Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

REGIONAL Miris, NTT Kembali Dapat ‘Kado’ Tiga Jenazah TKI dari Malaysia 22 Jun 2018 22:36

Article image
Foto: Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
Menurut data BP3TKI Kupang, sejak Januari hingga Juni 2018, sudah ada 43 jenazah TKI asal NTT yang meninggal di luar negeri dengan jumlah terbanyak yakni TKI yang bekerja di Malaysia.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Tiga jenazah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal di Malaysia, Jumat (22/6/18) tiba di Bandara El Tari Kupang.

Ketiga jenazah TKI yang meninggal di Malaysia tersebut yakni Laurensius Raja asal Kabupaten Ende, Rosana Mite asal Aimere, Kabupaten Ngada, dan Martha Mbatu asal Belo, Kabupaten Kupang.

Pelaksana Tugas Kepala BP3TKI Kupang, Siwa, sesuai rilis yang diterima media ini mengatakan bahwa jenazah ketiga TKI tersebut diterbangkan dalam satu pesawat.

"Jenazah ketiga jenazah TKI ini diterbangkan dengan menggunakan pesawat Garuda GA 438," ucap Siwa.

Ia menerangkan, jenazah Martha Mbatu asal Belo, Kabupaten Kupang langsung dibawa ke tempat asalnya di Belo didampingi petugas BP3TKI Kupang, GMIT, Koalisi Insan Peduli Buruh Migran serta Dinas Nakertrans Provinsi NTT. Sementara jenazah Laurensius Raja dan Rosana Mite, saat ini diinapkan di RSUD WZ Johannes Kupang.

“Rencananya, kedua jenazah asal Ende dan Ngada akan diterbangkan ke kampung halamannya melalui Maumere, Kabupaten Sikka, pada Minggu (24/6/18) dengan menggunakan pesawat Nam Air. Selanjutnya, perjalanan darat dari Maumere ke Ende untuk jenazah Laurensius Raja dan Maumere ke Airmere untuk jenazah Rosana Mite. Semua biaya ditanggung BP3TKI Kupang,” jelasnya

Siwa menerangkan, Laurensius Raja meninggal di Selangor, Malaysia pada Sabtu (16/6/18), karena sakit paru-paru. Sementara, Rosana Mite meninggal dunia pada Senin (18/6/18) di Klang Selangor, Malaysia juga karena sakit. Begitu pula Martha Mbatu meninggal pada Selasa (19/6/18) di Johor Bahru, Malaysia karena menderita sakit.

Menurut data BP3TKI Kupang, sejak Januari hingga Juni 2018, sudah ada 43 jenazah TKI asal NTT yang meninggal di luar negeri dengan jumlah terbanyak yakni TKI yang bekerja di Malaysia.

Ketua Satga Anti Human Trafficking Golkar NTT, Gabriel Sola mengatakan bahwa, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan BP3TKI Kupang dan elemen terkait untuk mengetahui prosedur perekrutan dan pengiriman TKI tersebut termasuk perusahaan pengirim dan perusahaan tempat kerja di Malaysia.

“Miris. Ini bencana untuk NTT jika terus mendapat kabar seperti ini. Jika tidak disikapi secara serius dan langkah konkrit dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat maupun elemen terkait, maka nasib TKI asal NTT di luar negeri terus memprihatinkan. Bencana kemanusiaan ini sudah nyata di depan mata, namun tindakan darurat hampir tidak pernah dilakukan. Kami yakin, ini juga bagian dari sindikat perdagangan manusia (human trafficking) di NTT,” kata Gabriel.

Ia menilai, di tengah momen politik menjelang Pilkada NTT, berita seputar kematian TKI akan berlalu begitu saja. Bahkan, menurutnya, faktor ekonomi dan ketenagakerjaan (lapangan kerja) di NTT menjadi problem serius dan bersifat urgen sehingga harus ditempatkan dalam skala prioritas.

“Wacana tentang program kerja untuk konteks NTT masih sebatas pembangunan fisik. Sementara yang dituntut adalah bagaimana membangun dan menyiapkan manusia NTT yang tidak lagi menjadi korban bisnis perdagangan manusia. Ini realitas miris dan bencana kemanusiaan akut di NTT,” tandasnya.

--- Guche Montero

Komentar