Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

PANGGUNG Nafas Perang Pasola Sumba: Membaca Koreografi Maria Elvira P Mere (Bagian Kedua dari Dua Tulisan) 24 Aug 2016 09:28

Article image
Para penari Tomang Baruwehang membawa dupa. (Foto: Tian Reffina)
“Tak ada luka, tak ada penderitaan, tak ada persaingan, tak ada kesedihan, dan tak ada penyesalan. Ketika damai tercipta dalam sebuah perang.”

Oleh Redem Kono

 

DENGAN Tomang Baruwehang itu, Maria Elvira P Mere mengundang decak kagum ratusan penonton yang hadir di tempat itu. Para penonton seperti kesurupan meneriakkan namanya. Berkat koreografi ini, Vira, demikian panggilannya mendapatkan predikat Sangat Memuaskan, 3.60.  Pertunjukan ini memang menjadi bagian dari Ujian Akhir Karya Strata 1, di Fakultas Seni Tari IKJ. Para pembimbing Vira, Dewi Nofianti, M.Sn., dan Lusiati Kusumaningdiah, S.Sn., M.Si sangat puas dengan karyanya. Karena itu, pihak IKJ Prodi Seni Pertunjukan mempercayakan karyanya ini untuk dipentaskan lagi pada pentas Choreo Jam; semacam pementasan karya-karya para seniman IKJ. Karya gadis kelahiran Surabaya, 23 April 1994 ini akan menjadi pembuka sekaligus karya utama pada pementasan tersebut!

Sebelum menuntaskan koreografi ini, Vira tercatat pernah mementaskan karya-karyanya, 1) Pulau Lembata (penangkapan ikan paus), 2) Kekeringan di Pulau Timor, 3) Perebutan tanah ulayat di Pulau Adonara, 4) Homofloresiensis yang bernama Ebu Gogo, 5) Wai Rebo (kampung di atas awan Manggarai). Dengan cepat kita akan menyimpulkan bahwa karya-karya Vira merefleksikan budaya dan situasi di di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Saya ingin sekali melestarikan budaya dan kesenian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur yang juga merupakan daerah asal ayah saya. Ini merupakan bentuk pengabdian saya dengan cara melestarikan budaya NTT dan akan terus menciptakan karya tari yang berlatar belakang kebudayaan NTT,” kata Vira. Ayah Vira, Laurens Mere (56), memang berasal dari Pulau Flores, NTT. Para dosennya di IKJ juga menyarankan Vira untuk mengangkat karya-karya seni tari di NTT, karena karya-karya yang mengangkat kekayaan budaya, perjalanan sejarah, dan situasi sosial NTT masih sangat kurang.

Dalam menggarap karya-karyanya, Vira bersama dosen pembimbingnya sering kali turun ke NTT untuk melakukan riset. “Saya berkenalan dengan situasi mereka. Saya mengalami derap hidup, budaya, situasi, dan kehidupan masyarakat. Saya coba menerjemahkan apa yang saya alami itu dalam bentuk tari-tarian”, kata Vira. Sikap rajin dan tekun Vira itu mengantarnya pernah tampil di ajang internasional (Macau), dan nasional (Riau, Kalimantan, Jawa). Dalam tahun ini juga, Vira akan diundang untuk menunjukkan karyanya ini di Sumba. Vira mencintai NTT dengan tarian. 

Orang tua Vira sangat bergembira atas prestasi yang diukir mantan murid SMA Ursula itu. Vira yang semula bercita-cita menjadi dokter mampu menghasilkan karya-karya bermutu. “Ketika sampai SMP, Vira tetap bercita-cita menjadi dokter. Namun, setelah tes psikolog dari UI di SMA Ursula, mereka menemukan Vira berbakat seni tari. Vira juga bersikeras bersekolah di IKJ. Kami menolak, tetapi pamannya pun menyadarkan kami”, kata Laurens. Paman Vira yang dimaksud adalah Komisaris Jenderal Pol (Purn) Gories Mere, yang kini menjabat Staf Khusus Presiden Joko Widodo. Nasihat Jenderal Gories meluluhkan hati mereka. Vira pun bersekolah di IKJ. Dan, Vira membayar tuntas kepercayaan orang tua dan keluarganya malam itu.

Tomang Baruwehang mengisahkan ikhwal Perang Pasola di Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi perang ini menjadi ekspresi seorang raja Sumba karena kehilangan permaisurinya yang dibawa oleh pemuda lain. Perang Pasola menjadi klimaks dari tragedi cinta segitiga antara raja, permaisuri, dan pemuda dari kampung tetangga.    

“Tak ada luka, tak ada penderitaan, tak ada persaingan, tak ada kesedihan, dan tak ada penyesalan. Ketika damai tercipta dalam sebuah perang.” Demikian sinopsis tarian dalam pertunjukkannya itu. Dalam lekuk-lekuk tarian itu, Vira menampilkan suatu budaya yang menghargai kejujuran, sikap lurus, dan harga diri. Kita tidak bisa menghadapi segala sesuatu dengan harmoni semu atau pura-pura berbaik hati dan melupakan masalah. Kita mendiamkannya seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi.

Di antara lembing-lembing yang dilemparkan mengajarkan: “kawan dan lawan” akan membuat kita berkembang, berpacu, bahkan berkompetisi demi perdamaian. Mengutip Carl Schmitt, “kawan dan lawan” perlu dijaga dalam sebuah relasi masyarakat, karena sikap harmoni semu, berpura-pura baik, dan mendiamkan masalah sering kali bersifat kontraproduktif atau meninabobokan masyarakat dari tidur dogmatis atau kehilangan sikap kritis, kreatif dan inovatif dalam masyarakat.

Perang Pasola bukanlah pertumpahan darah atas nama kebencian. Perang Pasola memupus kebencian dan dendam dalam pertarungan taktik, kecerdasan, ketahanan, kelihaian, dan kematangan mental. Dalam perang itu, tidak ada kekalahan, karena keberanian selalu tampil menjadi pemenang. Perang pun dilalui dengan sukacita karena akhir dari perang adalah awal dari kedamaian; akhir dari kebencian, dendam, dan dukacita. Si vis pacem, para bellum, jika ingin damai, berperanglah! Demikian pepatah Latin klasik. Perdamaian tidak ditemukan dalam kompromi atau harmoni semu. Perdamaian ditempuh dalam kejujuran, ketegasan dan ketangkasan berstrategi. Itu tanda dari komitmen mencintai perdamaian; mencintai kehidupan.

Malam itu, Vira, dara keturunan NTT telah membuktikannya. Ia akan terus menari dan menari demi NTT. 

 

*Penulis adalah wartawan IndonesiaSatu.co

           

Komentar