Breaking News

NASIONAL ParTha Sebut Human Trafficking sebagai Extraordinary Crime 02 Aug 2019 13:25

Article image
Direktur Advokasi Parinama Astha (ParTha) dan Jaringan Nasional Anti-TPPO, Gabriel Goa. (Foto: Dokpri GS)
Human trafficking sebagai kejahatan dunia kedua setelah perdagangan Narkoba.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Lembaga Advokasi kemanusiaan yang konsen terhadap persoalan perdagangan manusia (human trafficking), Parinama Astha (ParTha) menyebut human trafficking sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang telah mendunia dengan perkembangan pesat di berbagai negara sedang berkembang.

Direktur advokasi ParTha, Gabriel Goa dalam rilis kepada media ini, Jumat (02/8/19) mengatakan bahwa persoalan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau human trafficking sebagai kejahatan dunia kedua setelah perdagangan Narkoba.

"Mayoritas perdagangan orang bersumber dari negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia. Tujuan human trafficking yakni untuk prostitusi paksa, kerja paksa, pelecehan (seksual), intimidasi gender, perdagangan organ dan perdagangan anak," kata Gabriel.

Gabriel menerangkan bahwa International Labor Organization (ILO) merilis, kerja paksa dan perdagangan orang sebagai industri global yang bernilai sekitar USD 150 milyar.

Estimasi tahun 2016, sebanyak 45,8 juta orang diperbudak di dunia menurut Global Slavery Indeks. Dari jumlah tersebut, menurut data UNICEF, sekitar 2 juta anak yang dieksploitasi melalui jaringan perdagangan seks global setiap tahunnya.

Darurat Penegakan Hukum

Dikatakan Gabriel, Lembaga ParTha dan Jaringan Nasional (Jarnas) Anti-TPPO menemukan fakta terkait lemahnya (darurat, red) proses penegakan hukum terhadap para pelaku dan aktor intelektual human trafficking segingga tidak menimbulkan efek jera. Bahkan, sindikat jaringan human trafficking terus terjadi secara masif dan sistematis ke semua lini, bahkan turut melibatkan segelintir penentu kebijakan dan kaum pemodal.

Gabriel berkomitmen, ParTha dan Jarnas Anti-TPPO terpanggil untuk menyelamatkan para korban human trafficking dan mengatasi persoalan darurat kemanusiaan tersebut, maka  pihaknya mengajak partisipasi aktif masyarakat Indonesia.

"Kerjasama dan partisipasi aktif segenap masyarakat harus menjadi tindakan luar biasa untuk mencegah, menyelamatkan korban melalui pemulangan, rehabilitasi, integrasi dan reintegrasi, mendampingi dan mengawal penegakan hukum baik di Indonesia maupun di luar negeri serta advokasi kebijakan melalui sebuah Gerakan Masyarakat Anti Human Trafficking (GEMA HATI) dalam memaknai momen Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2019," ajak Gabriel.

Gabriel menandaskan, kesadaran dan gerakan bersama masyarakat sangat dibutuhkan saat ini dan ke depan dalam mencegah dan menyelamatkan anak-anak bangsa Indonesia dari jaringan mafiosi human trafficking.

"Karena human trafficking adalah kejahatan luar biasa, maka pilihan tindakan juga harus luar biasa terutama oleh pemangku kepentingan (kebijakan) baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Mari bersama-sama berjuang menjadi agen (pelaku) gerakan kemanusiaan universal melawan kejahatan kemanusiaan ini," ajak Gabriel.

--- Guche Montero

Komentar