Breaking News

RESENSI Pada Mulanya Adalah Nice-Prancis 30 Jan 2021 16:17

Article image
Cover buku karya Dr Rofinus Neto Wuli, S.Fil, M.Si. (Foto: Simon Leya)
Menjadi tugas filsafat membuat potensi rasional berkembang, sekaligus mengurangi potensi munculnya kekerasan dalam diri individu.

Oleh Simon Leya

 

  • Judul buku: FILSAFAT PERDAMAIAN ERIC WEIL – Dalam Konteks Pertahanan Negara
  • Penulis: Dr Rofinus Neto Wuli, S.Fil, M.Si (Han)
  • Penerbit: Penerbit Buku Kompas
  • Tahun terbit: 2020
  • Jumlah hlm: 224 halaman

 

 “Pada mulanya adalah Nice-Prancis. Tanggal 28-29 Juni 2016, penulis berkesempatan mengunjungi salah satu kota terbesar di negara Prancis tersebut.  Di Nice, penulis mendapat sebuah pengalaman berkesan: menjalani ziarah intelektual sekaligus pertalian batin dengan seorang pemikir “filsafat perdamaian” terkenal: Eric Weil.”

Paragraf di atas adalah kutipan langsung tulisan Dr Rofinus Neto Wuli, S.Fil, M.Si (Han) dalam Kata Pengantar   bukunya berjudul FILSAFAT PERDAMAIAN ERIC WEIL – Dalam Konteks Pertahanan Negara. Di mata penulis buku ini, kota Nice menjadi istimewa, karena Nice adalah kota persinggahan Weil dalam perjalanan mencari hakekat perdamaian. Aura kota Nice begitu merasuki dan menggelorakan hasrat Dr Rony (sapaan akrab Dr Rofinus Neto Wuli) untuk menulis gagasan-gagasan Weil tentang perdamaian, untuk disebarluaskan ke seluruh Indonesia.

Penulis buku melanjutkan, “pertemuan” dengan Weil menuntaskan rasa penasaran  dan kerinduannya akan adanya kajian filsafat perdamaian yang bergarak dari ranah praksis/realitas. Sebagaimana filsafat yang tidak hanya bergerak dari ranah abstraksi teoretis semata, Weil pun demikian, tidak hanya berfilsafat tentang perdamaian,  tetapi hidupnya sendiri adalah nafas hidup bagi perdamaian. Pengalaman menderita penyiksaan dan kekerasan dalam tragedi holocaust era Hitler di Jerman mengantar Weil pada refleksi yang mendalam tentang perdamaian (hal. 95).

Dalam bukunya setebal 224 halaman, Dr Rony mengawali kajiannya (Bab Pendahuluan) dengan memaparkan ancaman nyata dan fakta adanya konflik dan budaya kekerasan, mulai dari konflik dan kekerasan di tingkat lokal (daerah), seperti konflik antara suku Dayak dan suku Madura di Kalimantan (1999-2006) atau konflik bernuansa agama di Maluku (1999-2002).

Konflik tingkat nasional ditandai dengan beberapa gerakan separatisme berdarah, mulai dari pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI/Permesta), Gerakan Aceh Merdeka (OPM), Organisasi Papua Merdeka (OPM), Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Pada skala yang lebih luas, tak terhitung banyaknya konflik dan kekerasan di tingkat global/internasional. Di luar Perang Dunia I dan II yang menyeret hampir sebagian besar negara di muka bumi, konflik antara negara terjadi karena perselisihan territorial dan perebutan wilayah kekuasaan, terorisme global, atau konflik etnis dan agama yang melibatkan perpecahan negera sebagaimana yang terjadi di kawasan Balkan.

Sebelum mengulas filsafat perdamaian menurut Eric Weil, penulis terlebih dahulu memaparkan filsafat perdamaian dalam bentangan sejarah filsafat (Bab II). Seperti yang penulis buku jelaskan pada Kata Pengantar, bahwa tujuan penulisan buku ini adalah untuk menularkan gagasan-gagasan Weil kepada seluruh masyarakta Indonesia (yang tentu sebagian besar tidak memiliki latar belakang akademis di bidang filsafat), maka penulis merasa perlu untuk menyajikan pengetahuan dasar tentang filsafat pada bab ini.

Secara ringkas dan dengan bahasa yang sederhana, penulis buku memperkenalkan apa itu filsafat dan bidang-bidang filsafat, meskipun sampai sekarang para ahli belum sepakat soal cabang-cabang filsafat. Namun secara umum, mengutip Jujun S. Suriasumantri, filsafat memiliki tiga kajian utama, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi (hal. 46).

Weil bukanlah pemikir pertama dan satu-satunya yang berfilsafat tentang perdamaian. Narasi atau kajian tentang perdamaian dalam bentangan sejarah filsafat ternyata sudah dimulai oleh para filsuf Yunani kuno lebih dari 600 tahun SM. Di China, refleksi filosofis tentang perdamaian sudah ada sejak 475-221 SM. Beberapa pemikir besar China yang bisa disebut antara lain Kong Hu Chu, Lao Tzu, Meng-Tze (hal. 55-62).

Di Eropa, refleksi filosofis tentang perdamaian sudah dimulai oleh Filsafat Skolastik, Renaissance, dan Humanisme antara tahun 300-1600 M. Antara  1600-1700 M, filsafat memasuki era baru dengan Rene Descartes sebagai pelopornya, yang melahirkan era antroposentrisme, yakni aliran yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segara sesuatu (hal. 62-71).

Setelah manusia menemukan akal budi, berkembang dua aliran besar dalam filsafat, yakni rasionalisme dan empirisme. Pendukung rasionalisme di antaranya Rene Descartes, Spinoza, Gottfried Wilhelm Leibniz. Sedangkan pendukung empirisme antara lain George Barkeley, Francis Bacon, Thomas Hobbes, dan John Locke (hal 72-77).

Pasca aliran rasionalisme dan empirisme, muncul Zaman Pencerahan (1700-1900) yang diwakili oleh Voltaire, Montesquieu, David Hume, dan Immanuel Kant. Selain mendamaikan ketegangan aliran filsafat sebelumnya, Kant juga menulis karya besar tentang perdamaian berjudul Zum Ewigen Freiden: Ein Philosophischer Entwurf (Menuju Perdamaian Abadi: Sebuah Konsep Filosofis). Pasca abad ke-19, lahir kajian tentang perdamaian yang lebih merupakan reaksi kritis terhadap konflik kekerasan dan tuduhan terhadap proyek Zaman Pencerahan yang tidak dapat mendewasakan manusia. (hal 78-84).

 

Filsafat Perdamaian Weil

Pengenalan terhadap pemikiran Eric Weil tidaklah lengkap tanpa mengenal latar belakang kehidupan pribadinya. Penulis buku perlahan membuka horizon pembaca dengan membentangkan riwayat hidup Weil. Sebagai keturunan Yahudi yang lahir dan dibesarkan di Jerman era Adolf Hitler, Weil ikut merasakan pahitnya hidup di bawah ancaman Holocaust. Meski sempat pindah ke Prancis dan diharuskan ikut wajib militer sebelum Hitler berkuasa, Weil sempat merasakan kekejaman rezim Hitler setelah ikut menjadi tawanan perang. Weil merasakan siksaan dan kekerasan karena ketahuan sebagai keturunan Yahudi. Nyawa Weil mungkin tidak tertolong andai saja Jerman tidak kalah secepatnya.

Sebagai tawanan perang, Weil ikut disiksa dan diperlakukan di luar batas kemanusiaan. Batas tipis antara kematian dan kehidupan di penjara membuat Weil sangat menghargai pentingnya hidup dalam perdamaian.

Sebelum menukik lebih dalam ke inti pemikiran Weil tentang perdamaian, penulis buku membantu pembaca dengan menampilkan sikap dasar filosofis Weil: argumentasi Weil tentang logika; posisi filsafat Weil dalam filsafat politik; posisi Weil dalam filsafat manusia; dan posisi Weil dalam Etika.

Weil boleh dikatakan menolak pandangan Thomas Aquinas yang mengatakan bahwa manusia berkodrat rasional sejak lahir. Kalau manusia rasional sejak lahir, pertanyaan Weil, mengapa masih ada kekerasan atau kejahatan? Menurut Weil, manusia merupakan kodrat yang berpotensi rasional. Artinya, manusia dapat berpikir dan bertindak rasional. Namun pada saat yang sama, manusia bisa melakukan kekerasan.

Hal yang menarik dari pandangan Weil adalah bahwa potensi kekerasan sudah ada dalam diri manusia sejak kecil. Karena itu, menjadi tugas filsafat membuat potensi rasional itu berkembang, sekaligus mengurangi potensi munculnya kekerasan dalam diri individu. Tugas filsafat adalah melawan kekerasan. Dan peran seorang filsuf f adalah memperkenalkan dan menjalankan dialog dengan siapapun yang terlibat kekerasan.

Pada Bab IV, penulis buku ini membahas relevansi pemikiran Eric Weil dalam konteks pertahanan negara. Pada bagian Penutup, penulis buku ini menjelaskan bahwa kajian filsafat perdamaian Eric Weil sangat relevan dan solutif untuk melakukan resolusi konflik. Aktivitas berfilsafat menawarkan dialog dan keterbukaan untuk membangun jembatan komunikatif yang menghubungkan pihak-pihak yang bertikai. Hal ini diamini Prof Dr Muchlis R. Luddin, MA dalam Epilog buku ini: Buku ini menjelaskan pentingnya menjadi insan rasional dan insan berdialog, untuk menjamin ataupun menciptakan perdamaian dalam negara. Melalui filsafat, topik perdamaian terus digali dan ditelusuri terus-menerus.

Sebagai orang yang pernah belajar filsafat dan tidak benar-benar mendalaminya seperti seorang ahli, saya berusaha menempatkan diri sebagai peresensi informati, bukan deskriptif apalagi peresensi kritis buku ini. Semoga gambaran global yang saya paparkan bisa merangsang pembaca untuk membaca karya ini demi menambah khasanah filsafat, terutama filsafat perdamaian.  

Hanya satu tambahan kecil dari saya, untuk cetakan berikutnya, jangan lupa mencantumkan satu lagi karya penting Eric Weil dalam bagian 3.1.3. Karya-Karya Weil, berjudul Limites de la democratie (Weil 1950a), yang terbit pada tahun yang sama dengan buku utamanya berjudul Logique de la Philosophie.

Perdamaian hanyalah satu dari sekian banyak tema yang bisa digarap dari keseluruhan pemikiran Eric Weil. Karena, Eric Weil juga mengkaji soal hukum, moral, politik, dan demokrasi yang tentu masih relevan bagi kehidupan dunia dewasa ini.

Di akhir tulisan ini, izinkan saya mengutip kata-kata Weil: Bangsa mana pun dapat kembali ke situasi di mana demokrasi menjadi mustahil, jika mayoritas yang tidak rasional dan sembrono memperburuk minoritas dan menghasutnya untuk memberontak. Begitu demokrasi dibangun, penting bagi warga negara untuk bahagia, masing-masing memiliki situasi material dan moralnya sendiri. Di mana-mana, demokrasi adalah jalan menuju akal, pendidikan manusia yang tiada henti yang disampaikan oleh manusia itu sendiri, sehingga setiap manusia benar-benar dan sepenuhnya menjadi manusia. Demokrasi tidak ada di mana-mana: demokrasi selalu harus dicapai” (Weil 1950a, 39).

 

Penulis adalah Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar