Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Pastikan Deportasi Imigran Afrika, Israel Rekrut Relawan Militan 10 Jan 2018 15:46

Article image
Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu. (Foto: DPA)
Para relawan yang direkrut seluruhnya dari pihak sipil dan harus memiliki pengalaman dalam operasi tempur atau operasi keamanan.

TEL AVIV, IndonesiaSatu.co -- Pemerintah Israel memastikan akan melakukan deportasi terhadap imigran dari Afrika pada bulan April mendatang. Dikutip dari laman Welt.de, Rabu (10/1/2018), otoritas Israel di Tel Aviv membutuhkan sedikitnya 100 relawan militan yang akan diposisikan sebagai pengawas dalam proses deportasi.

Para relawan yang akan direkrut seluruhnya dari pihak sipil dan harus memiliki semangat militan serta pengalaman dalam operasi tempur atau operasi keamanan.

Mereka juga akan ditugaskan untuk menyiapkan dokumen teknis-administratif bagi para imigran sebelum dipaksa pulang ke negara-negara asalnya di Afrika.

Mereka juga harus memeriksa harta benda para pencari suaka dan melakukan wawancara untuk mengetahui imigran yang bersedia keluar dengan sukarela dari Israel.

Tugas lain para relawan adalah mengatur jadwal pemulangan dan memastikan para imigran tiba di negara asalnya.

Selain relawan pengawas, Israel mengumumkan pula akan merekrut sekitar 40 penyidik untuk memeriksa semua dokumen imigrasi dan berkas perjalanan para imigan Afrika.

Masa kerja para relawan tersebut telah ditentukan oleh pemerintah Israel yakni dua tahun, terhitung sejak Maret 2018.

Pemerintah Israel mengatakan, meski disebut relawan, setiap orang yang bersedia bergabung akan diberikan bonus hingga 30 ribu shekel atau setara 124 juta rupiah.

Lowongan relawan dibuka hingga April mendatang, sebelum Israel melaksanakan kebijakan deportasi terhadap para imigran Afrika yang masih berada di wilayah Israel.

Kebijakan Israel tersebut ditentang oleh dunia internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara khusus telah mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar membatalkan rencana deportasi.

--- Rikard Mosa Dhae