Breaking News

REGIONAL Miris! NTT Kembali Terima Dua Jenazah TKI Malaysia 16 Feb 2021 20:44

Article image
Dewan Pembina Lembaga PADMA Indonesia, Gabriel Goa. (Foto: Ist)
PADMA Indonesia menyerukan agar negara wajib hadir untuk memberikan perlindungan dan jaminan hak-hak hidup bagi setiap WNI, terutama yang menjadi korban TPPO.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Nusa Tenggara Tumur (NTT) dan Keluarga Besar Flobamora kembali mendapat kiriman dua jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Malaysia.

Dua PMI itu diketahui bernama Yustika Ataplay (43 tahun) asal Alor yang meninggal di Tawau; dan AberlayInacio asal Desa Litamali, Kobalima, Malaka yang meninggal di Sandakan, Malaysia Timur.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia, Bapak Yudha, bahwa korban Yustika Ataplay langsung dikuburkan di Tawau karena kondisi tubuhnya tidak bisa dibawa pulang ke NTT.

Sedangkan jenazah Aberlay Inacio sedang diurus persiapannya untuk dibawa pulang ke Indonesia, dan Polda NTT sedang memproses dugaan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Perlindungan Negara

Lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia, kepada media ini, Senin (15/2/2021), menyerukan agar negara wajib hadir untuk memberikan perlindungan dan jaminan hak-hak hidup bagi setiap WNI, terutama yang menjadi korban TPPO.

Dewan Pembina Lembaga PADMA Indonesia, Gabriel Goa, menyoroti masalah laten TPPO di NTT yang terus terjadi;

Pertama, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja keras tanpa pamrih dari BP2MI dan Kemenlu RI beserta Perwakilannya di Malaysia, yang terus berkoordinasi aktif dengan kami dan keluarga serta jaringan di Malaysia dan NTT untuk menolong PMI asal Indonesia, khususnya NTT.

Kedua, mendukung total proses penegakan hukum yang sedang dijalankan oleh Tim Polda NTT terkait dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang terhadap Korban Arbelay.

Ketiga, mendukung Kemenlu RI u.p Direktorat Perlindungan WNI dan BHI untuk terus melobi dan mengawal proses hukum terhadap Pelaku Human Trafficking dengan Korban Adelina Sau asal NTT di Pengadilan Malaysia.

Keempat, mendesak Kemenaker RI dan Pemprov NTT untuk segera mengoptimalkan Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) dan membangun Balai Latihan Kerja Pekerja Migran Indonesia (BLK PMI) bukan BLK Komunitas di Maumere untuk layani CPMI asal Flores, Adonara, Solor dan Lembata; di Kupang untuk melayani CPMI asal Timor, Rote Ndao, Sabu Raijua, Semau dan Alor; di Tambolaka untuk melayani CPMI asal Sumba.

--- Guche Montero

Komentar