Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

REFLEKSI Paradoks Luka dan Cinta 13 Jul 2017 18:45

Article image
Kehidupan ditandai oleh, antara lain, guratan luka. (Foto: ashscrapyard.wordpress.com)
Ketika Anda memutuskan untuk mencintai, serempak Anda sesungguhnya membuka diri untuk siap dilukai. Tiada cinta tanpa luka.

Oleh Valens Daki-Soo

 

Pada awal tahun 2004 Frank Graziano menulis buku yang cukup menarik kalangan akademisi dunia berjudul Wounds of Love: The Mystical Marriage of Saint Rose of Lima. Buku karya profesor bidang Hispanic Studies pada Connecticut College ini diterbitkan Oxford University Press.

Dalam buku ini, Graziano mengulas sosok Isabella de Flores atau yang lebih dikenal dengan Rosa da Lima. Rosa lahir di Lima, ibukota Peru, pada 20 April 1586. Karena kecantikannya, sang ibu Maria Olivia selalu memanggil putri bungsunya dengan “Rosa” yang dalam bahasa Latin berarti bunga mawar. Nama yang sama kemudian secara spontan disapa Uskup Agung Lima ketika Isabella menerima Sakramen Krisma.

Namun dalam perkembangan lanjut, putri dari Gaspar Flores yang berdarah Spanyol itu menjalani kehidupan asketis yang sangat keras. Rosa merasakan suatu gejolak batin yang mendorong dia untuk menjalani suatu cara hidup khusus: mencintai dan mengikuti jejak Kristus dengan cara radikal. Ia tak berdaya menghalau gejolak batin itu, sehingga akhirnya ia mulai menjalani corak hidup khusus tersebut.

Ia berpuasa tiga hari seminggu dan berpantang dari buah-buahan. Meskipun orang tuanya telah merencanakan perkawinannya dengan seorang pemuda yang mereka sukai, Rosa sering mencoreng wajahnya yang cantik molek dengan kapur agar tampak tidak menarik. Selama 10 tahun ia berjuang keras melawan keinginan orang tuanya untuk mengawinkan dia dengan pemuda itu.

Lebih banyak waktu dia gunakan untuk berdoa dan bertapa. Dia hanya tidur dua jam setiap malam, di atas ranjang yang ditaburi dengan pecahan-pecahan kaca. Tudung kepalanya sangat kasar, makanannya sangat sedikit berupa roti untuk jangka waktu dua-tiga minggu. Pantang dan puasa yang keras ini membuat badannya sangat lemah.

Pada 24 Agustus 1617 Rosa menghembuskan nafas terakhirnya di Lima. Rosa dipandang sebagai perempuan kudus yang luar biasa dengan suatu corak hidup yang luar biasa pula. Cara hidupnya yang diwarnai dengan penyiksaan diri yang super asketis itu sulit ditiru wanita kudus lainnya, bahkan semua orang lain. Pada 12 April 1671 Rosa dikanonisasi menjadi orang kudus oleh Paus Klemens X.

Cara hidup Rosa da Lima ini menarik perhatian Prof Graziano. Dia mengulas cara hidup Rosa da Lima dalam konteks budaya. Graziano juga berusaha menelaah mengapa asketisme dan kesalehan hidup -- yang dari kaca mata masa kini dipandang sebagai sebuah gejala psikopatologis -- malah diagungkan pada abad ke-17.

Lewat bukunya ini, Graziano setidaknya telah memberikan kontribusi berarti pada riset yang berhubungan dengan mistisisme dan interpretasinya selama tujuh abad yang lalu.

Grady C Wray dari University of Oklahoma dalam komentarnya mengatakan, Wounds of Love tidak hanya menelaah kasus Rosa da Lima secara spesifik, tapi mengklarifikasi banyak isu yang berhubungan dengan kekudusan dan mistisisme perempuan. Rosa telah melukai dirinya demi sebuah cinta yang tak pernah dipahami akal sehat manusia pada segala zaman.

Bagian dari Panorama Hidup

Pernahkah Anda terluka? Jika bilang tidak, Anda pasti bercanda. Apakah Anda pernah melukai sesama? Kalau jawab tak pernah, Anda serius bercanda.

Luka? Itu tanda kita masih sepenuhnya hidup di dunia. Salah satu bagian yang selalu ingin dihindari dari kehidupan -- tapi tak mungkin -- adalah luka.

Kehidupan ditandai oleh, antara lain, luka.

Ketika Anda memutuskan untuk mencintai, serempak Anda sesungguhnya membuka diri untuk siap dilukai. Tiada cinta tanpa luka. Setidaknya Anda mesti tabah jika kadang apa yang disebut 'cinta' itu mencederai rasa, misalnya karena harapan yang tak dipenuhi atau kepercayaan yang dicabik kebohongan. 

Namun, inilah "paradoks luka", kalau mau disebut begitu: cinta (bisa) menyembuhkan luka, dan luka (bisa) menguatkan cinta.

Seperti kegelapan justru membuat mata kita lebih awas dan tajam, luka-luka kehidupan dapat menjadikan pribadi Anda lebih kuat dan matang.

Tidak ada anak manusia yang tak pernah jatuh saat belajar berjalan. Ketika jatuh sang bayi kesakitan, menangis dan mulai merasa bahwa kehidupan bisa melukai. Namun, dia akan terus belajar berjalan hingga kedua kakinya perkasa menyangga raga.

Ketika masih bocah di sebuah kampung di Flores bernama Bengga, saya punya hobi 'unik': meloncat dari batu ke batu berukuran besar di bibir pantainya yang super seksi. Berulang kali kaki saya terluka karena 'hobi' itu, namun rasanya tak pernah saya takut apalagi takluk pada luka.

Meski luka adalah salah satu guratan niscaya dalam panorama kehidupan, tak berarti kita dibenarkan untuk selalu melukai sesama dan semesta. Walau ada "paradoks luka" -- istilahku di atas -- itu tidak lantas berarti kita bisa sesukanya menohok hati sesama. 

Manusia modern mungkin sangat rentan dan 'biasa' dengan luka-luka peradaban. Agama pun kerap di(salah)gunakan untuk menyobek kedamaian umat manusia. Ketika kita menatap sesama dengan rasa benci dan dendam, kita telah menggores luka di sukmanya.

Sebenarnya tugas dan tujuan hidup kita sangatlah sederhana: mencintai dengan tulus hati. Ketulusan adalah 'jimat' anti luka. Jika Anda tulus, Anda tak mudah melukai orang lain. Bila Anda tulus, Anda pun tak mudah terluka ketika kebaikan dan pengorbanan Anda diingkari.

Sekadar berbagi, pada awal hari saya -- seperti Anda -- sering berdoa atau duduk hening menyukuri pagi. Hari baru adalah rahmat suci yang dengannya kita diteguhkan untuk melangkah lagi. Saat itulah saya sering mohon kepada Tuhan agar diberi energi Ilahi untuk bisa menenun hari dengan ketulusan hati.

Jika Anda tulus dalam berkarya dan berbakti, Anda pun ambil bagian dalam upaya menyembuhkan segala luka hidup di dunia ini. Kalau Anda rajin kerja, Anda ikut mengurangi pedihnya luka kemiskinan. Kalau Anda menggembirakan orang lain dengan musik atau nyanyian, Anda bisa memberi andil bagi pemulihan luka kesepian dan kesedihan sesama.

Bernyanyilah, karena musik bisa membantu pemulihan luka batin. Seperti juga senyum dan tawa bisa menjadi terapi bagi kegalauan hati.

Obat terbaik untuk segala luka adalah cinta. Dan dalam keyakinan akan cinta Ilahi, segala luka Anda menjadi tanda bahwa Anda adalah ksatria sejati dan pribadi yang teruji.

Dalam cinta ada penyembuhan luka. 

Dalam cinta ada pemuliaan jiwa.

Dalam cinta ada kedamaian nirmala.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, Chairman PT Veritas Dharma Satya (VDS), Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

 

Komentar