Breaking News

OPINI Narsisme Politisi Vs Nazisme Eksis 28 Mar 2020 19:38

Article image
Ilustrasi narsisme politik. (Foto: The Cagle Post)
Para penguasa menghipnotis kata-katanya dan mengukir bibirnya hingga mengenyangkan masyarakat dengan janji-janji palsu, namun tidak mengandung 'protein' dan 'zat gizi'.

Oleh Yosman Seran, S.Fil

 

'MANIS di bibir, memutar kata',  sebuah lirik lagu yang berjudul 'Mencari Alasan' itu sangat eksis di tahun 1990-an oleh band exist. Genre musik romantis itu memantik serentak menggetarkan hati kalangan kaum remaja pada waktu itu, bahkan masih relevan hingga saat ini.

Lagu ini mengafirmasi sikap sosok/tokoh atau para kaum remaja (pemain hati) - yang mempertontonkan sikap kemunafikan/kamuflase dalam menjalani sebuah relasi romantis atau kisah percintaan mereka. Dalamnya ada 'putar-balek' janji bagi pasangannya. Masih relevankah lagu tersebut?

 

Janji Palsu

Seorang pemuda yang jatuh cinta akan membuai hati seorang gadis dengan janji-janji manisnya. Semisal; aku mengagumimu dari lesung pipi dan senyum cabairawitmu. Gadis manis nan jelita itu pun akan terlena dengan buaian kata-kata manis dari sang pria. Secara kasat mata, ada janji yang terhipnotis kuat secara emosional untuk melangkah/masuk lebih jauh dalam ikatan relasi mereka.

Kisah romantisme tersebut, apabila ditarik-ulur dalam dunia politik dan/atau percaturan politik saat ini, ada pertanyaan yang muncul; masih relevankah lagu era tahun 90-an itu? Calon pemimpin dan kliennya (masyarakat pendukung) mengalami pengalaman serupa (kisah romantisme) yang dituangkan dari lirik lagu di atas. Seorang calon pemimpin (baca: calon politisi) sebelum terpilih menelurkan janji-janji manis kepada masyarakat, dan tanpa penuh ragu, hati masyarakat terhanyut - pun terbuai di dalam janji-janji manisnya. Alhasil, meskipun pada akhirnya terasa sangat pahit. Pada titik itu, siapa yang dipersalahkan? Masyarakat yang tidak kritis memilih? Atau politisi yang (terlalu) pintar memainkan kata-kata manis di bibir?

Kisah romantisme sepasang kekasih nampak pula dalam fenomena riil politik di Indonesia saat ini (khususnya NTT). Subjek politik (politisi) akan mempolitisir titik kelemahan masyarakat demi kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya. Fenomena semacam itu tidak terelak lagi. Adalah menjadi wajar apabila ada segelintir orang yang mengklaim bahwa, masih ada para poli(tikus) yang bibirnya terukir manis bahkan semanis madu hutan tersebut masih berkeliaran dengan menjanjikan/mengucap kata-kata manis kepada masyarakat. Miris bukan?

Menelisik lebih dalam - dan lebih tajam pasca pilpres dan pileg serentak bulan April 2019 kemarin, para politisi dari partai-partai politik mulai tampil secara runcing karena telah berhasil memenangkan figur dan mendesain konsep-konsep pembangunan berskala nasional. Sesuai tagline Jokowi "membangun dari pinggiran (desa)", daerah-daerah seperti kabupaten/kota pun tidak kalah saingnya mendesain konsep pembangunan. Namun, sangatlah miris dan menyedihkan ketika harapan masyarakat menjadi pupus, terhanyut ditelan ketamakan penguasa dan para elit politik di negeri ini. Imbasnya, segala lini pembangunan berjalan dalam koridor berpikir para elit politik, dan masyarakat hanyalah agen yang dikebiri demi mencapai klimaks pribadi maupun kelompok. Masyarakat terpinggirkan - yang terhempas, tampak bagai bingkai kosong tanpa ada lukisan indah yang terpampang pada dinding rumah. Nasib mereka terus ditelanjangi dengan sesuap janji manis politisi.

Tolok ukur tulisan saya ini berangkat dari rasa keprihatinan terhadap kondisi riil masyarakat Kabupaten Malaka yang mempresentasikan sejarah buram di awal periode merangkaknya tubuh kabupaten Malaka. Kabupaten Malaka ibarat bayi mungil yang harus dipelihara, diberi ASI, digendong dan dirawat dengan perhatian penuh, sehingga pertumbuhannya pun tidak cacat dalam sejarahnya. Semuanya menjadi berantakan ketika lembaran halaman buram tersebut, mempertontonkan sistem kekerabatan yang kuat, membangun tembok dinasti yang kokoh - dan pada akhirnya berpotensi besar melahirkan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Memang, tidaklah mudah menonton drama elit politik. Hati masyarakat kecil tersayat, teriris-pedih. Namun siapa yang salah?

Situasi kabupaten Malaka yang baru seumuran 'tunas pohon pisang' tersebut telah menorehkan catatan buruk di atas halaman buram dalam sejarahnya. Hal itu ditandai dengan 8 orang yang terjerat dalam kasus korupsi pengadaan bibit bawang merah - dan ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak penyidik Polda NTT. Kejahatan yang melibatkan beberapa orang Aparatur Sipil Negara (ASN) itu merupakan bentuk representasi dari lemahnya pemimpin daerah. Wajah Malaka nampak kotor dan kusam di setiap halaman surat kabar (cetak/online). Siapa yang malu?

Terkuaknya kasus korupsi di Kabupaten Bungsu ini merupakan salah satu praktik kejahatan yang mematikan masa depan anak/cucu masyarakat Kabupaten Malaka - dan tercatat sebagai pemecah rekor dari kabupaten lainnya di provinsi NTT. Secara diam-diam, kejahatan semisal itu membuka ruang bagi tumbuh suburnya kejahatan lain yang sewaktu-waktu akan meledak membunuh masyarakat sendiri. Kasus kejahatan itu harus menjadi titik cerah bagi masyarakat agar berhati-hati menelan janji-janji manis politisi.

Lebih dari itu, ada pula pemicu terbesar dari drama yang dilakoni elit politik zaman desrupsi ini yakni, merame-riahkan tarian kata-kata dari lirik lagu di atas; 'manis di bibir, memutar kata'. Kata-kata buaian bagi warganya yang terpanggang dalam duka nestapa - bak terpancar dari layar kemiskinan. Kasus kejahatan di Kabupaten Malaka hanyalah sebagian kecil dari wajah Flobamora. Masih terdapat banyak persoalan yang belum berhasil dituntaskan; kemiskinan, pendidikan (SDM), kesehatan, - yang membutuhkan perhatian serius pemerintah.

 

Narsisme Politisi

Fenomena politik yang panas alias lagi 'hot-hotnya' ini, seakan memaksa masyarakat untuk tetap berteduh nyaman dalam lingkaran dinasti yang begitu masif. Dan itu sangat gamblang bagi aktor politisi (eksekutif dan legislatif) memainkan drama politik yang apik. Misalnya, menjanjikan kepada masyarakat awam terkait pembangunan infrastruktur, membagi puluhan pupuk bagi petani, ratusan ton bibit pertanian, dan lainnya.

Masyarakat di NTT umumnya, dan khususnya Kabupaten Malaka digiring lewat terowongan yang penuh dengan kebohongan akut. Para penguasa menghipnotis kata-katanya dan mengukir bibirnya hingga mengenyangkan masyarakat dengan janji-janji palsu, namun tidak mengandung 'protein' dan 'zat gizi'. Masyarakat tetap menjadi kurus dan penguasa semakin kegendutan.

Quo Vadis masyarakat Malaka? Saya melihat dan menilai tindakan-tindakan para elit politik ini sebagai narsisme politik di era desrupsi. Artinya, menampilkan sesuatu di luar kapasitasnya, demi kepentingan pribadi, kelompok, dan suku. Primordialisme menjadi pujian terhormat, dan diskursus pembangunan meluber menjadi basi. Tentunya, yang menderita akan terus menderita karena nasib terbelenggu atas penindasan pemerintah. Dan itu merupakan praktik politik yang keliru dari kesesatan logika berpikir elit politik dan narsisme yang cacat.

Dalam tahun 2020 ini, provinsi dengan jumlah pulau terbanyak (NTT) di Indonesia, kembali menabuh gong pilkada serentak yang terjadi di 9 Kabupaten/kota. Elit politik dan partai politik akan kembali bersilat lidah dan memahat bibir untuk orang-orang kecil. Momentum ini pun akan menjadi locus narsisnya politisi dan partai-partai politik.

Elit politik akan memberi jaminan dengan janjian yang meyakinkan masyarakat atau orang-orang kecil pada saat masa kampanye, dengan tujuan agar bisa terpilih menjadi pemimpin, raja dan penyelamat dari kemelaratan pelbagai persoalan selama ini. Padahal, makna terdalam dari politik itu sendiri adalah sarana untuk mencapai tujuan dan kepentingan bersama, kebaikan bersama. (Bdk, teori klasik filsuf Aristoteles).

 

Nazisme Eksis

Nazis atau yang dikenal dengan nasional-sosialis Jerman, pada masa kepemimpinan Adolf Hitler, merupakan pola kekuatan politik yang dibangun pada waktu itu demi kesejahteraan masyarakat Jerman. Orang-orang yang bukan ras Jerman (seperti: Yahudi, Roma, Polandia, Rusia) dibunuh. Dan pada kepemimpinan Adolf tersebut akhirnya memicu terjadinya perang dunia ke II.

Kekuatan politik itu secara kasat mata lahir lagi di Kabupaten Malaka. Memang tidak sampai membunuh secara fisik, namun ada tekanan terhadap pergerakan kemerdekaan masyarakat untuk berpikir dan bertindak. Segala lini kehidupan masyarakat diatur dan dikontrol secara sistematis-terstruktur. Ketakutan pun menjadi senjata dan tombak yang menghunus nurani dan akhirnya memilih pasrah pada nasib.

Nazisme masih 'trend' dan eksis di kalangan politisi zaman sekarang. Para politisi betapa manisnya membikin bibirnya elok dengan kata-kata semanis madu, demi meraup keuntungan dan kepentingannya. Terlihat elit politik sementara bermain sandiwara - serentak mempraktikkan kekeliruan politis yang masif dan membangun sekat-sekat untuk membentengi diri, keluarga dan kelompok.

Konyol memang. Segala aspek dan program yang dituakan dan/atau didewakan hanyalah untuk tawaran semata. Realisasinya masih mengambang. Buktinya, beberapa kasus yang belum berhasil diselesaikan berskala besar; human trafficking, stunting dan gizi buruk, menjadi indikator lemahnya pemimpin kita. Bahwasannya, pemerintah kita masih berdiri kokoh pada taraf bualan janji manis semata.

Masihkah masyarakat terus diam menonton? Atau sebaliknya membangun pola pikir baru, paradigma berpikir kritis, demi tercapainya bonum commune? Menghadapi percaturan politik di NTT umumnya, dan khususnya di Kabupaten Malaka, masyarakat harus lebih tajam membidik. Siapa/tokoh pemimpin yang mampu, yang punya kapasitas dan kapabilitas, serta berani memberi jaminan kesejahteraan bagi warganya? Masyarakat harus kritis dengan tawaran program serta visi-misi calon pemimpin.

Untuk itulah, masa kampanye dalam tahapan hajatan pesta demokrasi (pilkada) tahun 2020 ini merupakan tempus yang tepat bagi masyarakat untuk lebih kritis memilih siapa yang pantas menjadi pemimpin di Kabupaten Malaka. Tentunya, representasi dari rentetan kejahatan ibarat buah yang membusuk - yang mana tidak bisa lagi dikonsumsi oleh siapa pun, kecuali dibuang di tong sampah. Buah mana yang pantas dikonsumsi. Buah yang membusuk? Atau buah segar? Salve.

 

Penulis adalah Reporter TVRI NTT

Komentar