Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

RESENSI Menjemput Kematian Dengan Cinta 17 Oct 2016 16:29

Article image
Ilustrai Buku 'Rabu Rasa Sabtu' karya Aswendo Atmowiloto. (Foto: Ist)
"Kalau aku mati, aku tak bisa minta dikremasi. Atau dibuang ke laut atau dikubur biasa. Terserah, mati bukan milikku lagi..."

Judul Buku: Rabu Rasa Sabtu

Penulis: Arswendo Atmowiloto

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 03 Agustus, 2015

Tebal Buku: 240 Halaman

ISBN: 978-6020318806

***

NAMANYA tidak asing lagi di jagad sastra Indonesia bahkan ASEAN. Puluhan karya tangan yang ia tulis selalu membuat pembaca penasaran. Sosok Arswendo Atmowiloto memang unik seperti dalam novelnya Rabu Rasa Sabtu. Dari judul ini saja sudah membuat Anda bertanya apa maksud dari judulnya? Sebuah konflik tentang Ayang dan penyakitnya akan membawa kita hanyut dalam tulisannya. Setahun silam buku ini diterbitkan tidak menjadi basi jika kita bisa menghayati pesan-pesan dari novel ini.

Seperti cerita-cerita Arswendo sebelumnya, Rabu Rasa Sabtu membuat saya terhenyak dan kadang terisak. Arus khayalnya kali ini begitu liar. Hanya sedikit menggambarkan sikap tenang, mungkin untuk memberi waktu kepada pembaca biar bisa bernapas dulu sebelum alirannya makin gila. Makin ke ujung cerita, makin menyebalkan. Padahal diawali dengan hal biasa, cuma secuil penggambaran lelakon yang berkepribadian biasa saja tidak ada yang istimewa. Novel ini terdiri dari tiga bagian yang diberi judul begitu menarik. Bagian pertama “Aku mencintaimu, kalaupun kamu hanya separuh”, bagian kedua “Buaya putih”, bagian ketiga “Kematian dan kelamin itu kekuasaan Tuhan”.

Kisah seorang gadis bernama Ayang menderita kelainan batuk, sebenarnya karena dikutuk setiap kali dipeluk. Nasib Ayang benar-benar malang. Ia menderita. Setiap kali batuk satu giginya tanggal, hingga akhirnya ia ompong, pandangannya kosong. Setiap kata mengajak kata yang berdekatan, lalu ada kalanya bergenit menyaru sebagai puisi, atau berusaha membentuk kalimat. Misalnya bahwa Ayang sudah ditentukan umurnya-meskipun mati karena batuk kurang dramatis, dan ada lelaki yang suka menggendong, mencintainya, walaupun Ayang tinggal separuh. Barangkali itu terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu.     

Sikap cemas akan melahirkan banyak kecemasan berikutnya. Bahkan hal yang baik pun bisa mencemaskan. Pikiran cemas mengatakan biar saja Ayang melakukan apa saja karena umurnya tinggal sebentar lagi. Barangkali itu terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu. Dalam buku ini setiap kata mengajak kata yang berdekatan, lalu ada kalanya bergenit menyaru sebagai puisi, atau berusaha membentuk kalimat. Kita bisa melihat kegelisahan tersembunyi dalam petikan ini:

Kalau aku mati, aku tak bisa minta dikremasi.
atau dibuang ke laut atau dikubur biasa.
terserah, mati bukan milikku lagi.

Jalmo akan menyayangiku, walau aku hanya separo.
Untuk yang usianya tersisa enam bulan, ini tidak terlalu cepat.

Tiap fase cerita punya daya letupannya tak cuma sekali. Tiap letupan disambung sumbu pendek yang meski tak menggelegar namun membara dan bernyawa. Ledakannya bisa membuat orang gila, bahagia, atau berasa tanpa nyawa. Sesungguh cerita yang disajikan agak berat, tentang kematian. Namun Arswendo dengan cara pandang beda memberi tahu bahwa kematian sesuatu yang biasa dan alamiah tidak perlu ditakutkan. Begitu juga soal norma,  Arswendo pandai memutar logika. Seperti anggapan terhadap kelamin, soal cara menghadapi orang gila, penyebab manusia bisa sehat walafiat, atau menggauli orang sakit hampir sekarat, juga soal  cinta misalnya pada kalimat ini “Aku mencintaimu, kalaupun kamu hanya separuh”.

Menurut saya, perihal cara pandang penulis mengenai kemanusiaan dalam novel ini tak melenceng sama sekali dengan novel atau cerpen pak Arswendo sebelumnya.  Yang agak mengejutkan, kakek yang dulu sempat dibui itu kini berpuisi dan berselancar dengan rima kata. Sesuatu yang buat kita makin terhibur bukan hanya karena narasinya. Kadang memaksa, kadang mengeja. Meski alurnya maju-mundur, tapi banyak kisah kecil yang dihidangkan meski sesaat kemudian disudahi begitu saja. Mungkin penulis tidak mau pembaca terlalu kenyang dengan cerita-cerita yang tak penting, cuma boleh dicicipi sedikit, hanya penambah rasa, biar riwayat Ayang dan Jalmo terlahap semuanya, setidaknya jadi menu utama.

Saya rekomendasikan Rabu Rasa Sabtu bacaan ringan. Bukan cuma volume bukunya, tapi juga ceritanya. Novel Ini mengandung pesan bahwa kita hidup penuh ketidakpastian apalagi soal kematian yang datang menjemput tak terduga. Sekalipun ada beberapa penyakit yang bisa diketahui para Tim Medis tentang panjang-pendeknya usia, itupun tidak pasti. Jalani hidup dengan hari-hari penuh cinta, memberi cinta pada mereka yang sakit dan tak berdaya adalah sebuah kekuatan ikatan batin yang bisa memperpanjang usia manusia.

 

---Santisima Gama

Komentar