Breaking News

INTERNASIONAL Paus Fransiskus dan Raja Maroko Nyatakan Yerusalem ‘Warisan Bersama’ Tiga Agama 01 Apr 2019 15:00

Article image
Raja Maroko Mohammed VI menyambut kedatangan Paus Fransiskus. (Foto: Al Arabiya)
Di Maroko, di mana Islam adalah agama negara, penguasa sangat menekankan “toleransi agama” yang membolehkan umat Kristiani dan Yahudi untuk beribadah dengan bebas.

RABAT, IndonesiaSatu.co -- Paus Fransikskus dalam pertemuannya dengan Raja Maroko Mohammed VI nyatakan Yerusalem harus menjadi "simbol hidup bersama secara damai (symbol of peaceful coexistence)" untuk umat Kristiani, Yahudi, dan Muslim. Penegasan tersebut disampaikan pada kunjungan hari pertama Paus Fransiskus ke negeri Afrika Utara tersebut.

Dikutip dari France 24 (30/3/2019), pemimpin spiritual bagi sekitar 1,3 miliar umat dunia tersebut diundang Raja Mohammed VI dalam rangka “dialog antar-kepercayaan (interreligious dialogue)", demikain diungkapkan pihak berwenang Kerajaan Maroko.

Dalam sebuah pernyataan bersama, dua pemimpim mengatakan Yerusalem adalah “warisan bersama umat manusia dan terutama para pengikut tiga agama monoteistik."

"Karakter khusus multi-agama, dimensi spiritual dan identitas kultural yang istimewa dari Yerusalem... harus dilindungi dan dipromosikan," kata dua tokoh dunia tersebut dalam deklarasi yag dirilis Vatikan.

Raja Maroko mengepalai sebuah komite yang dibentuk Organisasi Kerja sama Islam yang bertujuan untuk melindungi dan merestorasi peninggalan agama, kebudayaan, dan arstitektur Yerusalem.

Pernyataan bersama dibuat setelah Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, yang memantik amarah seluruh dunia Muslim, terutama warga Palestina yang melihat Yerusalem sebagai ibu kota dari negara masa depan mereka.

Perbaikan hubungan dengan agama-agama lain sudah menjadi prioritas Paus asal Argentina, yang selama masa kepemimpinannya dihadapkan dengan gelombang tuntutan adanya pelecehan seksual anak yang dilakukan para imamnya.

 

Melawan Ektrimisme

Berbicara di hadapan ribuan warga Maroko yang bertahan di bawah guyuran hujan untuk menyambut acara kedatangannya, Paus Fransiskus mengatakan sesuatu yang "esensial untuk melawan fanatisme ".

Di hadapan para peserta pelatihan dakwah Islam, Paus menekankan perlunya “persiapan yang sesuai dari tuntunan agama masa depan”.

Katolik adalah minoritas kecil Maroko, di mana 99 persen dari populasinya beragama Muslim. Raja Maroko dihormati di seantero Afrika Barat sebagai “komandan umat beriman (commander of the faithful)".

Berbicara pada perayaan di Masjid Tour Hassan dan berdekatan dengan pekuburan besar di Rabat, Raja juga menyuarakan perlawanan terhadap radikalisme.

"Bahwa yang para teroris punyai bukan agama, itu tepatnya ketidaktahuan tentang agama. Agama tidak lebih dari sebuah alibi... karena ini ketidaktahuan, karena ini intoleransi," katanya.

Paus Fransiskus menuju tempat upacara menggunakan mobil kepausannya (Popemobile), melewati barisan bendera-bendera Maroko dan bendera Kota Vatikan. Diperkirakan terdapat 12.000 orang menyambutnya di lapangan terbuka.

Bangunan-bangunan sudah dicat ulang, halaman rumput ditata dan petugas keamanan siaga menyambut paus pertama yang mengunjungi Maroko sejak Paus Yoh Paulus II pada 1985.

Sekitar 130.000 orang menyeberang menuju Rabat untuk menyaksikan kunjungan Paus.

 

'Hak atas masa depan

Setelah berhenti dekat istana raja, Paus Fransiskus dan Raja Mohammed VI mengunjungi institut di mana sekitar 1.300 mahasiswa sedang belajar untuk menjadi imam dan pendakwah.

Di sana mereka mendengar dari seorang mahasiswa Perancis dan seorang Nigeria yang mengajarkan “Islam moderat” dan didukung oleh Raja Mohammed VI.

Di Maroko, di mana Islam adalah agama negara, penguasa  sangat menekankan “toleransi agama” yang membolehkan umat Kristiani dan Yahudi untuk beribadah dengan bebas.

Tetapi warga kerajaan Maroko otomatis menjadi Muslim. Kemurtadan mendapat hukuman sosial, dan membujuk seseorang untuk murtad dari agamanya adalah sebuah serangan kriminal.

Siapa saja yang berusaha "memalingkan iman seorang Muslim atau mengubanya ke agama lain" diancam dengan penjara hingga tiga tahun.

Setelah bertahun-tahun di bawah kegelapan, sejak 2017 sejumlah kecil dari mereka yang beralih dari imannya sudah diberi hak untuk hidup "tanpa penganiayaan " dan "tanpa diskriminasi".

Sekitar 30.000 hingga 35.000 umat Katolik tinggal di Maroko, sebagian besar dari mereka berasal dari sub-Sahara Africa.

Paus mengakiri jadwal hari Sabtu, dengan melakukan pertemuan dengan para migrant, termasuk anak-anak yang mengenakan topi beraneka warna.

"Setiap orang memiliki hak untuk sebuah masa depan," kata Paus Fransiskus, yang pada setiap kunjungannya selalu menyoroti kondisi buruk yang dialami para migran dan pengungsi.

Paus kritik "pengusiran kolektif " dan mengatakan jalan bagi migran untuk meregularisasi status mereka harus didukung.

Caritas centres di Rabat, Casablanca dan Tangiers menerima 7.551 pendatang baru di 2017.

Sejumlah orang mengambil jalur laut dari Maroko ke Spanyol karena sulit bagi mereka melewati Libya.

--- Simon Leya

Komentar