Breaking News

REGIONAL Misionaris Eropa Diabadikan Jadi Nama Jalan di Papua 27 Mar 2021 11:27

Article image
Bruder Johannes Petrus Sjerps, OFM. (Foto: ist)
Yang dimaksud dengan para tokoh lokal adalah para pemimpin Gereja dan pemimpin atau tokoh masyarakat, yang terbukti berjasa dalam memimpin umat dan masyarakat.

MOANEMANI, IndonesiaSatu.co -- Bupati Kabupaten Dogiyai, Yakobus Dumupa, memutuskan mengabadikan nama sejumlah misionaris pada sejumlah ruas jalan di Kabupaten Dogiyai, Papua. Selain nama sejumlah misionaris dari benua Amerika dan Eropa yang lama bermisi di tanah Papua, termasuk Dogiyai, ada juga sejumlah tokoh lokal yang berjasa dalam pertumbuhan dan perkembangan daerah akan diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Dogiyai.

 “Para misionaris itu adalah Bruder Johannes Petrus Sjerps, OFM, Bruder Karel, OFM atau Uskup Pertama Keuskupan Agung Merauke, Pastor Herman Tillemans, MSC, dan lain-lain. Ada satu ruas juga kita abadikan dengan nama Jalan Thomas Tigi untuk menghormati dan mengenang Pak Thomas sebagai bupati definitif pertama Dogiyai. Para misionaris dan tokoh lokal ini berjasa dalam pertumbuhan dan perkembangan peradaban hidup orang Mee di Dogiyai,” ujar Yakobus Dumupa dalam keterangan yang diterima, Jumat (26/3/2021).

Mantan Anggota Majelis Rakyat Papua ini mengatakan, umumnya di berbagai daerah mengabadikan nama jalan di setiap sudut kotanya, pihak Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga dalam waktu dekat akan melabelkan tokoh-tokoh berjasa sebagai nama semua ruas jalan yang di wilayah Dogiyai.

“Saya sudah memutuskan untuk memberi nama jalan dengan menggunakan nama para tokoh setempat dan orang-orang berjasa bagi pertumbuhan dan kemajuan daerah hingga saat ini. Misalnya Bruder Jan Sjerps, misionaris dari Eropa,” lanjut Dumpua, lulusan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta.

Ia menjelaskan, yang dimaksud dengan para tokoh lokal adalah para pemimpin Gereja dan pemimpin atau tokoh masyarakat, yang terbukti berjasa dalam memimpin umat dan masyarakat sehingga masyarakat dan daerah semakin maju, aman, damai, dan sejahtera kemudian diteruskan para tokoh atau pemimpin sesudahnya.

Para pemimpin itu tak hanya dari luar Dogiyai namun juga menyasar para pemimpin lokal dari berbagai komunitas di seluruh wilayah Dogiyai. Misalnya, Yobee Enabii di Ekaudidee, Tebai Togoodega di Mauwa, Goo Gaiyaikawii di Goodide, Boma Toyaikeboo di Edegedidee, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam rangka merealisasikan kebijakan itu, Bupati Dumupa telah menugaskan Dewan Adat Mee Dogiyai untuk meneliti dan mempersiapkan nama-nama tokoh yang layak diberi nama jalan pada masing-masing wilayah.

“Pemberian nama ini dimaksudkan agar warga masyarakat Dogiyai mengenang jasa orang-orang hebat yang pernah berkontribusi dalam perkembangan perabadan hidup orang Dogiyai. Dengan demikian, di kemudian kita bisa mengambil inspirasi dan teladan hidup dari mereka untuk lebih giat bekerja memajukan masyarakat dan daerah lebih baik lagi,” kata Bupati Dumupa, tokoh muda Papua yang telah menulis kurang lebih sebelas buku beragam tema.

Sejumlah nama tokoh agama di Papua dan pemimpin lokal yang mengabdikan dirinya di Dogiyai sangat inspiratif dari aspek penghayatan karya misi maupun kepemimpinannya bagi masyarakat dan daerah. Misalnya, Bruder Jan Sjerps, OFM, Pastor Pastor Herman Tillemans, MSC atau Thomas Tigi.

Bruder Jan Sjerps dikenal luas sebagai salah seorang misionaris perintis, pionir kopi Papua. Lama menunaikan tugas di sejumlah wilayah di tanah Papua, bruder dari Saudara Dina atau Ordo Fratum Minorum (OFM) yang lahir dari keluarga petani Belanda di dusun Zwagdijk-Oost, Distrik Wervershoof pada 2 November 1939 ini kemudian ditugaskan di Moanemani, kota Kabupaten Dogiyai.

Di Moanemani Bruder Jan Sjerps melanjutkan karya misinya dengan mendirikan sekolah dan asrama. Pilihan misi ke Moanemani oleh karena pertimbangan di Agimuga dan Epouto, Kabupaten Mimika, tanah tidak cukup subur untuk umbi-umbian guna memberi makan siswa dengan dua sekolah paralel. Biaya operasional di Epouto terlalu mahal. Makanan selalu didatangkan dari luar, sedangkan di Moanemani dan Dogiyai umumnya sedikit lebih mudah.

“Saya pindahkan semua ke Moanemani dan di sana saya memulai semuanya dari awal lagi. membangun asrama dan membangun sekolah lengkap dengan tangki air dan fasilitas lebih mudah,” ujar Bruder Jan.

Selain itu, usai mendirikan asrama dan sekolah tahun 1980, ia juga concern pada pelatihan anak-anak SMP. Dia mulai dengan menanam 1000 pohon kopi sebagai percontohan dan latihan bagi para petani Moanemani. Bibit kopi diambil dari Yametadi, bekas kantor Dinas Pertanian Pemerintahan Belanda era kolonial.

Berkat kegigihan Buder Jan melakukan pembibitan kopi Papua di belakang asrama hingga nama kopi Moanemani meroket di seantero tanah Papua dan Indonesia, tahun 1986 pemerintah daerah melirik usaha itu menetapkan Moanemani sebagai pusat pembibitan kopi.

“Sejak itu, Moanemani terkenal dengan kopinya yang memiliki cita rasa khas. Tahun 2005, setelah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan kopi di wilayah lembah Kamuu, ia kembali ke Sentani, Jayapura, pusat misi OFM. Ia berpulang Sabtu, 13 Februari 2021 di Biara OFM, Sentani, Jayapura,” kata Bupati Dumupa.

Pada bagian lain, Dumupa menjelaskan, saat ini Dewan Adat Mee Dogiyai sedang berproses mempersiapkan nama-nama tokoh yang berjasa bagi tanah Papua, termasuk berjasa di Dogiyai akan diabadikan sebagai nama jalan. Jika rencana ini terwujud, ujarnya, akan menjadi sejarah baru di Tanah Papua dan juga di Indonesia nama-nama para pemimpin diabadikan untuk menjadi kebanggan daerah.

“Saya percaya sebagai Bupati Dogiyai kami akan mengukir sejarah baru. Ini bentuk  penghormatan kecil kami kepada para penjasa dan pemimpin kami sekaligus menjadi bentuk apresiasi, penghormatan dan sumber pembelajaran bagi generasi tanah Papua berikutnya,” ujar Bupati Dumupa, mantan misdinar (pelayan Misa) di Gereja Santa Maria Imaculata Moanemani, Dogiyai.

--- Simon Leya

Komentar