Breaking News

KEUANGAN Pasca Merger, BTPN Raup Laba Rp1.26 Triliun 15 Aug 2019 11:23

Article image
Salahs atu kantor cabang bank BTPN di Jakarta. (Foto: ist)
Setelah melakukan merger dengan Bank Sumitomo asal Jepang, BTPN mencatatkan berbagai pertumbuhan positif.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co Pasca melakukan merger dengan Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI) pada Februari 2019 silam, Bank BTPN berhasil mencatatkan pertumbuhan posiif. Hingga akhir Juni 2019, BTPN berhasil meraup laba bersih konsolidasi setelah pajak (NPAT) yang dapat diatribusikan kepada pemilik mencapai Rp1,26 triliun, meningkat 15 persen dari posisi tahun lalu Rp1,09 triliun.

Direktur Utama Bank BTPN Ongki Wanadjati Dana dalam konfersnsi pers di Menara BTPN mengatakan, NIM mengalami penekanan dikarenakan biaya dana mengalami kenaikan. "Cost of fund memang naik sehingga berimbas ke NIM yang tertekan,"ujar Ongki di Jakarta (15/8).

Selain mencetak kenaikan laba, pasca merger, BTPN juga kian memperluas segmentasi layanannya pada segmen kredit korporasi.

Hingga Juli 209, tercatat BTPN telah menyalurkan kredit senilai Rp143,4 triliun atau tumbuh 112 persen (year on year/yoy) dibandingkan posisi yang sama tahun lalu senilai Rp67,7 triliun.

"Total penyaluran kredit mencapai Pencapaian ini diimbangi dengan prinsip kehati hatiaan yang tecermin pada angka rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di level 0,8 persen (gross),"timpal Ongki.

Dirinya melanjutkan, jumlah penyaluran kredit merupakan data gabungan dari SMBCI dan Bank BTPN, terhitung sejak efektif merger pada 1 Februari 2019. Namun demikian, jika dihitung secara normal, penyaluran kredit sejatinya bertumbuh 10 persen.

"Hal ini masih sejalan dengan rata rata pertumbuhan kredit industri. Dengan kondisi ekonomi yang menantang, dan situasi perusahaan yang masih dalam fase konsolidasi, pencapaian ini patut kami syukuri," kata Ongki.

Adapun rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) terjaga di level 23,3 persen, masih sangat kuat untuk menopang target pertumbuhan.

Ongki menjelaskan, pertumbuhan kredit semester I tahun 2019 banyak ditopang pembiayaan korporasi, usaha kecil dan menengah (small medium enterprises/SME), pembiayaan konsumer, dan pembiayaan prasejahtera produktif melalui anak usaha, BTPN Syariah.

"Selain fokus melayani existing business, kami juga terus mengembangkan segmen korporasi. Antara lain berpartisipasi dalam pembiayaan sindikasi, project financing di bidang infrastruktur dan energi, trade finance, serta berkolaborasi dengan multifinance untuk pembiayaan otomotif," katanya.        

Ongki menilai pembiayaan ke segmen korporasi dan industri pendukungnya masih memiliki ruang pertumbuhan cukup menjanjikan. Optimisme ini selaras dengan sejumlah agenda pemerintah dalam menggalakkan infrastruktur, mewujudkan pemerataan kesejahteraan dengan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru, serta komitmen meningkatkan kapasitas industri lokal.

"Asia saat ini merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi global dan Indonesia memiliki posisi strategis di dalamnya. Ini adalah kesempatan, termasuk bagi perbankan. Sebagai bagian dari jaringan global SMBC dan dukungan penuh pemegang saham, kami memiliki kapasitas untuk ikut mengoptimalkan peluang tersebut," katanya. 

Di samping menjajaki peluang bisnis baru, Bank BTPN juga tetap menciptakan inovasi produk dan layanan berbasis digital melalui Jenius.

Hingga akhir Juni 2019, total pengguna Jenius mencapai 1,6 juta nasabah, tumbuh 130 persen dari posisi Juni 2018 sebanyak 704 ribu nasabah.

"Salah satu kunci sukses Jenius adalah kemampuan untuk terus konsisten menghasilkan fitur fitur baru yang unik tapi relevan dengan kebutuhan nasabah," katanya.      

Dengan berbagai perkembangan tersebut, Bank BTPN mencatat kenaikan aset sebesar 87 persen, dari Rp99,9 triliun pada Juni 2018 menjadi Rp187,05 triliun pada Juni 2019.

--- Sandy Romualdus

Tags:
btpn

Komentar