Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

REFLEKSI Menjadi Caleg (Sebuah Pertanggungjawaban) 12 Sep 2018 15:39

Article image
Valens Daki-Soo, pendiri dan pemilik usaha VDS Group, calon anggota legislatif (Caleg) DPR RI PDI Perjuangan nomor urut 2 dari Dapil NTT I/Flores. (Foto: Ist)
Sekiranya saya dipercaya rakyat, saya mesti mendedikasikan hidup saya untuk menyerap dan memperjuangkan kepentingan mereka. Kalaupun tidak terpilih, saya akan terus bergerak maju di dunia bisnis sebagai pelaku usaha.

Oleh Valens Daki-Soo

 

MUNGKIN saya orang terakhir di PDI Perjuangan yang membereskan segala berkas dokumen terkait sebagai syarat menjadi calon anggota legislatif (Caleg) di level DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) NTT I (Flores dan sekitarnya). Sedemikian asyiknya saya bekerja di ranah bisnis, sampai saya nyaris lupa proses pendaftaran Caleg itu. Saya jadi ingat justru karena diingatkan Bung Willy Nuwa Wea di rumah Pak Gories Mere pada suatu acara, "Bung, sudah daftar atau belum?"

Saya balik bertanya, "Daftar apa ya?" Bung Willy langsung menyergah, "Hah, daftar caleg di partai. Ini malah sudah mau tutup beberapa hari lagi."

Keesokan harinya saya mendapat telepon dari salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan Dr. Andreas Hugo Pareira, "Ari (Adik), mau maju serius atau tidak? Pak Sekjen juga tanya ini."

Ringkas cerita, dalam kondisi masih belum sepenuhnya tergerak untuk maju, saya mendaftar di DPP partai kami, dan segala urusan administrasi dibantu staf saya, Bung Ryan Djogo. Akhirnya beres pada hari terakhir.

Sesungguhnya saya menghormati dan menganggap serius posisi politik seperti anggota DPR RI, sama seperti saya memandang jabatan-jabatan politik lainnya. Namun, karena satu dan lain hal, belakangan ini -- tepatnya beberapa tahun terakhir -- saya memilih "mengambil jarak" dari politik praktis dan mengaktifkan diri di area lain: bisnis di grup usaha yang masih kecil milik sendiri, selain jadi profesional yang dibayar bulanan sebagai konsultan media di sebuah grup usaha dan "konsultan umum" (baca: untuk keperluan apa saja) di sebuah grup usaha lainnya.

Aktivitas "tambahan" tapi juga sangat penting di mata saya adalah bekerja sebagai Tenaga Ahli Staf Khusus Presiden Bidang Keamanan & Intelijen.

Tentu saya melakoninya dengan bangga dan dedikatif karena saya amat mencintai NKRI.

Mengapa saya sempat "mengambil jarak" dari partai? Bahkan ketika ditunjuk menjadi Wakil Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Pusat PDI Perjuangan pun saya sempat beberapa kali menolak. Lagi-lagi peran senior seperti Pak Andre Pareira dan Pak Daryatmo (Kepala Badiklatpus PDI Perjuangan), saya akhirnya menerima.

Salah satu faktor adalah, pertama, saya kadang menganggap diri saya kurang cocok di politik praktis. Saya merasa cukup sulit untuk "berprinsip begini, bertindak lain". Pendeknya, saya kuatir kepribadian saya jadi terpecah karena di dunia politik sering kita harus "lain di mulut, lain di hati". Ada jarak atau diskrepansi antara pikiran dan perbuatan. Saya kuatir pula, saya ikut terseret dalam arus besar pembusukan politik yang masif di Senayan (kalau misalnya jadi anggota DPR RI).

Kedua, tak dapat dipungkiri adanya dekadensi atau degradasi alias penurunan citra DPR di mata publik. Berbagai hasil survei menyebutkan TNI sebagai lembaga yang paling dipercaya rakyat (dewasa ini), sementara DPR ada di posisi belakang entah keberapa, saya lupa. Apakah bisa kita berbuat sesuatu yang beda, misalnya jujur-lurus-tegas-berani, di lingkungan yang sudah begitu tercemar atau polutif? Dapatkah kita mampu mengambil risiko berbeda dengan banyak orang lain dalam hal-hal yang prinsipil? Sanggupkah kita lebih mengutamakan kepentingan nasional Indonesia tercinta ketimbang kepentingan-kepentingan sempit dan jangka pendek kekuasaan? Mampukah kita tetap berpikir, bertutur dan berbuat secara koheren dan mempertahankan kepribadian yang utuh (integral) di tengah situasi-kondisi yang kusut-masai?

Anda dapat menambahkan lebih banyak litani pertanyaan reflektif-kritis.

Ketiga, saya belum mempunyai kekuatan uang yang memadai sebagai amunisi untuk bertempur di medan politik praktis. Saya mungkin sudah bisa membantu biaya beasiswa beberapa orang selama ini, sering juga ikut membantu pembangunan gereja dan masjid, namun untuk bertarung di ajang Pemilu yang butuh dana besar, saya pikir mungkin belum siap. Saya pebisnis yang baru menggeluti dunia entrepreneurship 5-6 tahun terakhir. Sebelumnya saya menjadi staf khusus beberapa pejabat tinggi baik Duta Besar RI maupun jenderal petinggi TNI Angkatan Darat dan Polri. Jelas sebagai staf khusus, saya tidak bisa menabung untuk berpolitik. Namun, saya bersyukur dengan posisi itu saya bisa membangun jaringan di berbagai lini, yang sekarang saya rasakan faedahnya, baik bagi diri sendiri maupun untuk membantu orang lain.

 

Sebuah Panggilan "Misi Suci"

Lalu, Anda mungkin bertanya, jika memang demikian, mengapa saya akhirnya mantapkan hati untuk ikut dalam kontestasi politik pencalegan?

Pertama, saya menyadari bahwa saya tidaklah sendirian. Masih banyak orang termasuk teman-teman politisi muda yang punya idealisme dan daya kritis. Masih banyak orang termasuk politisi yang memegang kuat prinsip dan nilai-nilai. Masih banyak orang termasuk politisi yang mencintai Republik ini sepenuh hati.

Kedua, saya menilai diri saya pecundang yang tidak ksatria jika lari dari tanggung jawab untuk ikut membenahi lembaga ataupun mengabdi bangsa lewat kepercayaan dan jalur ini. Tidak cukup saya menggelegarkan suara dalam orasi tentang NKRI, Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika di ruang-ruang diskusi, seminar dan ceramah. Jika mungkin, bersama teman-teman yang sevisi, alangkah baiknya saya ikut berjuang di jalan parlementer untuk kepentingan NKRI tercinta ini.

Ketiga, tatkala sedang menimbang-nimbang untuk ikut atau tidak dalam proses pencalegan, terdengar semacam suara batin bahwa (ber)politik adalah panggilan luhur dan "misi suci" pula, sama seperti panggilan hidup lainnya. Yang diperjuangkan dalam politik adalah kepentingan rakyat termasuk kemajuan dan kesejahteraan mereka. Tentu ini tidak mudah, ini bukan sekadar omongan hampa makna, melainkan sungguh-sungguh panggilan untuk secara total berbakti kepada bangsa dan negara tercinta.

Pada titik persimpangan inilah, saya memutuskan untuk terus melangkah maju. Sekiranya saya dipercaya rakyat, saya mesti mendedikasikan hidup saya untuk menyerap dan memperjuangkan kepentingan mereka.

Kalaupun tidak terpilih, saya akan terus bergerak maju di dunia bisnis sebagai pelaku usaha.

Apapun posisi atau kedudukan kita, tugas kita sesungguhnya bermuara satu dan sama: berbagi kebaikan untuk memuliakan Nama Tuhan dan menolong sesama.

 

Penulis adalah pendiri dan pemilik usaha VDS Group, calon anggota legislatif (Caleg) DPR RI Dapil NTT I dari PDI Perjuangan.

Komentar