Breaking News

HANKAM Panglima TNI: Tidak Ada Masalah antara TNI dan Polri 27 Sep 2019 07:28

Article image
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Marsekal Hadi Tjahjanto. (Foto: Ist)
Perbantuan militer kepada kepolisian telah diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Marsekal Hadi Tjahjanto membantah adanya kabar bentrok antara aparat TNI dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di Wisma TNI Angkatan Laut Lumba-Lumba, Jakarta, Rabu (25/9/2019) malam.

Hal ini disampaikan Hadi saat jumpa media di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia, Jakarta, Kamis (27/9/2019). Jumpa pers itu juga dihadiri seluruh kepala staf angkatan, Kapolri, dan Menkopolhukam Wiranto.

Menurut Marsekal Hadi, prajurit di lokasi kejadian hanya ikut membantu aparat Polri yang hendak mengusir para demonstran agar keluar dari area militer tersebut.

“Yang terjadi di lapangan kemarin, justru prajurit marinir mampu menyelesaikan permasalahan di lapangan dengan bisa menghalau para pengunjuk rasa untuk dipukul mundur, atau dimundurkan, sampai ke Senayan atau Bendungan Hilir,” ujar Marsekal.

Hadi menegaskan, perbantuan militer kepada kepolisian telah diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. Saat ini pun, lanjut dia, TNI telah mengerahkan tiga matra untuk ditempatkan di lokasi-lokasi strategis, semisal dekat Istana Negara dan sekitar gedung DPR-MPR, Jakarta.

Dalam konteks unjuk rasa pada Rabu lalu, demonstran mesti dicegah agar tidak memasuki kompleks Wisma TNI AL Lumba-Lumba. Sesuai aturan yang berlaku, mereka tidak diperkenankan memasuki area instansi militer.

Maka itu, dia menegaskan, personel TNI-Polri semata-mata menjalankan tugas pada saat kejadian.

“Sampai saat ini pun tidak ada permasalahan antara TNI dan Polri terkait dengan tugas pengamanan,” ucap dia.

Hadi mengaku, tak mempersoalkan bila tembakan gas air mata sempat ditembakkan hingga memasuki area wisma TNI AL itu. Menurut dia, kejadian demikian wajar adanya dalam situasi pengamanan massa.

“Di depan Istana Negara pun pada waktu unjuk rasa, kantor saya di Merdeka Barat juga kemasukan gas air mata. Hampir masuk ke halaman belakang. Sama halnya dengan yang di Mess Lumba-Lumba,” pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar