Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

PANGGUNG Nafas Perang Pasola Sumba: Membaca Koreografi Maria Elvira P Mere (Bagian Pertama dari Dua Tulisan) 23 Aug 2016 18:01

Article image
Para penari Tomang Baruwehang. (Foto: Tian Reffina)
“Tak ada luka, tak ada penderitaan, tak ada persaingan, tak ada kesedihan, dan tak ada penyesalan. Ketika damai tercipta dalam sebuah perang.”

 

Oleh Redem Kono

 

SUASANA di kompleks IKJ, TIM tampak temaran. Ada pertempuran warna bioskop, lampu terang di jalan, dan sorot kerlap-kerlip cahaya. Di hadapan saya, beranda Teater Luwes malam ini mulai dipenuhi sekelompok orang yang bergegas. Di depan pintu masuk teater, sebuah banner menyapa pedatang di tempat itu:  Ujian Akhir Karya S1; Tomang Baruwehang; Koreografer: MARIA ELVIRA MERE.

Dengan rasa penasaran, saya menuruni tangga menuju ruang pertunjukan. Teater Luwes IKJ memang diperuntukkan bagi Prodi Seni Pertunjukan IKJ. Letaknya di lantai paling bawah. Dua orang panitia dengan ramah mengantar ke tempat pertunjukan. Dan, situasi awal pementasan sudah meyakinkan saya: bahwa di tempat ini akan lahir seorang seniwati muda, yang mempersembahkan dirinya untuk kelestarian budaya Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pertunjukan itu dimulai. Suasana agak temaran. Layar multimedia dengan sabar mengajak saya untuk masuk dalam situasi dan konteks tarian. Ada gambaran bahwa saya akan diajak untuk mengalami suatu kearifan lokal yang sudah bernafas ribuan tahun lamanya dari Pulau Sumba. Saya seperti dituntun dalam kekosongan untuk masuk dalam sebuah peradaban.

Seorang anak kecil pun muncul. Polos. Lugu. Dengan tenang ia membaca sebuah buku kecil yang dibawanya. Dengan rintih ia mengeja kalimatnya satu persatu. Ternyata ia tidak hanya membaca tetapi ia menghidupkan cerita. Cerita tentang sebuah tragedi cinta segitiga yang bermuara pada perang. Bahwa kita tidak menghadapi segala sesuatu dengan hanya memakai harmoni. 

Sang anak menghidupkan para penari. Seorang pria dan wanita masuk ke panggung. Laki-laki khas berpakaian raja dengan wanitanya yang rupawan, baik dari segi paras maupun perhiasan. Keduanya berpacu dalam tarian. Kelembutan pria menjadi undangan bagi keperkasaan wanita. Ada aroma erotis dan gairah seksual yang terpancar dari keduanya. Penari wanita dengan geraknya yang gemulai mengundang tarian yang perkasa dari pria. Ada harmoni dalam gerak yang menunjukkan kesepadanan cinta dan kebahagiaan.

Namun, dalam kemesraan tarian, muncul dari arah berlawanan seorang laki-laki tak kalah gagah. Ia kokoh, teguh, dan berani. Matanya tajam menyorot kemesraan cinta kedua pasangan itu. Tak kalah garang, ia mulai mengganggu harmoni tarian itu dengan mempertontonkan keperkasaan tariannya. Dengan sabar, ia menunggu; menunggu kesempatan untuk mengimbangi keelokan tarian wanita itu. Pada saat bersamaan, laki-laki pertama berusaha meningkatkan gerak dan tariannya. Ada pertarungan keperkasaan antara dua pria: pertarungan taktik, ketegapan, erotisme seksual, dan kegairahan hidup. Dan, rupanya penari pria yang datang kemudian itu berhasil memenangkan pertarungan itu. Ia berhasil membawa wanita itu dalam tariannya!

Laki-laki itu menikmati kemenangannya. Ia menikmati keperkasaannya. Dunia rupanya harus dikalahkan dalam tarian keperkasaan. Perempuan itu pun menyerahkan diri. Ia merasa dirinya berharga: karena merupakan harga yang harus ditebus dari keperkasaan. Maka, ia terus menari dan menikmati hidup yang sebenarnya telah ditentukan oleh dua pria yang dicintainya.

Maka desisan bahasa Sumba menyuarakan sebuah cerita tentang hidup yang ditulis di atas gelora dan deru semangat perjuangan. Vita est militia, hidup adalah perjuangan!

Kekalahan dalam cinta adalah sebuah tragedi. Hidup dalam kekalahan itu menyiksa, terutama kehilangan sosok yang dicintai karena kelemahan diri. Pria yang kalah menyusur pantai dan mencoba melupakan kesedihannya. Dalam tampilan layar mulmedia, alam berusaha menyediakan jawabanya dalam deburan ombak; memancing kembali semangatnya yang rapuh. Ia akhirnya sadar bahwa kekalahan itu harus dituntaskan. Ditemani hamparan pasir, ia mencoba mencari jawaban, daan akhirnya ia menemukannya. Sebuah perang demi nama harga diri harus diukir.

Namun, cinta bukan hanya perkara horizontal semata. Cinta itu adalah perkara vertikal. Pria itu mencari jawaban ditemani tarian sesajian para penari berjumlah enam orang. Sambil membawa dupa berupa wewangian memikat, para penari kadang membentuk barisan memanjang, menyilang, dan berputar. Ada ekspresi pujian dan harapan untuk memuji Yang Melebihi Segala Sesuatu. Dikelilingi tarian para penari, pria itu menjalin kontak dengan para leluhur. Para penari menarikan gerakan ritus penyembelihan untuk pencarian restu izin mengadakan perang kehormatan; perang harga diri. Para penari berguling di lantai, memukulkan tongkat, dan menyembelih korban. Jawaban pun datang, berperanglah!

Pria yang kalah itu tidak sendiri. Ada solidaritas dari teman-temannya; bahwa ada kemungkinan ia memiliki kekuasaan. Tiba-tiba para penari menampilkan gerakan menyerupai kuda dengan desahan keras. Layar multimedia menampilkan kuda-kuda yang dibiarkan bergerak atau berlari liar. Sementara itu, di ujung kiri dan ujung kanan pertunjukkan telah bersiap dua kubu lengkap dengan tombak. Rupanya perang harus dimulai. Darah harus mengalir atas nama kehormatan cinta.

Musik bergemuruh. Teriakan berjemaat. Para penari saling berhadapan. Adu kekuatan dan kekokohan dimulai. Aroma perang dan kemungkinan darah menjadi nyata. Hidup mati para peserta perang tergantung dari keluwesan kuda, kecermatan membaca pergerakan musuh, taktik melempar tombak, dan sikap tak gentar menerjang. Pada saat-saat genting seperti ini, hidup menjadi sangat berharga. Akhirnya, para penari bergerak keluar panggung. Rupanya mereka memilih atau dipilih menjadi tiada. Tetapi di layar multimedia, pertarungan itu tetap abadi!

Anak yang membaca buku pada permulaan tarian muncul kembali. Ia telah mencapai baris terakhir kata-katanya. “Oh, jadi begini ceritanya toch?”, gumam Anak itu. Ia pun manggut-manggut dalam suasana takjub, haru, dan penuh hormat. Maka, segera ia bangkit dan membawa karangan bunga pada para petarung yang mengorbankan darah atas nama cinta dan demi kedamaian. Perang yang abadi itu telah mewariskan kebijaksanaan besar: cinta sinonim dengan keperkasaan, dan atas nama cinta pengorbanan apapun harus diberikan untuk menjawabi panggilan untuk mencintai dan dicintai (bersambung).

* Penulis adalah wartawan IndonesiaSatu.co

 

Komentar