Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KEUANGAN Menkeu Sri Mulyani: Utang Pemerintah Digunakan untuk Sektor Produktif 24 Oct 2018 11:16

Article image
Menkeu Sri Mulyani. (Foto: Ist)
Pemerintah senantiasa menjaga agar risiko portofolio utang tetap terkendali, dengan berkomitmen untuk terus mendorong efisiensi pengelolaan utang, serta pemenuhan aspek kehati-hatian (prudent).

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Utang luar negeri Indonesia masih aman. Ia memastikan, pemerintah melakukan pengendalian utang dengan menjaga rasio utang dalam batas yang aman berada pada kisaran 30% terhadap PDB.

“Utang selama ini digunakan untuk sektor-sektor produktif dalam rangka mendukung pembangunan di sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pada konperensi pers Laporan 4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Membangun Manusia Indonesia Menuju Negara Maju, di Aula Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Selasa (23/10/2018) siang.

Tambahan utang periode 2012-2014 dan 2015-2017, jelas Menkeu, adalah Rp 799,8 triliun. Sementara pada periode sebelumnya dan tambahan di 2015-2017 mencapai Rp 1.329 triliun.

Namun pada saat yang sama, pada  periode 2012-2014 belanja infrastruktur hanya Rp456 triliun untuk 3 (tiga)  tahun, sementara sekarang belanja infrastruktur mencapai Rp904,6 triliun, atau naik 2 (dua) kali lipat.

Adapun  belanja untuk pendidikan dulu hanya Rp983 triliun untuk 3 (tiga) tahun, sekarang Rp 1.167 triliun, atau naik 118%. Belanja kesehatan juga naik dari Rp 146 triliun menjadi Rp 249,8 triliun atau naik 170%.

Sementara belanja untuk melindungi masyarakat miskin jelas produktif. Perlindungan sosial dulu, lanjut Menkeu, dulu hanya Rp 35 triliun. Sekarang ini di bawah Presiden Jokowi belanja sampai Rp 299,6 triliun, hampir 8 kali lipatnya.

Transfer ke daerah ada mandatori 25% untuk infrastruktur, 20% untuk pendidikan, 10% untuk kesehatan.  Jadi,  belanja transfer ke daerah yang dulu Rp88 triliun untuk berbagai belanja produktif ini, sekarang menjadi Rp 315,9 triliun.

“Jadi kalau membandingkan apple dengan apple, tidak hanya tambahan utang, tapi bandingkan untuk apanya,” ujar Sri Mulyani seraya menambahkan, bahwa utang hanya suplemen bukan yang utama, penerimaan perpajakan adalah yang menjadi backbone dari perekonomian kita.

Menkeu menegaskan, pemerintah senantiasa menjaga agar risiko portofolio utang tetap terkendali, dengan berkomitmen untuk terus mendorong efisiensi pengelolaan utang, pemenuhan aspek  kehati-hatian (prudent), dan  pemanfaatan  utang  secara  produktif,  sehingga  dapat berkontribusi optimal bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

--- Redem Kono

Komentar