Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

OPINI Merayakan Keberagaman 31 Mar 2017 13:26

Article image
RA Gayatri Wedotami MS. (Foto: Ist)
Mazmur 139 mengajarkan hal ini.. "Dan, anak yang mau pulang kepada Bapa, baru selangkah mau pulang saja Bapa sudah lari lebih cepat menyambutnya..." Ini juga ajaran al-Quran.

Oleh RA Gayatri Wedotami MS

 

KALAU sudah berbicara soal merayakan keberagaman, dan bukan sekadar lagi toleransi beragama seharusnya mengerti ini. Apalagi juga berbicara melampaui toleransi dan pluralisme yaitu universalisme, seharusnya tidak menggebyah uyah langsung membenci suatu kelompok keagamaan dan terbiasa mungkin dengan keberagaman keyakinan dalam agama. Bahkan dalam kontradiksinya sekali pun dengan yang kita yakini. Ini mungkin tidak mudah.

Seseorang mungkin perlu belajar ke berbagai rumah ibadah dan organisasi keagamaan serta kampus keagamaan. Mental kita diuji dengan paham-paham yang telah lama kita anut dan dianggap salah serta keliru oleh yang lain. Sekali lagi, barangkali ini tidak mudah.

Kalau sudah mengerti ini, kita tidak akan langsung membenci Wahabi tapi esensi apa dari yang mesti kita tentang dari Wahabi. Kalau misalnya soal spiritualitas mereka tidak tahlilan dan ziarah kubur, atau tidak shalawatan, terlalu ecek-ecek sekali untuk diributkan.  Orang NU sebaiknya tidak sombong dengan mengatakan jalan tasawwuf mereka yang muktabarah, yang lain tidak. Masalahnya,  saya sering sekali berjumpa dengan kroco-kroco NU yang seperti ini. Maupun kroco-kroco yang baru belajar Sufi: akhirnya jadi saling merendahkan hanya karena sanad silsilah dan metode spiritual yang digunakan berbeda-beda. Ini lucu sekali.

Kebetulan saya tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah yang Nyufi dan Kejawen yang Sosrokartonoan. Kakek nenek saya yang ikut kakek buyut saya yang Qadiri-Sufi ikut Muhammadiyah: kami semua asyik-asyik saja dengan tahlilan dan ziarah kubur, begitupun ayah saya malah jadi Mu-Su. Muhammadiyah Sufi juga. Hehehe. Kemudian, paman saya juga ikut Ahmadiyah. Tidak ada yang mengatakan dia dan istri dan anaknya bukan Islam. .

Begitu juga dengan Syiah. Ada hal-hal yangt tidak cocok dalam tradisi Syiah di tempat lain, tidak usah dibawa ke tempatnya. Tapi juga bukan berarti menyangkalnya. Syiah yang benar menurutku yah yang seperti Syekh Siti Jenar dan Haji Bektash Wali yang melokal dan mem-personal sekali (Bahasa mempersonal tidak ada di KBBI, yang pasti hahaha). Tapi hipokrit sekali "ngatain" Syiah anu salah karena mengutuk AUU padahal jelas-jelas ada secara internal di kelompoknya sendiri mengutuk AUU, atau mungkin dia memang belum tau atau tidak bisa berbahasa Persia. Teman-teman saya Sunni NU yang maqomnya sudah melampaui toleransi dan pluralisme saja sudah bisa menerima perbedaan seperti ini. Yang penting kan masih sama-sama cinta Muhammad.

Ada lagi: teman-teman aliran keagamaan Nusantara, aliran keagamaan sekuler, athe6is, agnostik, dan posmodernisme yang nyinyir luar biasa dengan kelompok-kelompok agama lainnya. Menggunakan istilah-istilah seperti agama impor-lah, tidak rasional-lah, dan lain-lain. Kalau tujuannya untuk mengeritik karena tidak sesuai dengan keyakinan dan pikiran kita, tidak masalah, apalagi untuk membuktikan argumentasi keyakinan dan pendapat kita. Tapi membenci dan menentang sampai merendahkan?

Saya tidak cocok dengan Kristenitas Evangelikal sama sekali, tapi saya bisa betah kok duduk melihat kebaktian mereka. Saya tidak cocok dengan spiritualitas mereka. Tapi, bukan berarti saya berhak merendahkan kemanusiaan mereka. Bahwa mereka manusia yang menempuh jalan spiritualitas mereka. Menentang mereka karena cara mereka berspiritualitas sangat kecil bagi saya. Juga, jika saya menentang spiritualitas sepupu saya yang Salafi yang pakai niqab. Menentang atau nyinyir hanya tentang fesyen dan diet/pola makanan. Itu tidak berhubungan sama sekali.

Selain itu kita juga jangan lupa ada kalanya atau bahkan banyak suatu kelompok keagamaan muncul dan berkembang karena direpresi atas keyakinannya/pendapatnya yang berbeda, lalu keluar dari komunitasnya dan menubuhkan kelompoknya sendiri. Ada Anglikan, Protestan dan Baptis. Ini contoh masa Abad Pertengahan. Sikh dan Bahai memutuskan menjadi agama sendiri. Ada agama Buddha dan Jain, juga menjadi agama sendiri. Ravidassia keluar lagi dari Sikh. Wahabi dan Salafi ada banyak varian. Syiah Ismailyah pecah lagi jadi banyak sekte. Juga, Syiah 12. Adanya Syiah London itu tidak bisa dilepaskan dari kenyataan represi atas perbedaan pendapat di Iran. Leluhur Daudiyah di Yunani memisahkan diri dari Balim Sultan yang berintiman dengan Ottoman. Semua ini adalah kenyataan sejarah karena spiritualitas tiap individu tidak bisa selalu dikompromikan satu sama lain.

Maka, buang-buang waktu saja jika menentang soal-soal perbedaan begitu. Jika Anda mentertawakan teologi seorang Syiah London mengenai superioritas Ali maka sama seperti mentertawakan teologi Wahabi tentang Tuhan di atas Arsy maupun teologi trinitas ala Evangelikal: semua itu sama seperti mentertawakan teologi kita anut sendiri. Betapapun atheisnya kita. Untuk iseng-iseng sambil ngopi tidak apa-apa, tapi fokus yang lebih penting: Menentanglah kalau suatu kelompok atau seorang individu melakukan kejahatan, kejahatan kemanusiaan, diskriminasi, ketidakadilan, penganiayaan, kekerasan, perbuatan amoral yang membahayakan jiwa dan atau nyawa manusia lain serta perampokan atau pencurian yang merugikan hajat hidup manusia banyak. Menentanglah kalau mereka-mereka mengkomporkan perpecah-belahan yang membawa kepada perang antar kelompok agama dann antar bangsa.

Anda yang berkemanusiaan menentang Raja Salman karena  tiraninya menzalimi kaum perempuan terutama buruh migran. Anda yang Syiah teriak-teriak Yazid Laknatullah saat Asyura bukan karena romantisisme sejarah tapi karena mengingatkan diri Anda untuk setia menentang karakter Yazid sebagai ikon tiran yang keji yang terus mewujud dalam kehidupan kita. Mengapa yang Syiah mengecam apa yang pernah dilakukan tiga khalifah, karakter dan sifat-sifat pengkhianatan kepada kebenaran dan pemujaan kepada kekuasaan serta keashobiyahan itulah yang harus dihapuskan dari diri suatu kemanuiiaan.

Anda yang Kristen menyebarkan ajaran Cinta Kasih bukan berarti mengampuni semena-mena manusia sehingga mereka leluasa berbuat dosa mengeksploitasi sesama manusia, sehingga Anda lupa esensi ajaran Yesus Kristus mengasihi kaum marjinal dan tertindas.

Allah,  Bapa di Surga, mengampuni manusia karena mengetahui isi hati manusia apakah ia sudah sungguh-sungguh bertaubat dan ingin berubah. Itu makna Doa Bapa yang dibacakan: kita mengampuni yang bersalah kepada kita karena kita ingin bertaubat dan Allah mengetahuinya, tapi kita tidak akan membiarkan orang sewenang-wenang zalim tanpa hukuman. Jika tidak mampu melawan dengan perbuatan, maka lawanlah dengan doa: yaitu melawan agar mereka tidak terus melakukan kezaliman. Inilah yang dimaksud dengan kutukan: supaya manusia lain dibentengi dari kezaliman mereka, dan mereka lemah serta bertaubat. Inilah kebencian yang sepatutnya. Mazmur 139 mengajarkan hal ini. Dan, anak yang mau pulang kepada Bapa, baru selangkah mau pulang saja Bapa sudah lari lebih cepat menyambutnya. Ini juga ajaran al-Quran.

Penulis adalah Ketua Badan Pelayan Aliansi Daudiyah, Sibghah dan Tekke Indonesia (ADiSTI)

Komentar