Breaking News

REFLEKSI Paradoks Dua 'Perempuan Agung' Krowe Sikka 16 Jan 2020 11:18

Article image
Oleh: Simply Yuvenalis*
Dari dua peristiwa yang berkenaan dengan Mama Maria Kristina dan Mama Alfreda, disarankan agar Bupati Sikka, Robby Idong perlu introspeksi diri dan lebih bijak dalam mengemban amanah rakyat.

REFLEKSI, IndonesiaSatu.co-- Dalam bulan Januari 2020 ini, masyarakat kabupaten Sikka diberi 'kado' untuk merenungkan dan menyadari, lalu menghormati sosok Ibu (mama, red), perempuan yang melahirkan kita anak-anak manusia.

Yang pertama, viralnya Mama Maria Kristina asal Dobo, yang ditangkap Sat Pol PP karena dituduh mencuri vanili miliknya sendiri untuk dijual demi kebutuhan sekolah anaknya.

Tindakan penangkapan oleh Sat Pol PP didasarkan pada instruksi Bupati Sikka tentang panen vanili di Kabupaten Sikka.

Mama Maria Kristina ditahan dan dituduh sebagai maling barangnya sendiri, lalu diproses oleh Sat Pol PP, sehingga Mama ini bukan mendapat solusi untuk kebutuhan anaknya, tetapi justru menjadi biang masalah.

Apakah tindakan Sat Pol PP dan Instruksi Bupati Sikka sungguh pantas untuk Lin Welin Mama Kristina, kesejahteraan keluarganya?

Dalam perspektif hukum, Petrus Selestinus telah memberikan pernyataannya, sebagaimana diberitakan IndonesiaSatu.co.

Sosok kedua adalah Mama Alfreda Da Silva Bapa, yang wafat di Jakarta pada tanggal 10 Januari dan dimakamkan tiga hari kemudian yakni tanggal 13 Januari.

Mama Alfreda ini jarang dipublikasi selama hidupnya; karena sosok yang dikenal pendiam, tanpa banyak kata, mengasihi dan melayani keluarganya.

Namun saat meninggalnya, publikasi media menjadi viral dan kehadiran berbagai kalangan, dari keluarga besar Da Silva dan Mekeng Bemu Aja, keluarga besar Maumere dan Flobamora, tetangga dan sanak kerabat, masyarakat sederhana hingga pejabat negara datang memberi penghormatan serta mendoakan keselamatan jiwanya.

Bupati Sikka, Robby Idong beserta isteri, juga hadir melayat dan saat upacara pelepasan, Bupati Sikka memberikan sambutan mewakili masyarakat Kabupaten Sikka, dengan penampilan santai.

Yang ingin disoroti adalah sosok Bupati Sikka yang berhubungan dengan kedua sosok Mama ini.

Terhadap Mama Maria Kristina, ibu sederhana dan petani dari Dobo, Bupati adalah penyebab penderitaan moril dan materil, yang membingungkan masyarakat sekaligus memalukan martabat perempuan petani ini.

Kebijakan Bupati Sikka yang tidak bijak bagi Mama Maria Kristina, juga ikut meresahkan petani vanili lainnya di Kabupaten Sikka.

Ada pertanyaan dari masyarakat sederhana dengan kebingungan, mengapa kami petani menanam dan merawat vanili di kebun sendiri, tetapi diatur penjualannya oleh Bupati? Mengapa memetik dan menjual vanili dari kebun sendiri justru dituduh pencuri oleh Sat Pol PP?

Semoga apa yang dialami Mama Maria Kristina tidak terjadi pada petani lain dan segera ada solusi bagi Mama Kristina, baik solusi ekonomi dan hukum, maupun terutama langkah pemulihan nama baik dan 'Malin Welin Atabian'.

Mama Maria mengalami nasib tragis yang berbeda dengan Mama Alfreda Da Silva Bapa.

Secuil kesan menggelitik tentang Bupati Sikka. Usai melayat, sudah disampaikan oleh keluarga untuk memberikan sambutan pada saat upacara pelepasan jenazah. Namun hadir pada saatnya, dengan penampilan seperti lagu 'jalan santai ke Mall'.

Di depan sidang perkabungan, di mana ada upacara adat dan hadir pula berbagai pihak, termasuk Menkominfo dan Jend Pol. Gories Mere, Anggota DPR RI, Hugi Parera, Melky Lakalena, Bupati Flotim dan banyak tokoh masyarakat, penampilan Bupati Sikka yang mewakili masyarakat Kabupaten Sikka, tentu tidak elok (etis, red) untuk dipandang pada situasi perkabungan.

Dari dua peristiwa yang berkenaan dengan Mama Maria Kristina dan Mama Alfreda, disarankan agar Bupati Sikka, Robby Idong perlu introspeksi diri dan lebih bijak dalam mengemban amanah rakyat.

*Penulis adalah salah satu sesepuh Sikka, berdomisili di Jakarta.

Komentar