Breaking News

TOKOH Nando Watu: Sosok Kades Inspiratif dengan Gebrakan Inovatif 09 Sep 2020 14:11

Article image
Nando Watu, Kepala Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Ende, Flores, NTT. (Foto: Che)
Bagi Nando, kampung adalah rahim kehidupan purnawaktu yang terus menginspirasi.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Di tengah geliat pembangunan nasional yang menjadikan desa sebagai salah satu barometer perubahan nyata, tidak sedikit generasi muda yang memilih 'pulang kampung' membangun Desa, dengan segala potensi sumber daya yang dimiliki.

Sejak ditetapkan dan disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa) pada 15 Januari 2014 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), spirit Otonomi Daerah lalu mengerucut hingga ke lingkup pemerintahan desa.

Dengan segala kewenangan yang dimiliki sesuai payung hukum UU Desa, peran kepala desa menjadi sangat strategis dalam menentukan arah kebijakan dan pembangunan di tingkat desa. Tentu saja hal itu didukung dengan Alokasi Anggaran yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang selanjutnya disebut Alokasi Dana Desa (ADD), juga Alokasi Anggaran yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang selanjutnya disebut Dana Desa (DD).

Dengan potensi sumber daya yang dimiliki dan dukungan anggaran yang mumpuni, banyak gebrakan perubahan yang terjadi di Desa, baik pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) hingga penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Sosok Ferdinandus Watu adalah salah satu dari 3.036 Kepala Desa di  Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang cukup fenomenal dan menyedot perhatian.

Tujuh bulan usai menjabat Kepala Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Flores, NTT, pada Desember 2019 lalu, pria kelahiran 6 April 1986 yang akrab disapa Nando ini langsung menyedot perhatian publik, usai mampu membawa BUMDes "Au Wula" Detusoko Barat menjadi salah satu dari dua BUMDes terbaik tingkat nasional yang dijadikan pilot project oleh Kementrian Desa (Kemendes) dalam penerapan dan pengembangan BUMDes berbasis digitalisasi (online).

Setelah proses penentuan pilot project diseleksi secara ketat oleh tim Kementerian Desa, BUMDes "Au Wula" akhirnya terpilih sebagai yang terbaik dari sekian banyak desa yang ada di Indonesia; tiga di antaranya ada di kabupaten Bantul, kabupaten Lombok Tengah, dan kabupaten Gunung Kidul.

Menggagas "Dapur Kita" berkat kerjasama dengan pihak Keuskupan Agung Ende (KAE), pemerintah kecamatan Detusoko, dan para petani dari 8 Desa tetangga selama masa pandemi Covid-19, Nando mampu menggandeng puluhan tukang ojek dan para sopir pick up untuk menjemput komoditi dari para petani dan mengantar kepada para pemesan di Kota Ende.

Dalam suatu kesempatan 'syering santai' di Lepa Lio Cafe Detusoko, Nando dengan lugas mensyeringkan panggilan nuraninya untuk 'kembali ke kampung' dan pilihannya menjadi Kepala Desa.

Berikut ini kutipan 'sharing santai' bersama Kades Nando (selanjutnya disingkat (N) dan media Indonesia Satu (selanjutnya disingkat IS).

(IS): Apa yang menginspirasi Nando sehingga memilih pulang ke kampung? Padahal Nando sudah menempuh Pendidikan hingga ke Luar Negeri dan mengikuti event-event internasional?

(N): Pada dasarnya, saya meyakini bahwa justru kampung-lah yang menginspirasi saya untuk pulang. Ada banyak kekayaan sumber daya alam dan nilai kearifan lokal di kampung yang bisa dikembangkan. Kampung selalu menjadi sumber inspirasi dan sumber kehidupan itu sendiri.

Soal pengalaman pendidikan di luar negeri, justru itu sebagai bekal (ilmu); tidak hanya untuk mengejar profesi di dunia kerja. Ilmu sebagai jembatan ketika saya terlibat dalam dunia praktis di kampung.

(IS): Bagaimana Nando memulai menerjemahkan ilmu itu ketika kembali ke kampung?

(N): Awalnya saya mendirikan Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko sebagai wadah untuk merangkul kaum muda. RMC sendiri fokus pada edukasi (informal education), pertanian berkelanjutan, kewirausahaan sosial, dan ekowisata. Itu juga sesuai dengan potensi yang ada di Desa terutama pertanian dan pariwisata.

Tujuan dibentuknya RMC juga untuk membendung generasi muda agar tidak keluar kampung dan menjadi perantau di negeri asing maupun daerah lain di tengah masifnya arus perdagangan manusia (human trafficking) melalui jalur ilegal (non-prosedural).

Sebagai informasi, sebelum terpilih menjadi Kepala Desa Detusoko Barat, Nando pernah menempuh pendidikan Kepariwisataan di Negeri Paman Sam, Miami, Florida, Amerika Serikat.

Nando juga sering menjadi narasumber di berbagai Seminar dan ikut dalam event-event internasional sebagai utusan Indonesia; seperti ke China, Australia, Jepang, India, Korea Selatan, Fhilipina, dan Thailand.

(IS): Apa yang mendorong Nando menggagas Kepariwisataan berbasis kultural?

(N): Pada dasarnya, Roh Pariwisata adalah kekhasan kultural, selain unsur keindahan alam. Artinya, nilai kultural (kearifan) harus menjadi warna dasar, sehingga kearifan itulah yang menjadi magnet bagi para wisatawan, bukan sebaliknya kita mengikuti arus (keinginan) wisatawan dengan sekian banyak modifikasi ke arah modern.

Menjadikan wisata berbasis kultural berarti ada dampak sosial bagi masyarakat setempat. Setiap wisatawan perlu diarahkan semacam 'live in'; tinggal dan menyelami keseharian masyarakat, belajar menenun, bertani, memasak dengan tiga tungku batu, hingga dilibatkan dalam pertemuan dan prosesi adat. Karena, atraksi sosial di kampung sebagai hal langka bagi para wisatawan manca negara.

(IS): Apa yang menjadi tantangan dan kendala dalam mewujudkan konsep Pariwisata berbasis Kultural?

(N): Harus diakui bahwa tantangan yang dihadapi yakni soal Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu menerjemahkan setiap arah kebijakan. Masyarakat cenderung pesimis sebelum melihat hasil nyata. Juga butuh sinergitas berbagai elemen melalui tata kelola kepariwisataan secara siatematis dan kontinyu, termasuk infrastruktur dan fasilitas pendukung.

Misalnya, dengan adanya kebijakan Desa Penyangga Wisata, maka perlu realisasi kebijakan pendukung lanjutan sehingga memperkuat elemen-elemen wisata pendukung di tingkat Desa.

(IS): Apa harapan Nando terkait Kepariwisataan NTT dengan Labuan Bajo ditetapkan sebagai Wisata Super-Premium?

(N): Harapannya tentu wisata mampu memanusiakan manusia. Artinya, jangan hanya potensi wisatanya yang naik kelas (mahal, red), namun manusianya masih tertinggal bahkan hanya menjadi penonton di kampung sendiri. Apapun klasifikasinya, manusia harus menjadi tuan di negerinya sendiri. NTT harus menjadi Lensa Wisata bagi dunia, dan Desa harus menjadi jendela Wisata.

Di akhir 'sharing santai' sambil menikmati Kopi Golulada di Lepa Lio Cafe Detusoko, mantan aktivis PMKRI Maumere dan Lulusan STFK Ledalero ini berpesan kepada generasi muda agar tidak malu pulang kampung.

Baginya, kampung adalah rahim kehidupan purnawaktu yang terus menginspirasi. 

Salut Bung Nando, Kades milenial, inovatif dan inspiratif.

--- Guche Montero

Komentar