Breaking News

REGIONAL Miris, NTT Kembali Jemput Jenazah PMI ke-44 16 May 2019 23:07

Article image
Aksi Solidaritas Kemanusiaan dan Keadilan untuk korban TKI Adelina Sau di Kupang (Foto: gatra.com)
Menurut data PADMA Indonesia, mayoritas PMI asal NTT yang meninggal dunia di Malaysia umumnya adalah para pekerja non-prosedural (illegal).

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mendapat kiriman jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI), Benediktus Manek asal Desa Babulu, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, NTT.

Dikonformasi Direktur Lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia, Gabriel Goa, jenazah tiba di Bandara El Tari Kupang, Kamis (16/5/19) pukul 12.45 Wita dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 438. Selanjutnya, korban kelahiran 23 Oktober 1976 ini langsung di jemput oleh keluarga untuk dibawa ke kampung halamannya.

"Ini merupakan jenazah PMI ke-44 selama periode Januari hingga pertengahan Mei 2019," kata Gabriel.

Menurut Gabriel, pihaknya belum mengetahui secara pasti apakah Benediktus Manek merupakan PMI asal NTT yang bekerja ke luar negeri secara resmi (legal) atau tidak resmi (illegal). Meski demikian, pihak Konsulat Jenderal RI Kuching turut membantu pemulangan jenazah ke Indonesia.

"Mengenai penyebab kematian PMI itu, kami belum mendapat keterangan lebih lanjut. Namun berdasarkan surat keterangan Konjen RI Kuching nomor: KCH/0047/K/SKK/0519, tertanggal 15 Mei 2019, disebutkan bahwa penyebab kematian Benediktus Manek tidak diketahui karena keluarga tidak bersedia jenazah diotopsi," terangnya.

Korban Benediktus dikabarkan meninggal dunia pada 8 Mei 2019. Jenazah dibawa ke Indonesia melalui jalan darat ke perbatasan pada 14 Mei 2019. Pada tanggal 15 Mei 2019 jenazah dibawa ke Pontianak, Kalimantan Barat dan langsung ke Jakarta.

Surat keterangan yang ditandatangani Lucky Mugraha itu hanya meminta instansi terkait untuk memberikan kemudahan bagi lancarnya pemulangan jenazah ke Indonesia.

Mayoritas Korban Berstatus Illegal

Menurut data PADMA Indonesia, mayoritas PMI asal NTT yang meninggal dunia di Malaysia umumnya adalah para pekerja non-prosedural (illegal).

"Mayoritas pekerja yang meninggal umumnya dari mereka yang non-prosedural. Mereka ke Malaysia dengan modal nekat dengan harapan bisa bekerja di negeri Jiran itu baik karena ajakan keluarga yang pernah menjadi PMI maupun lewat perekrut (calo)," kata Gabriel.

Ia beranggapan bahwa para pekerja migran non-prosedural atau ilegal asal NTT itu  mengalami kesulitan besar dalam mengakses hak mereka antara lain berupa pelayanan kesehatan, pelayanan jaminan sosial ketenagakerjaan, dan jaminan hukum.

"Selain itu, para pekerja illegal juga tidak mendapat jaminan mendapatkan upah yang layak sesuai standar organisasi buruh internasional (ILO), jaminan pendidikan bagi anak-anak mereka serta hak-hak lainnya yang diatur dalam Konvensi ILO. Karena itu, ke depan calon pekerja migran asal NTT agar mengikuti jalur resmi yang sudah diatur dalam UU Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dan Pergub NTT," harapnya.

Diterangkan bahwa dalam UU dan Pergub NTT itu mewajibkan pekerja migran mengikuti pelatihan lewat Balai Latihan Kerja Luar Negeri dan mengurus resmi dokumen dan jaminan kerja melalui Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) serta melalui embarkasi NTT.

Gabriel mengharapkan agar pemerintah Provinsi dan pemerintah Kabupaten/Kota se-NTT, sungguh-sungguh mengoptimalkan secara profesional LTSA yang sudah dibangun.

"Ada LTSA di Tambolaka untuk melayani calon pekerja migran asal Sumba. Sementara LTSA di Kupang untuk melayani calon pekerja migran asal Pulau Timor, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Semau. Sedangkan LTSA di Maumere, kabupaten Sikka untuk melayani para pekerja migran asal Pulau Flores, Palue, Solor, Adonara, Lembata dan Alor," tandasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

--- Guche Montero

Komentar