Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TAJUK Pancasila: Ideologi Rasional 19 Jun 2018 09:03

Article image
Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia. (Foto: Ist)
Pancasila merupakan ideologi rasional yang mampu menembus pelbagai konsep hidup baik yang ada dalam masyarakat Indonesia, yang darinya dapat dijadikan rujukan kolektif-rasional hidup bersama.

Pengalaman berdarah seperti kebangkitan Nazi ataupun komunisme Stalin memunculkan kecurigaan dan pesimisme terhadap ideologi. Fakta kejahatan kemanusiaan dikaitkan dengan peran ideologi. Filosof Hannah Arendt dan Richard Rorty, misalnya, merangkum dua alasan umum diskrebilitas terhadap ideologi.

Pertama, klaim ideologi yang hakulyakin dapat memberikan penjelasan menyeluruh terhadap semua peristiwa masa lalu, masa kini dan masa depan. Bersembunyi di balik klaim ideologi ini upaya melegitimasi kebenaran absolut. Pendukung kebenaran ini membangun legitimasi atau monopoli kekuasaan, sehingga tidak memberikan peluang bagi adanya alternatif kebenaran lain ataupun kritik.

Kedua, karena ideologi mengklaim dapat menjelaskan apapun, maka ideologi memisahkan manusia dari realitas konkret. Masyarakat dijauhkan dari pengalaman karena adanya propaganda totaliter dan sistematis untuk melenyapkan kesadaran kritis manusia. Propaganda dipakai terutama untuk membuat masyarakat rasional menjadi sekadar massa yang patuh total pada ideologi, juga terutama memuaskan kebutuhan  massa melarikan diri dari persoalan hidup yang nyata.

Mungkin analisis Karl Marx penting di sini di mana ia menyebut adanya upaya menciptakan “kesadaran palsu” (false conciusness) agar masyarakat tidak mengambil posisi kritis terhadap ideologi yang diterapkan.

Di tengah kepercayaan terhadap ideologi, Pancasila muncul sebagai ideologi rasional yang dilahirkan dari diskursus komunikatif bangsa Indonesia. Meminjam analisis Rawls, Pancasila yang digali Soekarno menjadi ideologi rasional setelah adanya konsensus lintas batas pelbagai kalangan multikultural Indonesia mulai proses perumusan hingga penetapannya.

Pancasila juga merupakan konsensus lintas batas dari berbagai aliran pemikiran dan ideologi dokrin komprehensif. Soekarno misalnya mempertemukan marxisme, Islamisme, dan nasionalisme ketika berbicara tentang Pancasila.

Selanjutnya, eksistensi Pancasila sebagai ideologi rasional tersebut juga ditunjukkan melalui kesediaan para perumus menerima Pancasila meskipun berlandas pada argumentasi atau pemikiran berbeda. Soepomo dengan pemikiran Negara integralistik Adam Muller, golongan Islam dengan penegakkan ajaran Islam, ataupun kaum nasionalis bersepakat menerima Pancasila sebagai ideologi rasional.

Pancasila merupakan ideologi rasional yang mampu menembus pelbagai konsep hidup baik yang ada dalam masyarakat Indonesia, yang darinya dapat dijadikan rujukan kolektif-rasional hidup bersama.

Pancasila sebagai ideologi rasional itu juga dapat ditemukan dalam perumusan sila Pertama Pancasila. Sila “Ketuhanan dengan menjalankan syri’at Islam bagi para pemeluknya” diganti menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa.” Dalam peristiwa penggantian yang dikenang sebagai Piagam Jakarta itu, golongan Islam dan golongan Kebangsaan bersepakat membangun konsensus lintas batas yang melepaskan diri dari doktrin komprehensifnya demi menjaga kesatuan bangsa. Golongan Islam tidak memaksakan klaim pembenarannya, sehingga Pancasila sebagai ideologi rasional dapat menembatani kebinekaan budaya bangsa.  

Galian Soekarno yang telah melewati konsensus lintas batas menghadirkan ideologi Pancasila sebagai ideologi rasional yang diterima bangsa Indonesia. Penerimaan tersebut tidak dipaksakan karena klaim absolutnya, tetapi karena digali dari kedalaman dan keluasan pikiran-jiwa bangsa Indonesia, selanjutnya disepakati melalui konsensus rasional yang mengakomodasi realitas multikultural Indonesia.

Meskipun Pancasila diterima sebagai satu-satunya ideologi bangsa, namun penggalian makna dan nilai Pancasila tetap harus dilakukan karena kedalaman dan keluasannya. Imbasnya, Pancasila terhindar dari pembakuan ataupun pembenaran ideologis yang sering disematkan kepada setiap ideologi.

Salam redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar