Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

RESENSI Menjadi Kampiun Nilai 05 Sep 2016 18:29

Article image
Sang Pemenang Berdiri Sendirian (The Winner Stands Alone) (Foto: Ist)
Kita berjuang untuk sama sekaligus beda dengan orang lain. Sama supaya bisa diterima, beda agar bisa terlihat unik dan mampu menarik perhatian.

Judul               : Sang Pemenang Berdiri Sendirian (The Winner Stands Alone)

Pengarang       : Paulo Coelho

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun              : 2014 (cet. Ke-5)

Tebal               : 472 hlm

 

Oleh Agustinus Tetiro

 

Igor, seorang kaya raya dari Rusia, datang ke Festival Film Cannes. Dia datang membawa satu misi: mengirim pesan kepada istrinya yang tenggelam dalam festival tersebut. Bahwa, mereka berdua adalah cinta sejati. Perpisahan dan kekhilafan-kekhilafan dalam memilih sikap dan mengambil keputusan adalah hal-hal biasa dalam ziarah manusia yang makhluk berdosa tetapi tidak bisa dipaksa Tuhan ini. Kebebasan manusia memungkinkannya mencoba banyak hal, apalagi di sebuah suasana festival seperti ini.

Igor mengirim pesan yang kiranya membuat istrinya percaya bahwa Igor ada di sana: menjemputnya pulang ke Rusia dan mereka bisa mengulangnya dari awal lagi. Tidak murah, Igor melakukan hal-hal yang tidak bisa diterima oleh kemanusiaan, termasuk membunuh sebagai upayanya ‘memberi pesan’. Tidak selalu berhasil, beberapa percobaannya malah lewat begitu saja.

Cannes mulai terkenal ketika seorang gadis dengan nekatnya mengenakan bikini dan membiarkan banyak fotografer memotret dirinya. Itu cerita awal mula. Kini, di Festival Film Cannes, hampir semua orang ingin menjadi manusia paling terkenal. Foto sana-sini, nonton film-film dari seluruh dunia, hingga mencari muka dengan para produser yang mungkin saja merekrut mereka untuk bermain di film terbarunya.

Tidak hanya Igor, di Cannes ada gemerincing uang, pameran kekuasaan, dan pemujaan ketenaran. Orang-orang berduit datang untuk berpesta, mentraktir, hingga iseng-iseng mengajak gadis-gadis muda untuk sebuah kencan singkat yang anonim. Gadis-gadis manis yang (mengira) berpotensi menjadi bintang film besar juga berjuang merebut perhatian para tamu.

Para penguasa datang menunjukkan kekuasaan, biasanya tentang kuasa ekonomi dan finansial daripada kekuasaan politik. Hamid dari kekaisaran dunia mode Timur Tengah menjadi contoh terbaik. Sementara itu, aktris dari Amerika, Gabriella adalah contoh orang terkenal yang ingin lebih terkenal lagi, menjadi pesohor dengan impian sebagai pemeran utama film-film. Serta tokoh Yasmine, Miss Nyaris dalam merengkuh kesuksesan di Cannes.   

Kali ini, di tangan imajinasi Paulo Coelho dalam “Sang Pemenang Berdiri Sendiri” (The Winner Stands Alone), Festival Final Cannes dikisahkan tidak berjalan mulus, ‘tanda-tanda’ yang dikirim Igor dan orang-orang lain mulai meresahkan.  Ini pasti jadi pekerjaan ahli detektif kriminal Savoy. Tetapi, Savoy juga ingin kuasa, uang dan ketenaran. Tidak perlu heran, ini Cannes!

Paulo Coelho menceritakan dengan sangat detail euforia yang bisa didapat dalam setiap ajang Festival Film Cannes. Kita disuguhkan sebuah gambaran kehidupan mengenai perjuangan untuk merealisasikan mimpi. Entah itu mimpi sungguhan ataupun mimpi artifisial. Sialnya, mimpi-mimpi itu sepertinya diciptakan orang lain untuk kita dalam apa yang disebut sebagai industri dan bisnis.  

Karena sudah jatuh dalam industri dan bisnis, aktualisasi diri bisa dilihat kalau seseorang mampu membeli apa yang diiklankan, berpenampilan seperti para supermodel, dan menunjukkan kuasa seperti para penguasa. Semua hal bisa dibeli dan ditukar dengan uang, nama besar, dan kuasa. Orang-orang, juga kita, sudah tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan.

Orang-orang, juga kita, yang jatuh dalam dunia konsumeristis, berjuang sedemikian rupa supaya bisa tampil seperti orang-orang kebanyakan. Juga, pada saat yang sama, ingin berbeda. Pada perjuangan untuk menjadi sama dengan orang-orang top itu, orang-orang, juga kita, ingin diakui sebagai anggota kelompok, supaya tidak terlihat ketinggalan ataupun kolot. Kita juga ingin berbeda, supaya terlihat unik, nyentrik, dan tampil beda. Pada paradoks ini, sadar ataupun tidak sadar kita berada, bermain, dan hidup.

Namun, Paulo Coelho terlalu bisa ditebak kalau hanya jatuh ke cerita semudah ini untuk ditebak. Coelho melakukan hal yang menjadi kekhasannya, namun tetap unik untuk kisah ini. Orang-orang, juga kita, boleh pernah jatuh, boleh pernah salah, boleh pernah khilaf. Namun, pada suatu peristiwa, pada suatu momentum saja, kita dipanggil untuk pulang ke jalan yang benar.

Mimpi dan perjuangan untuk merealisasikan mimpi memang tidak mempunyai rumusan yang jelas. Orang-orang, juga kita, hampir pasti pernah salah mengidentifikasi dan memperjuangkan mimpi dan nilai-nilai kehidupan. Hingga, pada suatu saat, kita didefiniskan sebagai pemenang. Dan satu nota yang pasti: pemenang adalah dia yang sendirian, ya dirinya sendiri, masuk ke lorong-lorong gelap hingga tiba di menara cahaya, podium kampiun.

Jakarta, 5 September 2016

Penulis adalah Associate Producer di IDX Channel dan Kontributor IndonesiaSatu.co

Komentar