Breaking News

INTERNASIONAL Para Pemimpin Dunia Kutuk Serangan Bom di Sri Lanka 22 Apr 2019 10:57

Article image
Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, sedang berbicara kepada wartawan di Kolombo, Sunday (21/4/2019). (Foto: The Guardian)
Bom Hari Paskah di tiga gereja dan hotel mengakibatkan lebih dari 200 orang meninggal dan 450 luka-luka.

KOLOMBO, IndonesiaSatu.co -- Para pemimimpin politik dan agama seluruh dunia mengutuk aksi bom yang menewaskan lebih dari 200 orang yang menargetkan Gereja Katolik dan hotel mewah di Sri Lanka pada Hari Minggu Paskah.

Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban tewas mencapai angka 207 tapi diperkirakan akan terus bertambah sementara yang mengalami luka berat maupun ringan mencapai lebih dari 450 orang. Puluhan orang di antaranya adalah orang asing, lima di anaranya warga negara Inggris, demikian dilaporkan The Guardian (21/4/2019).

Perdana Menteri Inggris Theresa May, menyebut peristiwa tersebut sebagai “mengerikan”, sementara Justin Welby, Uskup Agung Canterbury, menyerukan solidaritas terhadap “warga Sri Lanka dalam doa, turut berduka dan solidaritas seraya menolak semuah kekerasan, kebencian dan  semua pemecah belah”.

Donald Trump menyampaikan ucapan turut berduka kepada bangsa Sri Lanka dan mengatakan Amerika Serikat (AS) “siap membantu”, sementara António Guterres, Sekjen PBB mengatakan dia marah atas serangan teroris tersebut dan menekankan “menyucikan semua tempat ibadah”.

Ledakan bom terjadi di tiga gereja yang sedang merayakan Hari Raya Paskah dan pengunjung yang sedang sarapan pagi di restoran Hottel Shangri-La, Kingsbury dan Hotel Cinnamon Grand di Colombo, Ibukota Sri Lanka.

Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe, mengatakan sudah mendapat informasi tentang kemungkinan serangan berdasarkan laporan inteligen lokal sekitar 10 hari lalu bahwa gereja menjadi target utama bom bunuh diri. Namun tidak diketahui kapan persis aksi tersebut akan dilakukan.

Seorang juru bicara Rumah Sakit Nasional mengatakan di antara para korban di antaranya warga negara AS, Denmark, China, Jepang, Pakistan, Moroko, India dan Bangladesh. Sebelas warga negara asing sudah dikonfirmasi meninggal dunia sementara enam masih hilang

Sedikitnya 160 orang mengalami luka-luka dalam ledakan di Gereja St Antonius di Kolombo dan sudah dirawat di Rumah Sakit Nasional Kolombo, demikian dikutip dari seorang pejabat resmi. Rumah Sakit Pusat Batticaloa di timur kota Kolombo sudah menerima lebih dari 300 korban luka-luka ledakan Gereja Zion.

Menurut pejabat resmi, sebagian besar bom adalah bom bunuh diri. Seorang saksi mata menuturkan seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan bomnya ketika dia tiba di restoran Shangri-La.

Di Gereja St Sebastian di Negombo, dekat Bandara Internasional Sri Lanka, lebih dari 50 orang terbunuh. Atap gereja rontok akibat ledakan, darah berceceran di mana-mana. Tiga polisi dilaporkan ikut tewas dalam sebuah ledakan.

Sumber di kepolisian menyebutkan kelompok ekstrimis Islam bernama National Thowheeth Jama’ath berada di balik serangan tersebut. Wickremesinghe mengatakan informasi akan adanya serangan tersebut belum dibagikan kepada dirinya maupun anggota kabinet. “Sembari penyelidikan berjalan kita harus mencari tahu apa motif jelas dari serangan tersebut,” katanya.

Wickremesinghe mengatakan prioritas utama pemerintah saat ini adalah menangkap teroris dan bahwa penyelidik akan mencari tahu apakah masih ada pelaku lain dalam jaringan luar negeri.

Uskup Agung Kolombo, Malcolm Ranjith, menyerukan publik untuk membantu para korban, meminta para dokter untuk terus bekerja meskipun hari libur dan warga diminta untuk menyumbangkan darahnya.

Sekitar 1,2 juta dari 21 juta penduduk Sri Lanka beragama Katolik. Lebih dari sepertiga beragama Budha. Minoritas lain beragama Islam dan Hindu.

Perhimpunan umat Muslim Sri Lanka mengeluarkan kutukan atas serangan bom tersebut dengan mengatakan “saudara dan saudari umat Kristiani pada hari Paskah, juga yang berada di Hotel-hotel di Kolombo”. “Kami berkabung atas kepergian orang tak berdosa akibat ulah para ekstrimis dan elemen kekerasan yang ingin memecah belah antar umat beragama dan kelompok etnis untuk mewujudkan agenda mereka,” demikian pernyataan.

Dilaporkan, sudah terjadi peningkatan ketegangan intercommunal tension di Sri Lanka selama beberapa tahun belakangan ini. Tahun lalu, terjadi 86 peristiwa diskriminasi, ancaman dan kekerasan terhadap umat Kristiani.

Tahun ini, National Christian Evangelical Alliance of Sri Lanka (NCEASL), mencatat 26 kejadian, termasuk satu yang diduga dilakukan para biksu Budhis pada  25 Maret lalu.

Vladimir Putin, Emmanuel Macron dan para pemimpin dunia lainnya mengutuk serangan bom tersebut. Juga, Yousef al-Othaimeen, Sekjen OKI mengutuk kejadian tersebut.

Paus Fransiskus dari Vatikan mengekpresikan duka yang mendalam kepada para korban.

--- Simon Leya

Komentar