lain dianggap sebagai pribadi yang unik dan bermartabat. Setiap manusia membutuhkan keberadaan sesamanya tanpa kalkulasi untung-rugi. Karena itu, antara Aku-Engkau terjalin relasi saling membutuhkan, saling pengertian, dan solidaritas. Marcel mengatakan bahwa dalam relasi inilah terjadi relasi intimitas antarpribadi. Relasi itu melampaui ruang dan waktu. Karena relasi ini maka penderitaan sesama juga merupakan bagian dari air mata saya. Solidaritas seseorang terhadap teriakan para korban bencana alam, kekerasan antaragama, kekerasan struktural menjadi niscaya. Pada pola relasi ini, kita menjadi berkat bagi sama karena kesetiaan menjalankan kasih kepada sesama.

(3) Relasi Aku-Tuhan. Relasi Aku-Engkau dilakukan oleh manusia terbatas, maka kebahagiaan yang dihadirkan manusia tidak pernah sempurna. Relasi antar manusia tentu tidak sempurna. Keterbatasan itu membuka pada dimensi lain yang transenden yakni Allah sebagai kasih tanpa batas. Marcel percaya bahwa Tuhan menyempurnakan relasi manusia. Dalam diri Tuhan terdapat kerinduan abadi untuk menghapus air mata derita dan duka. Dia-lah Daya Ilahi yang menemani kita agar terus mampu menjadi berkat bagi semua orang.

Dari sisi psikologis, menjadi berkat bagi sesama boleh diterjemahkan dengan tindakan meneguhkan mereka yang menderita, menghibur orang yang berduka, mendukung sesama yang sedang mengalami "mental breakdown" (kehancuran mental). Kita bisa membaca tindakan ini sebagai perwujudan relasi Aku-Engkau Gabriel Marcel.  

Lebih sederhana namun juga bermanfaat dan indah adalah dengan menjadi pribadi yang ramah dan murah senyum. Dokter dan perawat di rumah sakit niscaya diberi pelajaran psikologi dan mereka jadi maklum bahwa penyembuhan orang sakit tidak hanya ditentukan obat (farmakoterapi) tetapi juga pendekatan psikoterapis. Orang sakit jadi lebih mudah nyaman dan senang yang mempercepat pemulihan, bila dokter atau perawatnya ramah dan murah senyum.

Seorang guru atau dosen menjadi berkat bagi (maha)siswanya jika dia selalu disiplin, antusias dan penuh dedikasi berbagi ilmu pengetahuan (sharing of knowledge) dan menanamkan nilai (transfer of values) di benak dan hati muridnya. Dalam dirinya tidak hanya berjejal teori-teori, tetapi ia dapat menerjemahkan misi emansipatoris ilmu pengetahuan. Ia menjadikan ilmunya tidak hanya diajarkan, tetapi memiliki keterlibatan kontributif dalam hidup bermasyarakat. Ia dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Menjadi berkat pun bisa berbentuk sepotong roti yang Anda berikan bagi sesama yang lapar. Menepuk bahu teman yang sedang galau, mengajak ngobrol sahabat yang tengah bermasalah, merangkul putri Anda yang patah hati, memeluk sang kekasih yang sedang "down" perasaannya, itu semua adalah bentuk berkat. Kita dapat menjadi berkat atas cara yang sederhana.

Jika Anda mengirim surat atau dalam era canggih sekarang mengirim pesan (SMS/WA) dan menelepon orang tua atau kerabat dengan kata-kata hiburan, Anda tengah menjadi tanda cinta atau berkat Tuhan bagi sesama.

Mengirim buah-buahan bagi tetangga yang sakit, membingkiskan kado bagi pacar yang berulang tahun juga sejenis berkat bagi sesama. Kita akan semakin disadarkan bahwa menjadi berkat adalah ketika menjadikan kebaikan sebagai imperatif/keharusan. Bahwa kebaikan tidak membutuhkan dokumentasi. Kebaikan mengajak kita berbuat tulus dan ikhlas bagi orang lain.

Pemikir Jerman, Immanuel Kant, menyebut keharusan berbuat baik itu sebagai imperatif kategoris. Artinya, melakukan kebaikan kepada orang lain tidak dapat ditawar. Kita wajib memperlakukan manusia sebagai subjek, karena ia memiliki martabat yang harus dihormati. Berbuat baik bukan imperatif hipotetis, karena hanya menjadikan kebaikan sebagai pilihan alternatif. Menjadi berkat bagi sesama bukan pilihan alternatif, tetapi kewajiban moral yang menuntut untuk ditunaikan.

Seutas senyum Anda yang tulus dari wajah cerah kepada sesama yang dijumpai mungkin sangat berarti bagi dia, dan karena itu jadi berkat untuknya.

Benar, hidup adalah kesempatan untuk menjadi berkat. Sayang sekali kalau disia-siakan.

 

Penulis adalah peminat filsafat, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar