Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

LINGKUNGAN HIDUP Mulli, Anak Harimau Sumatera Dilepas ke Alam Bebas 10 Jun 2017 17:28

Article image
Anak harimau Sumatera di kawasan konservasi TWNC, Lampung. (Foto: Ist)
Mulli adalah salah satu anak harimau yang ditemukan dalam kondisi terluka dan kekurangan gizi, lalu dirawat hingga sembuh dan sehat di kawasan konservasi TWNC medio September 2015 lalu.

LAMPUNG, IndonesiaSatu.co -- Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) akan melepasliarkan anak harimau Sumatera bernama Mulli ke alam bebas. Rencana pelepasan Mulli akan dilakukan pada hari Minggu, 11 Juni 2017.

"Pelepasan ini dilakukan setelah tim kesehatan hewan menyatakan bocah harimau itu sudah sembuh dan bisa mandiri di alam liar," kata Koordinator Konservasi TWNC, Ardi Bayu, di Tambling, Pesisir Barat, Sabtu (10/6/2017).

Disebutkan, dua tahun lalu, TNWC menemukan anak harimau dalam kondisi terluka dan kekurangan gizi, lalu dirawat hingga sembuh dan sehat. Anak harimau yang malang tersebut ditemukan oleh Suwegnyo (40), salah satu pekerja di kawasan konservasi TWNC, pada 21 September 2015.

Bayu menceritakan, Suwegnyo melihat dua ekor harimau dekat pos jaga Muara sekitar pemukiman penduduk di Dusun Pengekahan, Kabupaten Pesisir Barat. "Sekitar pukul 13.30 WIB, anak harimau menuju semak-semak di depan pos jaga Muara bersama induknya," ujarnya.

Kejadian tersebut, lanjutnya, dilaporkan kepada pos TNWC yang berada tak jauh dari loakasi. Setelah diamati kondisi anak harimau tak bergerak karena kondisi yang memprihatinkan.

"Terdapat luka besar di perut dan tercium bau busuk, maka tim mengevakuasi anak harimau itu ke pusat rehabilitasi satwa TNWC," jelas Bayu.

Untuk diketahui, kawasan konservasi seluas 50 ribu hektare itu dikelola oleh manajemen TWNC dibawah Yayasan Artha Graha Peduli. AGP berkolaborasi dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung. Semuanya bergerak di bawah bimbingan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dengan mandat menjaga kelestarian flora dan fauna.

--- Sandy Romualdus

Komentar