Breaking News
  • Bengkulu inisiasi koridor gajah di bentang Kerinci Seblat
  • Gubernur Sumbar pecahkan rekor MURI pantun terbanyak
  • Ibrahimovic teken kontrak baru di MU pekan ini
  • Kanselir Jerman kritik Turki telah selewengkan fungsi Interpol
  • PSG menang 6-2 atas Toulouse, Neymar cetak dua gol

TAJUK Pancasila-ku, Pancasila-mu, Pancasila-kita 01 Jun 2017 06:23

Article image
Penghayatan Pancasila yang unik dan khas akan mengibarkan nilai-nilai Pancasila ke penjuru nusantara. (Foto: Ist)
Penghayatan "Pancasila-ku" dan "Pancasila-mu" harus berada dalam “Pancasila-kita”. Artinya, kita harus menempatkan penghayatan Pancasila yang berbeda-beda dalam konsensus Pancasila sebagai dasar, falsafah, dan ideologi negara.

[MENURUT anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda: “Philosofische grondslag” dari pada Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia yang kekal dan abadi].

Demikian bunyi petikan pidato Soekarno, pada 1 Juni 1945. Di hadapan sidang BPUPKI, lahirlah buah rohani perjuangan Indonesia: Pancasila.

[Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya ialah Panca Sila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi].

Indah dan mengharukan merenungkan lanjutan pidato Soekarno ini: Negara Indonesia, kekal dan abadi dibangun atas dasar Pancasila!

Soekarno meyakini sungguh dari perjalanan panjangnya yang berdarah-darah memperjuangkan Indonesia: perjalanan menghirup dunia akademis di penjajahan, perjalanan mengunjungi para pejuang tanpa nama di medan perang kemerdekaan, perjalanan sunyi di daerah-daerah penjajahan, dan atau perjalanan kebhinekaan bertemu aneka perbedaan kultur Indonesia yang indah.

Kita perhatikan, kata Soekarno: “Menurut anggapan saya…”, begitu katanya diawal pidatonya. Penghayatan Pancasila dimulai dari “pengalamanku”, pengalaman pribadi. Inilah “Pancasila-ku”: refleksi Pancasila hendaknya tidak berada pada tataran artifisial, sebatas diungkapkan tetapi masuk dari inti kedalaman diri. Pancasila perlu masuk dalam kedirian pribadiku sebagai warga negara, seturut pengalamanku hidup sebagai warga negara Indonesia.

Namun, pengalaman Pancasila-ku yang unik tentu saja tidak menutup penghayatan Pancasila yang khas dari sesama lainnya. Kata Soekarno dalam pidatonya:.”Saya katakan lagi setuju! Yang Saudara Yamin setujui, yang  Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang sdr. Sanoesi setujui, yang sdr.Abikoesno setujui, yang sdr.Lim Koen Hian setujui.” Soekarno menghormati cara orang lain menghayati Pancasila berdasarkan konteks mereka.

Dalam pusparagam kultural dan sejarah Indonesia, tentu penghayatan Pancasila-ku yang unik, tidak dapat dipaksakan kepada orang lain. Maka, selain Pancasilaku, ada “Pancasila-mu”: penghayatan sesama warga Indonesia terhadap Pancasila dari latar belakang kehidupannya yang unik dan khas pula. Penghayatan Pancasila-mu hanya dapat terjadi jika ruang kehidupanku ada toleransi, penghargaan terhadap keunikan dan martabat orang lain dengan penghayatan Pancasila yang berbeda denganku.

Namun, penghayatan Pancasila-ku dan Pancasila-mu harus berada dalam “Pancasila-kita”. Artinya, kita harus menempatkan penghayatan Pancasila yang berbeda-beda dalam konsensus Pancasila sebagai dasar, falsafah, dan ideologi negara. Lagi ujar Soekarno: “Kita bersama-sama mencari persatuan philosophische grond-slag, mencari satu “Weltanschauung” yang kita semua setuju.” Kita mempunyai satu komitmen bersama, baik Pancasila-ku dan Pancasila-mu mewujudkan Pancasila-kita, yakni berkomitmen pada nilai-nilai Pancasila sejak dahulu kala, tetapi tetap relevan sepanjang zaman.

Penghayatan Pancasila-ku dan Pancasila-mu hendaknya diletakkan dalam konsensus Pancasila yang telah disepakati bersama: Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan demi Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Indonesia.

Kita pasti terkejut mendengar indeks Ketahanan Nasional dari Labkurtans Lembaga Ketahanan Nasional yang mengeluarkan survei mengejutkan: dalam kurun tujuh tahun terakhir (2010-2016) merosot dari skor 2,31 (2010) menjadi 2,06 (2016). Nilai-nilai ideologis seperti toleransi, persamaan hak, keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam Pancasila kurang diminati dan dinternalisasi oleh masyarakat.

Semoga penghayatan Pancasila-ku, Pancasila-mu, Pancasila-kita mengangkat dan mengaktualisasikan Pancasila dalam Negara Indonesia, kekal dan abadi.

Selamat merayakan Hari Lahirnya Pancasila.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar