Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

REGIONAL Miris, Mayoritas TKI NTT di Malaysia Berstatus Ilegal 13 Sep 2017 14:07

Article image
TKI Ilegal asal NTT. (Foto: Kompas.com)
Kebanyakan TKI asal NTT yang dikirim ke Malaysia tidak memiliki dokumen lengkap termasuk pemalsuan dokumen dan identitas TKI. Hal itu mempersulit proses identifikasi saat TKI mengalami sakit, kecelakaan kerja bahkan kebanyakan yang meninggal dunia di Mal

KUPANG, IndonesiaSatu.co -- Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bekerja di Malaysia, umumnya tidak memiliki dokumen lengkap dan berstatus ilegal.

Kepala Badan Pelayanan, Penempatan, dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) NTT, Tato Tirang mengungkapkan, mayoritas TKI asal NTT yang bekerja di Malaysia tidak memiliki dokumen lengkap dan berstatus ilegal sehingga mempersulit prosedur pemulangan maupun pada saat TKI meninggal dunia karena sakit atau kecelakaan kerja.

"Kebanyakan TKI asal NTT yang dikirim untuk bekerja di Malaysia tidak memiliki dokumen lengkap termasuk pemalsuan dokumen dan identitas TKI. Hal itu mempersulit proses identifikasi saat TKI mengalami sakit, kecelakaan kerja bahkan kebanyakan yang meninggal dunia di Malaysia. Para TKI yang berstatus ilegal biasanya memilih 'jalur gelap' tanpa memikirkan keselamatan kerja saat tiba di Malaysia. Umumnya para TKI ini direkrut oleh calo dengan iming-iming gaji yang tinggi tanpa melalui prosedur yang benar," ungkap Tirang.

Dalam rentang waktu delapan bulan terakhir, sejak Januari hingga Agustus 2017, sebanyak 45 TKI asal NTT meninggal di Malaysia.

Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Balai Pelayanan Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kupang, Siwa, mengatakan bahwa 45 TKI yang meninggal itu berasal dari 14 kabupaten di NTT, sementara dua orang TKI bernama Elci dan Anton tidak diketahui daerah asalnya, hanya menyebutkan berasal dari NTT.

Para TKI asal NTT berasal dari kabupaten itu yakni Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Ende, Malaka, Kabupaten Kupang, Flores Timur, Sikka, Manggarai, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Timur, Nagekeo, dan Ngada.

"Total TKI yang meninggal di Malaysia sejak Januari sampai dengan akhir Agustus 2017 ini yakni 45 orang. Dari 45 TKI itu, hanya satu orang TKI yang legal dan berangkat melalui jalur resmi yakni Arni Kabnani yang berasal dari Kabupaten TTS. Arni diberangkatkan secara legal oleh PT Citra Bina Tenaga Mandiri. Sehingga setelah Arni meninggal, kepada ahli waris sudah diserahkan asuransi TKI sebesar Rp 80 juta," ungkap Siwa, Minggu (10/9/17)

Menurut Siwa, para TKI tersebut meninggal karena penyakit, kecelakaan kerja, dan juga akibat pendarahan saat melahirkan bagi para Tenaga Kerja Wanita (TKW).

"Sebagian besar mereka bekerja sebagai asisten rumah tangga dan pekerja di kebun sawit. Umumnya, mereka meninggal karena sakit atau kecelakaan kerja. Kami akan selalu siap menjemput dan memfasilitasi jenazah TKI yang meninggal, mulai dari Bandara El Tari Kupang hingga ke kediaman TKI yang meninggal," kata dia.

Selain data 45 korban TKI asal NTT yang meninggal di Malaysia hingga akhir Agustus, korban terakhir TKI yang meninggal pada awal September ini yakni Paulus Sani Kolin asal asal Lemanu, Solor Selatan kabupaten Flores Timur. Penyebab kematian Paulus karena kecelakaan kerja di Serawak, Malaysia.

Jenazah korban tiba di Bandara Frans Seda Maumere, Senin (11/9) siang sebelum diberangkatkan ke kediamannya di Solor Selatan.

 

--- Guche Montero

Komentar