Breaking News

RESENSI Pancasila: Mozaik Kemanusiaan dari Ende (Flores) untuk Nusantara 01 Jun 2020 22:06

Article image
Kita semua disatukan dalam nilai kemanusiaan untuk saling menghargai, citarasa kebangsaaan harus mengalir dalam nadi kita.

Oleh: Nando Watu*

Bingkisan huruf yang terangkai dalam sampul "mozaik kemanusiaan dari Ende (Flores)untuk Nusantara" ini ditulis terinspirasi dari Film Mgr. Soegija yang pernah penulis saksikan di Aula Abdon Longinus Da Cunha, Paroki Santo Yoseph Mautapaga, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Film perdana tentang  Pahlawan Indonesia ini diputar di Ende berkat usaha kerjasama Orang Muda Katolik (OMK) se-Kota Ende dengan team produser film Soegija dan diputar sejak tanggal 4-7 Oktober 2012 silam. 

Dalam pemutaran Film ini hadir salah satu aktris penting yakni Annisa Hertami yang berperan sebagai Perawat. Dan tak disangka, pada moment langka tersebut saya dapat bertemu langsung dengan sang bintang utama, tokoh wanitanya, yang mana pada saat hari puncak pemutaran film pada tanggal 7 Oktober, bertepatan dengan Hari Ulang Tahunnya yang ke-24. 

Dalam satu sesi dialog usai pemutaran Film tersebut, Annisa Hertami menegaskan bahwa film ini adalah 'sebuah rajutan atau mozaik yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan merupakan film perdana dari perjuangan kaum minoritas dalam memperjuangkan kemerdekaan."

Mendengar ungkapan sang bintang utama ini, naluri dan pikiran penulis langsung teringat pada sosok Sang Proklamator, Soekarno, peletak dasar nilai-nilai kemanusiaan melalui butir-butir Pancasila.

Dan tak terbantah bahwa Kota Ende merupakan locus permenungan Soekarno pada saat masa pengasingan (1934-1938).

Pancaran Nilai Kemanusiaan Universal

Secara historisitas, tak ada benang merah yang menjadi pengikat atau penghubung yang mempersatukan antara Hertami dan Soekarno; atau Film Mgr. Soegija dengan Ende. Namun hemat penulis, terdapat beberapa pokok pikiran yang hendak diangkat sebagai pijakan pemikiran dalam lensa Hertami, Sokarno, Ende dan Film Mgr. Soegija untuk mengangkat nilai-nilai kemanusiaan.

Pertama, Film Soegija adalah film yang mewakili kaum minoritas  dalam perjuangan kemerdekaan. Kaum minoritas dalam pemahaman sederhana ditujukkan pada kaum kecil, lemah, sedikit dalam jumlah,  kaum marjinal, serta tidak memiliki kekuatan apalagi akses kekuasaan. Artinya, frasa kaum minoritas sebagai lawan dari kaum mayoritas. Minor berati yang kecil, yang mudah dilupakan, tidak terlalu dihiraukan, bahkan menghilangkan dalam berbagai peristiwa karena dianggap tidak bermanfaat.

Namun berkat Film Mgr. Soegija yang sempat ditayangkan dalam Bioskop dan Televisi, masyarakat (publik) akhirnya terbuka pikiran dan hati sehingga mengerti bahwa ternyata perjuangan dari "kaum kecil" mengandung peran yang luar bisa dahsyatnya dalam merebut kemerdekaan dari tangan kaum penjajah. Kaum minoritas yang tidak diperhitungkan dalam jumlah, namun kualitas perjungan Soegija membawa terang perubahan yang besar bagi kemerdekaan Indonesia.

Sebagaimana peran Soegija yang mewakili kaum minoritas, demikian pual dengan kota Ende, kota tua di Negeri Timur yang secara geografis tepat di tengah-tengah Pulau Nusa Nipa (nama lokal untuk pulau Flores), yang bahkan jarang disebutkan dalam tataran sejarah Bangsa Indonesia. 

Publik tidak terlalu mengarahkan perhatian tentang Ende, namun tidak disangka bahwa justru dari kejauhannya, kecilnya kota, yang mudah dilupakan, jauh dari pusat kota metropolitan (Jakarta), kota ini justru telah dipilih sebagai kota 'penjara tanpa jeruji' yang menginspirasi dan mengilhami "Putera Sang Fajar" dalam meletakkan Dasar Negara Indonesia, Pancasila.

Maka, dalam simpul sejarah bangsa Indonesia, muncul keyakinan dalam ungkapan "tanpa Ende, sejarah Indonesia akan berbeda," sebagaimana diutarakan Wakil Menteri Pendidikan dan  Kebudayaan RI beberapa waktu lalu dalam kunjungan ke Ende untuk proses pemugaran Kembali situs Bung Karno. 

Kota Ende memang kecil, jauh dari pusat Ibukota Negara. Namun dari rahim kota yang sunyi dan kecil, justru terbit dan lahir ilham paling hakiki dalam diri Soekarno.

Publik bahkan tidak pernah membayangkan alasan, mengapa harus Ende? Mengapa bukan Surabaya, Bali, Belitung, Bandung, atau Jakarta?

Team Penerbit Nusa Indah, dalam buku berjudul: "Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara (Nusa Indah, Cet. II,  2006) menulis bahwa Ende yang kecil, sunyi dan terpencil telah menjadi sebuah tempat sekaligus kesempatan permenungan yang panjang  bagi Bung Karno  menempuh suatu proses lintas batas budaya, agama,falsafah hidup, dan yang terpenting adalah lintas batas pengalaman spiritual."

Ende telah menjadi 'Tanah-Ibu' yang mengandung Soekarno, kotekstualitas Ende saat itu, tempat yang sunyi, sepi; justru menjadi pergulatan spiritul dan emosionalnya dalam mengejawantahkan dan mendalami nilai-nilai luhur bangsa. 

Di kesunyian Kota Ende-lah embrio Pancasila lahir dalam wujud yang  disebutnya butir-butir mutiara.

Kedua, Anisa Hertami adalah sosok seorang Muslim, dalam film Soegija. Beliau berperan sebagai seorang Katolik dengan nama Maria (Mariem). Penokohan yang melampau lintas batas agama namun masih berpijak pada kemanusiaan, itulah visi yang hendak diangkat dalam Film Soegija tersebut.

Annisa adalah salah satu Surah dalam Alquran, Surah An-Nisa' (Wanita) terdiri atas 176 ayat dan tergolong Surah Madaniyyah. Dinamakan An-Nisa (wanita) karena dalam Surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita. Juga merupakan Surah yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain. Kini terasa lengkaplah sudah; melalui Film Soegija, terungkap kepribadian Maria dan Annisa. Pertemuan dua pribadi dalam satu insan (two in one), Maria yang berkepribadian Annisa, serentak Annisa yang berkarakter Maria. Annisa yang beragama Islam dan berperan sebagai Mariem yang beragama Katolik, seakan telah terlebur dalam diri Annisa.

Apa yang bisa dipelajari dari Anisa dan Mariem, tak lain adalah nilai toleransi.

Ende adalah kota yang kuat dalam menjunjung toleransi dan penghargaan yang tinggi terhadap perbedaan, kita berbeda tetapi satu bukan tanpa dasar. Semangat budayalah yang mengikat perbedaan yang ada. Masyarakat Lio-Ende mengenal istilah "kita menga se-LIO, yang mengandung arti se-Lisa, se-Ine se-One. (kita hanya satu rumpun, satu ibu, dan satu rumah).

Filosofi kebersatuan inilah yang mengakari tiap tindakan dan tutur kata orang-orang Lio-Ende.

Tak heran seperti di daerah Ndona, sebuah daerah pinggiran dari kota Ende, bila saat perayaan Natal dan Paskah tiba, justru yang menjadi pengawal keamanan adalah para Remaja Mesjid. Sebaliknya, pada saat Hari Raya Idul Fitri, yang menjaga keamanan adalah para pemuda Katolik. Demikian pula cerita di Ndori, sebuah daerah pantai Selatan Kabupaten Ende, dalam membangun Kapela Katolik justu menjadi Ketua Panitia adalah seorang Haji, atau saat lomba MTQ justru menjadi pendamping atau orang tua asuh adalah orang tua Katolik. 

Bukan soal agama yang hendak ditonjolkan dalam contoh pengalaman dan kesaksian hidup dinatas, namun sisi kemanusiaan; bahwa kita itu satu. Itulah semangat yang dihidupi oleh  masyarakat Flores yang hidup di Pulau Bunga ini. Citarasa kebangsaan sunggguh mewarnai pola hidup dan perilaku manusia Flores.

Bila berkaca pada konteks Global, buah pikir multikulturalisme dan pluralisme yang menjadi pergolakan para filsfuf dari negeri barat, sering menjadi perdebatan di ranah-ranah diskusi di kota besar seperti Jakarta. Namun justru yang mempraktekkan yakni daerah-daerah kecil, Flores (Ende, misalnya). 

Timbul pertanyaan, apakah nilai kemanusiaan itu bernilai bila diperdebatkan atau dipraktekkan?  

Ketiga, bentuk final yang kita kenal saat ini dengan nama Pancasila sesungguhnya sudah dirumuskan oleh Bung Karno saat masa pengasingan di Ende (1934-1938) yang ia sebut sebagai burit-butir Mutiara. 

Untuk mengenang kembali fakta sejarah lahirnya Pancasila di Ende, pada batu prasasti di bawah patung Bung Karno tertulis “di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila." 

Sejarah mencatat bahwa sebelum merampungkan bentuk definitif Pancasila seperti yang kita kenal saat ini, mutiara kemanusiaan dari Ende itu yakni kebangsaaan, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan Ketuhanan yang berkebudayaan. 

Kelima butir mutiara ini atau kelim sila ini bisa dikristalisasi menjadi tiga butir penting atau Trisila, menjadi sosio nasionalisme, sosio demokrasi dan ke-Tuhan-an. Ketiga Sila ini selanjutnya menjadi diskursus para oleh pendiri bangsa dengan Eka Sila yaitu Gotong Royong.

Ende: Prasasti Nilai Kultural

Dalam tradisi budaya Lio-Ende, semangat gotong-royang adalah fondasi dalam praktek hidup harian. Segala aktivitas sosial selalu berakar dalam nuansa kerjasama. Membangun rumah adat, misalnya, selalu ada nuansa kebersamaan, mulai dari tanggungan bahan atau materi, tenaga kerja, hingga kebutuhan dapur. Semua akan mengambil bagian sesuai dengan perannya masing-masing. Semangat kerjsama atau gotong-royong ini terungkap dalam semboyan; "to'o se'e mbana sama, boka ngere ki bere ngere ae" (berdiri dan berjalan selalu bersama ibarat ilalang yang tumbang dan air yang mengalir). Artinya, dalam situasi dan kondisi apapun, selalu bersama-sama dan tidak akan pernah putus.

Marilah kita satukan hati, walau berbeda dalam berpikir namun perlu satu nafas dalam tindakan untuk saling menghargai perbedaan, menjunjung toleransi, dan agama bukanlah sekat untuk saling membatasi satu terhadap yang lain. 

Ibarat Mariem dan Soekarno yang menjadi pribadi lintas batas, begitu pula seharusnya spirit yang mengalir dalam tubuh dan jiwa kita sebagai manusia Indonesia.

Kita semua disatukan dalam nilai kemanusiaan untuk saling menghargai, citarasa kebangsaaan harus mengalir dalam nadi kita bahwa kita satu dalam rumpun (se- lisa) manusia Indonesia, satu dalam Ibu (se-ine) Pertiwi, Tanah Air Indonesia dan satu dalam Rumah (se-one), Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Kita Berbeda tetapi tetap satu jua, Bhinneka Tunggal Ika. Selamat Hari Lahir Pancasila. 

*Penulis adalah Kepala Desa Detusoko Barat, Peminat sosial dan budaya, tinggal di Ende.

Komentar