Breaking News

REGIONAL PADMA Indonesia: Saatnya NTT Harus Punya Kodam Sendiri! 29 Jun 2021 11:04

Article image
Ketua Dewan Pembina PADMA Indonesia, Gabriel Goa. (Foto: Ist)
Fakta lain, ungkap Gabriel, putra-putri NTT yang berminat menjadi Anggota TNI; baik itu melalui jalur Tamtama dan Bintara, lebih khusus Akademi Militer (Akmil) cenderung dipersulit.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan Provinsi terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste (darat, laut dan udara) juga dengan Negara Australia (laut dan udara), sehingga keamanan dan Pertahanan NKRI menjadi sangat vital di NTT."

Demikian hal itu dikemukakan Ketua Dewan Pembina Lembaga Hukum dan HAM, Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA)Indonesia, Gabriel Goa dalam keterangan resmi kepada media ini, Senin (28/6/2021).

Gabriel beralasan, fakta membuktikan bahwa dari sisi keamanan wilayah Polda, NTT sudah masuk kategori tipe A dengan Kapolda berpangkat Irjen.

"Miris dan sangat memprihatinkan bahwa dari sisi pertahanan di NTT memperlihatkan NKRI sangat ketinggalan yakni hanya sekelas Komando Resor Militer (Korem), bukan Komando Daerah Militer (Kodam) sendiri sehingga NTT masih di bawah Kodam Udayana Bali," singgung Gabriel.

Atas alasan tersebut, kata Gabriel, PADMA Indonesia mendesak Panglima TNI, Menteri Pertahanan RI dan Komisi I DPR RI, wajib menjadikan NTT Wilayah Kodam sendiri yakni Kodam EL Tari NTT dan membuka Korem baru di Pulau Sumba sebagai pulau terdepan Indonesia yang berbatasan dengan Australia dari sisi pertahanan laut dan udara.

Fakta lain, ungkap Gabriel, putra-putri NTT yang berminat menjadi Anggota TNI; baik itu melalui jalur Tamtama dan Bintara, lebih khusus Akademi Militer (Akmil) cenderung dipersulit.

"Berdasarkan hasil pantauan kami bahwa kemauan putra- putri NTT yang bercita-cita menjadi anggota TNI sangat tinggi sekali. Namun semua itu kandas karena proses perekrutan Akmil harus melalui Kodam Udayana, Bali yang justru lebih diutamakan putra-putri dari Bali bukan NTT," sentilnya.

Gabriel membandingkan bahwa sejak tahun 2016 hingga 2019, calon Akmil asal NTT tidak ada yang tembus seleksi Akmil dengan alasan nilai akademik dan psikologis yang tidak memenuhi syarat, sehingga 'jatah' untuk NTT malah dialihkan ke Bali. 

Sementara tahun 2020, NTT hanya dapat 1 orang dari 'jatah' 5 orang untuk NTT, dengan alasan karena nilai psikologis yang tidak memenuhi syarat sehingga kekurangan 4 orang dari NTT diambil dari Bali,” urai Gabriel.

Masyarakat NTT, lanjutnya, tentu merasa kecewa karena NTT seperti dianaktirikan dan terkesan ada diskriminasi.

Sementara Papua selalu diprioritaskan putra-putrinya untuk masuk TNI melalui jalur Akmil dengan jatahnya 20-an orang per Kodam setiap tahun, sehingga setiap tahun ada 40-an putra-putri Papua menjadi anggota TNI melalui jalur Akmil karena di Papua memiliki 2 Kodam.

Terpanggil untuk niat agar  NTT tidak selalu menjadi anak tiri di NKRI karena NTT juga bumi yang melahirkan Pancasila, maka PADMA Indonesia menyerukan:

Pertama, mendesak Komisi I DPR RI, Menteri Pertahanan dan Panglima TNI, agr segera membentuk Korem Sumba dan Kodam EL Tari NTT pada 5 Oktober 2021 mendatang, bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata.

Kedua, mendesak Komisi I DPR RI, Menteri Pertahanan dan Panglima TNI, memperhatikan putra-putri NTT agar diterima di Akmil NKRI, sehingga mereka tidak lagi tergiur untuk masuk Akmil di luar negeri seperti USA dan Australia karena merasa didiskriminasi dan dianaktirikan di NKRI.

--- Guche Montero

Komentar