Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KESEHATAN Pasar Alat Kesehatan Indonesia 2018 Tembus Rp 13,5 Triliun 06 Mar 2018 20:28

Article image
Ketua Umum IndoHCF, dr. Supriyantoro menjelaskan penyelenggaraan IndoHCF Award II-2018 di Jakarta, Selasa (6/3/2018). (Foto: ist)
Pasar alkes Indonesia masih didominasi oleh produk luar negeri hingga 92 persen. Sementara produk lokal masih berkutat di level 8 persen.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Pasar alat kesehatan Indonesia tahun 2018 ini diperkirakan melampaui 1 miliar dollar AS, atau setara Rp 13,5 triliun masih didominasi oleh produk luar negeri hingga 92 persen. Sementara produk lokal masih berkutat di level 8 persen. Untuk itu para inovator lokal didorong untuk masuk ke teknologi kesehatan kelas menengah sehingga daya saing produk lokal dari sisi nilai dan volume bisa bersaing.

"Dari data konservatif yang kita peroleh pasar alkes kita itu tembus 1000 juta dolar AS. Kalau dirupiahkan Rp 13,5 triliun. Itu masih didominasi produk luar misalnya alat CT-Scan impor nilainya bisa Rp 8 miliar. Hitung saja kalau mereka menjual 10 buah. Sementara produsen alkes lokal masih berkutat di teknologi tempat tidur yang harganya mungkin hanya Rp 30 juta, bahkan ada yang lebih murah," kata Manajer Eksekutif Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI), Ahyahudin Sodri di sela konferensi pers IndoHCF Award II- 2018 di Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (6/3/2018).

Menurut Ahyaudin, produsen alkes lokal bisa memasuki teknologi menengah yang secara harga dan valuenya bisa diwujudkan. Misalnya saat ini produsen lokal mulai memproduksi alat USG, X-Ray, hingga alat pendukung proses anastesi. Sehingga ditargetkan sekitar tahun 2035 nanti produsen lokal bisa menguasai teknologi alkes kelas menengah tersebut. "Jadi chalenge kita melalui IndoHCF ini kita dorong inovator lokal untuk bisa masuk ke teknologi kelas menengah tersebut," katanya.

Menanggapi tantangan tersebut, Ketua Umum IndoHCF, Dr. dr. Supriyantoro, SpP, MARS mengatakan produk lokal akan bisa menguasai teknologi alkes kelas menengah sebesar 20-30 persen di tahun 2035, sebagaimana ditargetkan ASPAKI. "Saya kira bisa saja. Sekarang ini sdh ada diversifikasi produk dari industri lokal. Misalnya Indofarma tidak lagi hanya produksi obat, tetapi mulai produksi alkes. Kemudian sari ajang IndoHCF Award 2017, inovasi alkes dari UGM berupa selang yang menghubungkan ke otak pada kasus hidrosefalus sudah dikembangkan oleh Kalbe Farma," papar Supriyantoro di kesempatan yang sama.

Selain itu, Supriyantoro juga mengungkapkan beberapa inovasi alkes yang berpartisipasi dalam IndoHCF Award 2017 juga dilirik oleh sejumlah investor, baik lokal maupun asing. Antara lain alat pemeriksa ginjal dan jantung. "Mereka (investor) sudah bertanya kepada kami dan kami bantu untuk perkenalkan. Tetapi perkembangan selanjutnya belum kami update lagi sejauh mana kerjasamanya. Tetapi memang investor asing, mereka bukan hanya memasukan produk ke pasar kita, mereka juga dituntut untuk mendukung produksi alkes lokal dengan peran sebagai investor," katanya.

Ahyahudin menambahkan, memang butuh waktu yang panjang bagi inovasi alkes lokal mencapai tahap produksi. Sebab banyak tahap yang harus dilalui seperti percobaan dan sertifikasi hingga menghasilkan replika. Dari situ akan dinilai sisi teknical visibilty dan economic visibility. "Semuanya diuji secara detail, terutama dari sisi security, apakah aman jika dipakai untuk proses mendukung kesehatan pasien," jelas dia.

--- Sandy Romualdus

Komentar