Breaking News

INTERNASIONAL Pasca Demonstrasi Massal, Hong Kong Batalkan Debat RUU Ekstradisi ke China 16 Jun 2019 10:27

Article image
Demonstrasi massal warga Hong Kong menolak RUU Ekstradisi ke China Daratan. (Foto: DPA)
RUU Ekstradisi dikhawatirkan dapat digunakan untuk mengekstradisi warga Hong Kong ke China Daratan karena pelanggaran yang dipolitisasi.

HONG KONG, IndonesiaSatu.co -- Pemerintah Hong Kong menyatakan akan menunda pembahasan RUU Ekstradisi ke CHina Daratan menyusul aksi unjuk rasa massal menolak RUU tersebut sejak pekan lalu.

Seperti dikutip dari faz.net, Minggu (16/6/2019), Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam memastikan pembahasan RUU kontroversial itu ditunda dan debat putaran kedua yang rencananya digelar bulan ini akan dibatalkan.

Lam juga menyebutkan, sangat mungkin RUU Ekstradisi tidak akan lolos tahun ini proses pembahasan ditunda pasca demonstrasi besar-besaran yang berujung ricuh minggu lalu.

"Dalam seminggu terakhir, puluhan ribu bahkan jutaan orang telah melakukan aksi protes dan penolakan. Timbul konflik serius yang mengakibatkan sejumlah petugas polisi, wartawan, dan warga cedera. Saya sedih dengan situasi ini," ujar Lam dalam pernyataan resmi pada Sabtu (15/6/2019).

Lam menambahkan, dengan menunda RUU Ekstradisi pemerintah diharakan dapat mengembalikan situasi kondusif dan pelayanan optimal bagi masyarakat Hong Kong.

Pada hari Rabu (12/6/2019) lalu, terjadi bentrokan warga dengan aparat kepolisian setelah puluhan ribu orang mengepung markas besar pemerintah kota, memaksa para anggota parlemen menunda perdebatan mengenai RUU Ekstradisi.

Kalangan pengamat mengkritisi, RUU Ekstradisi dikhawatirkan dapat digunakan untuk mengekstradisi penduduk Hong Kong ke China Daratan karena pelanggaran bisnis yang tidak disengaja namun dipolitisasi.

--- Rikard Mosa Dhae