Breaking News

INSPIRASI Menutup Lembaran Terakhir 21 May 2020 14:33

Article image
Alm. EP da Gomez. (Foto: ist)
Hidup EP da Gomez begitu melekat dengan buku. Dia sangat maniak membaca buku. Tak hanya isinya, nama pengarang pun dihafal, beserta warna sampulnya.

SENIN, 18 Mei 2020 siang kita dikejutkan berita duka berpulangnya EP da Gomez, politisi kawakan di Sikka. Berita duka ini seolah menyapu segala  hingar bingar di jagat media sosial di kalangan orang Maumere terkait wabah virus corona (Covid) 19 yang menulari 21 warga Kabupaten Sikka. Langit Sikka pun seketika mendung mengantar kepergiannya.

Hidup EP da Gomez begitu melekat dengan buku. Dia sangat maniak membaca buku. Dia bukan hanya mengetahui isinya, tetapi menghafal dengan pasti nama pengarang, serta warna kulit buku tersebut. Termasuk posisinya dalam rak perpustakaan pribadinya.

Pernah suatu ketika seorang teman diminta EP da Gomez untuk mengambil buku judul tertentu di rumahnya di Maumere. Sebelum teman itu menuju rumahnya, dia menjelaskan letak dan warna buku yang dimaksud. Begitu tiba di rumah ternyata yang semua informasi itu benar. Teman ini pun acungi jempol.

Selain buku, dia juga setiap hari konsisten membaca koran, terutama harian Kompas, majalah Tempo dan Intisari. Jika ada artikel yang dinilai penting, dia menglipingnya. Membaca telah senafas dengan hidupnya.

Kecintaannya ini sejalan dengan bakatnya dalam menulis. Bakat itu diasah dengan tekun dan disiplin sehingga dia mampu menulis dan menuangkan gagasan dengan runut, logis, lugas, bernas dan mudah dimengerti pembaca. Sudah 29 buku dan ribuan artikel yang ditulis. Ini adalah warisan yang tidak ternilai, sebab didukung data yang valid, dan pengalaman pribadi.

Bagi dia, berpolitik tidak cukup hanya berteriak di atas panggung atau beradu pendapat dalam ruang rapat. Berpolitik juga harus diwartakan kepada publik melalui tulisan yang diterbitkan di media massa. Hanya dengan menulis, gagasan yang dilontarkan diketahui masyarakat dan pembuat kebijakan dengan jangkauan yang lebih luas.

Lebih dari itu, perjuangan dalam gelanggang politik selalu diwarnai dengan perdebatan yang bermutu, bukan kekuatan massa. Debat berkualitas harus didukung dengan pengetahuan yang luas dan data yang akurat. Pengetahuan itu hanya didapat melalui membaca bacaan yang berkualitas.

Di gelanggang politik yang dibahas adalah upaya mewujudkan kesejahteraan umum. Di sana, tidak membahas soal kepentingan kelompok mayoritas atau kelompok kepentingan penguasa atau lain semacamnya. Karenanya, siapa yang mampu menampilkan pikiran dan gagasan yang bernas dan inovatif untuk kepentingan rakyat yang didukung data akurat akan dihormati, dan diterima.

Tidak mengherankan, dalam berbagai kesempatan, terutama saat berkumpul dengan anak muda, EP da Gomez selalu mengingatkan agar mencintai buku. Harus membaca buku! Dia meyakini semua orang dikaruniai bakat. Tetapi, hanya sedikit orang yang tekun memelihara, mengasah serta mengoptimalkan bakal itu bagi diri dan masyarakat luas. 

Jalan perjuangan

Keterlibatan lelaki kelahiran 2 Desember 1940 ini di panggung politik dimulai tahun 1961, saat baru berusia sekitar 21 tahun, setelah lulus dari SMA Syuradikara, Ende, tahun 1959, melalui Partai Katolik. Bahkan, sejak tahun 1965 dia sudah dipercaya menjadi anggota DPRD Sikka dari Partai Katolik.

Pengabdiannya itu berlanjut hingga masuk Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hasil fusi dari Partai Katolik, Parkindo, PNI dan sejumlah partai lainnya pada 11 Januari 1973. Di sinilah, perjuangan sesungguhnya dimulai.  Politisi asal Sikka yang mau terlibat dalam PDI semakin sedikit, menyisahkan Frans Seda, Ben Mang Reng Say dan VB da Costa di tingkat nasional,  Kanis Pari (Bung Kanis) seorang diri di Kupang, lalu di Sikka hanya FM Hekopung, OLM Gudipung, FX Babanong, Stefanus Wula,  Thomas Nining Pau, EP da Gomez, Nongbaba da Silva, dan beberapa orang lagi.

Selama Orde Baru, PDI dimana-mana diberangus. Hampir semua kabupaten di NTT, Golkar 100 persen dalam setiap pemilihan umum. Warga yang ingin menjadi pengurus PDI diintimidasi dan diancam penguasa bersama segala kekuatannya agar tidak melibatkan diri. Tidak heran, nyaris tidak ada warga yang berani terang-terangan untuk terlibat mengurusi partai politik.

Kampanye PDI di berbagai tempat dihalangi dengan sangat kasar dan brutal. Rakyat pemilih PDI dianiaya, rumah dilempari batu, diintimidasi dan dikucilkan oleh penguasa setempat. Bahkan, di wilayah tertentu, sejumlah warga mengaku memilih PDI, tetapi yang diumumkan petugas pelaksana pemungutan suara adalah Golkar 100 persen. Kecurangan begitu mengerikan.

Tantangan yang dihadapi sungguh berat. Pengorbanan yang diberikan sulit terhitung. Tetapi, mereka pantang menyerah. Intimidasi, ancaman, tekanan, hinaan, cemooh dan segala aksi represif lainnya dari penguasa dianggap sebagai risiko dalam perjuangan membela kebenaran dan keadilan.

Kuatnya tekanan rezim Orde Baru itu tidak mematikan semangat dan langkahnya bersama sekelompok kawanan banteng yang seide dan tahan memikul derita untuk terus berjuang dan membela rakyat kecil. Semakin ditekan, mereka semakin kreatif. Selalu mencari sejuta peluang untuk keluar dari tekanan agar terus berjuang dan menghidupi keluarga.

Konsistensi dan sikap pantang mundur itu membuat perpolitikan di Sikka berbeda warna dibanding kabupaten lain di NTT. PDI Sikka selalu mendapatkan kursi DPRD dalam setiap pemilu. Bahkan pada Pemilu 1987 meraih tiga kursi dan Pemilu 1992 dapat lima kursi.

Berbekal kecerdasan yang dimiliki didukung pengetahuan yang luas serta data yang akurat, wakil rakyat dari PDI ini mampu mewarnai dinamika perpolitikan di Sikka, dan menjadi mitra yang kritis bagi pemerintahan di bawah Bupati Laurens Say, Daniel Woda Palle, AM Konterius, hingga beralih ke masa reformasi. Itu sebabnya, Sikka selalu dianggap sebagai barometer politik di NTT. Salah satu yang memberi kontribusi  adalah EP da Gomez.

Ketika demokrasi yang diperjuangkan mulai mekar, Bung Kanis pergi selamanya pada 4 November 1987. Selepas Orde Baru tumbang, satu demi satu para pejuang dan petarung tersebut pun berpulang ke Pangkuan Ilahi, dan menyisahkan EP da Gomez seorang diri  berjuang bersama generasi baru yang mau berkorban dalam barisan itu. Dia seolah diberi tugas oleh teman-temannya untuk menulis lebih banyak buku dan artikel sebagai warisan tidak ternilai, mengingatkan generasi penerus agar dalam berpolitik utamakan kepentingan rakyat, dan jangan silau dengan uang serta harta. Berpolitik harus punya integritas! Harus punya prinsip moral!

Setelah pensiun dari anggota DPRD pada 2009, dia tidak pernah diam. Seperti judul salah satu bukunya bahwa hidup itu membaca, menulis dan berbicara, dia pun terus melakukannya hingga ajal menjemputnya pada Senin, 18 Mei 2020 pukul 13.45 Wita di Maumere. Ibarat buku, kini dia telah menutup lembaran terakhir dari sebuah dokumen tidak ternilai tentang Pejuang Demokrasi asal Sikka. Selamat berkumpul kembali dengan para pendahulumu. Tapi jangan interupsi lagi ya.

***

 

(Disadur dari tulisan obituari almarhum EP da Gomez oleh Jannes Eudes Wawa, Wartawan tinggal di Jakarta)

Komentar