Breaking News

INVESTASI Pasar Modal Tumbuh Positif di Tengah Ketidakpastian Global 12 Aug 2019 08:59

Article image
Bursa Efek Indonesia (Foto: ist)
Perlambatan ekonomi global ini masih akan mewarnai perkembangan ekonomi domestik dan juga tentunya kinerja pasar modal kita ke depan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Di tengah tingginya ketidakpastian perekonomian global, pasar saham Indonesia masih mencatatkan kinerja positif.

Menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, kondisi tersebut tentunya ditopang oleh kondisi ekonomi makro yang masih solid dengan pertumbuhan ekonomi dapat dijaga di atas 5 persen, inflasi terjaga rendah per Juli 3,32 persen (yoy), dan cadangan devisa kita juga terus tumbuh per Juli 125,9 miliar dollar Amerika Serikat sejalan masuknya dana investor asing.

"Sampai dengan akhir minggu lalu kita melihat, net buy investor asing di pasar saham cukup besar mencapai Rp64,9 triliun ytd dan dipasar SBN sebesar Rp113,4 triliun ytd," ujar Wimboh pada "Peringatan 42 Tahun Diaktifkannya Pasar Modal Indonesia", di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (12/8).

Meskipun penghimpunan dana di pasar modal menggembirakan, lanjutnya, namun tantangan masih besar baik dari global maupun domestik. "Proyeksi perlambatan ekonomi global semakin nyata, berbagai negara melakukan rate cut suku bunga acuannya, termasuk Indonesia. Kita semua harus merespons dinamika ini dengan cepat dan tepat," ucapnya.

Selain itu, kata Wimboh, sampai dengan akhir minggu lalu, penghimpunan dana dari pasar modal cukup menggembirakan, mencapai Rp109,2 triliun dengan emiten baru tercatat sebanyak 29 perusahaan. Sedangkan total dana kelolaan investasi mencapai Rp802,4 triliun atau tumbuh 7,2 persen ytd.

"Namun demikian, kita jangan terlena karena kondisi perekonomian global diperkirakan belum akan membaik. Tensi trade war antara Amerika dan Tiongkok diperkirakan masih berlanjut dan bahkan sudah mengarah ke currency war," pesan mantan Direktur Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) ini.

Wimboh menyebut, kondisi tersebut mengakibatkan prediksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan berbagai Lembaga internasional menjadi semakin nyata dan memberikan tekanan pada perdagangan internasional.

Menurutnya, berbagai negara telah menyadari hal ini dan merespon dengan lebih agresif menurunkan suku bunga acuannya, seperti akhir-akhir ini yang dilakukan oleh India yang menurunkan 35bps, lebih besar dari perkiaraan.

Kemudian, New zaeland menurunkan suku bunga acuannya menjadi yang terendah sepanjang sejarah. Ada pula Thailand diluar perkiraan menurunkan suku bunga acuannya. Begitu juga Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuannya dan juga melonggarkan Giro Wajib Minumumnya.

"Hal ini mengindikasikan tantangan dari perlambatan ekonomi global ini masih akan mewarnai perkembangan ekonomi domestik dan juga tentunya kinerja pasar modal kita ke depan. Untuk itu, Kita semua harus merespons dinamika ini dengan cepat dan tepat," tegas Wimboh.

--- Sandy Romualdus

Tags:
pasar modal

Komentar