Breaking News

TEKNOLOGI INFORMASI Menkominfo Johnny Plate: Indonesia Butuh Sekitar 123 Juta Digital Talent 05 Nov 2019 14:17

Article image
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI dalam Kabinet Indonesia Maju, Johny G. Plate. (Foto: CNN Indonesia)
Kepemimpinan Yesus yang melayani hendaknya menjadi spirit yang senantiasa menyuntikan energi baru bagi Johnny G. Plate dan jajarannya di Kemkominfo.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI dalam Kabinet Indonesia Maju, Johnny G. Plate mengatakan, saat ini Indonesia membutuhkan sekitar 123 juta digital talent atau tenaga kerja digital. Sementara Indonesia hanya mampu menciptakan 104 juta digital talent.

Johny mengatakan ini dalam misa Jumat Pertama (Jumper) di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sekaligus ungkapan syukur dari para sahabat  atas terpilihnya Johnny sebagai Menkominfo RI, Jumat (1/11/2019).

“Saat ini kita sedang bermigrasi dari dunia fisik ke dunia maya dalam bidang apa saja. Untuk itu dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidang teknologi informasi yang disebut digital talent. Saat ini Indonesia membutuhkan sekitar 123 juta digital talent dan kita hanya mampu menciptakan 104 juta digital talent. Masih ada kekurangan sekitar 9 juta digital talent dan itu harus dicari pada negara-negara lain yang menyediakannya,” ujar Johny.

Johnny mengajak seluruh ASN di lingkungan Kemkominfo untuk meningkatkan kerja sama dan kerja keras untuk menyiapkan digital talent yang dibutuhkan, bukan hanya jumlahnya tetapi juga kualitasnya.

“Mari kita bergandengan tangan dan mengerahkan seluruh energi serta sumber daya yang ada agar teknologi informasi yang kian canggih membawa manfaat bagi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegas Johnny

 

Servant leadership

Sementara itu RD. Dr. Rofinus (Roni) Neto Wuli dalam homilinya menekankan kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Menurut RD Roni, kualifikasi seorang pemimpin pertama-tama adalah kemauannya untuk melayani, bukan memerintah orang lain. Pemimpin tidak terbatas pada tugas instruksional, tetapi memberi dirinya secara total kepada organisasi yang dipimpinnya.

Romo Roni yang beberapa waktu lalu sukses mempertahankan disertasinya berjudul “Manajemen Konflik Berbasis Servant Leadership Pada Ordinariatus Castrensis Indonesia” di Universitas Negeri Jakarta, Selasa (1/10/2019) mengutip pendapat Robert K. Greenleaf. Pada tahun 1970-an, Greenleaf memperkenalkan konsep kepemimpinan yang melayani dalam bukunya berjudul Servant As a Leader.

Sejatinya, kata RD Roni, jauh sebelum Greenleaf, konsep servant leadership sudah diajarkan dan dihidupkan oleh Yesus Kristus, Sang Guru Agung.

 "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.  Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;  sama seperti Anak Manusia  datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani  dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang,” kata RD Roni mengutip nas Injil Matius, 20:25-28.

Ditegaskan RD Roni, kepemimpinan Yesus yang melayani tersebut hendaknya menjadi spirit yang senantiasa menyuntikan energi baru bagi Johnny G. Plate dan jajarannya di Kemkominfo dalam mewujudkan kemaslahatan masyarakat atau yang dalam konteks gereja Katolik disebut bonum commune (kebaikan umum).

RD Roni optimis Menkominfo Johnny G. Plate mampu melaksanakan amanah yang dipercayakan Presiden Joko Widodo. Pada hemat RD Roni, rekam jejak, perjalanan karir dan kompetensi serta dialectical skill yang sudah teruji selama ini akan menjadi jaminan bagi Johnny G. Plate dalam melaksanakan tugasnya.

Merespon ajakan RD Roni, Johnny mengatakan, kepemimpinan yang melayani adalah nilai universal (universal value) yang ditujukan kepada semua orang pada level jabatan atau posisi apapun, tidak ditujukan kepada orang tertentu.

Sebagai orang Katolik, lanjut Johnny, nilai universal yang diwariskan oleh Sang Guru Agung Yesus Kristus harus menjadi pijakan dan panduan dalam menghayati panggilan hidup agar menjadi berkah bagi yang lain.

Johnny menyadari bahwa tantangan yang dihadapi Kementerian yang dipimpinnya ke depan tidak ringan. Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat berdampak luar biasa dalam kehidupan manusia zaman ini.

--- Simon Leya

Komentar