Breaking News

PARIWISATA Menpar Batalkan Wacana Relokasi dan Penutupan Pulau Komodo 19 Sep 2019 20:53

Article image
Salah satu aset wisata di NTT yakni Pulau Komodo. (Foto: Ist)
“Harus ada kepastian, dan 2020 tetap bisa dibuka,” kata Menteri Arief.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Menteri Pariwisata (Menpar) RI, Arief Yahya memastikan Taman Nasional Pulau Komodo, Manggarai Barat yang menjadi salah satu destinasi wisata Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak akan ditutup bagi para wisatawan.

Masyarakat di kawasan ini juga tidak akan direlokasi sebagaimana wacana yang dilontarkan oleh Pemprov NTT.

“Sudah ada keputusan dari Tim Terpadu. Pertama, pulai Komodo tidak akan ditutup, dan kedua masyarakat tidak boleh pindah,” kata Arief seperti dilansir Okezone.com.

Hal itu dikatakan di sela Fokus Group Discoussion Satu juta wisatawan manca negara ke Destinsi Super Prioritas Borobudur melalui Pengambangan Aksesibilitas bandara YIA, di Terminal Penumpang Bandara YIA.

Tim Terpadu yang menangani ini dipimpin oleh Dirjen yang ada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Keputusan ini pun sangat dinantikan para pelaku wisata dan biro perjalanan wisata untuk memastikan promosi dan pemasaran paket wisata.

Selama ini, para pelaku sangat menantikan kepastian dari pemerintah terhadap akses wisata di Pulau yang memiliki hewan langka Komodo. Sejumlah operator tidak berani menjual paket wisata ke sana karena masih menunggu.

Dengan adanya kepastian ini diharapkan akan membawa angin segara bagi dunia pariwisata ke sana.

“Harus ada kepastian, dan 2020 tetap bisa dibuka,” terangnya.

Sebelumnya, pemprov NTT mewacanakan penutupan pulau Komodo untuk kunjungan wisata. Alasannya, untuk pengembangbiakan hewan ini dan menjadikan pulau Komodo sebagai kawasan konservasi.

Sayangnya, rencana ini pun banyak menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat. Hingga akhirnya dibentuk tim terpadu di bawah kendali kementerian LHK guna mengadvokasi kebijakan yang ada di pulau ini.

Keinginan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, menutup sementara Taman Nasional Komodo memicu polemik. Rencana tersebut dianggap akan berdampak pada pendapatan daerah, namun diklaim demi menggenjot populasi Komodo.

Otoritas taman nasional yang berada di bawah KLHK menyebut, saat ini tidak ada darurat populasi maupun ancaman lingkungan.

Beberapa penyedia jasa pariwisata khawatir bisnis mereka akan ambruk jika Taman Nasional Komodo benar-benar ditutup dalam jangka waktu panjang.

Di sisi lain, pemerintah lokal ingin wilayah yang berstatus situs warisan dunia versi UNESCO itu dapat didesain ulang. Mereka juga berharap meraih porsi pendapatan wisata yang lebih banyak.

Kepala Taman Nasional Komodo, Budhy Kurniawan, mengklaim manajemen pengelolaan yang digelar timnya berjalan tepat sasaran dengan populasi Komodo disebutnya masih dalam taraf aman.

Menurut Budhy, penutupan sementara yang diutarakan Gubernur Viktor hanyalah wacana dan tidak serta-merta bisa dilaksanakan.

--- Guche Montero

Komentar