Breaking News

INTERNASIONAL Paus Fransiskus di Maroko: Gereja Tumbuh Bukan Melalui Proselitisme 01 Apr 2019 12:45

Article image
Paus Fransiskus diterima Raja Maroko, Mohammed VI di istananya dalam kunjungan dua hari, 30-31 Maret 2019). (Foto: France 24)
Misi kita tidak ditentukan oleh jumlah atau wilayah yang kita kuasai, tetapi oleh kapasitas kita untuk menghasilkan perubahan dan untuk membangkinkan mujizat dan belas kasih.

RABAT, IndonesiaSatu.co – Paus Fransiskus mengatakan misi komunitas Katolik di tengah umat Maroko yang mayoritas Muslim bukan untuk mengubah agama tetangga tetapi hidup dalam persaudaraan dengan sesama beragama lain.

Paus  mengatakan ini dalam kunjungan dua harinya ke Maroko, Sabtu-Minggu (30-31/3/2019) sebagaimana dilaporkan Reuters (31/3/2019). Pada kunjungan tersebut Paus menekankan dialog antar kepercayan. Paus juga mendukung upaya Raja Maroko Mohammed VI untuk menyebarluaskan sebuah bentuk Islam yang mempromosikan dialog antar agama dan menolak kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan.

Umat Katolik Maroko berjumlah  23.000 orang. Sebagian besar adalah warga negara Perancis dan ekspatriat Eropa lainnya dan migran dari sub-Afrika Sahara. Dengan demikian, umat Katolik hanya berjumlah kurang dari satu persen dari total warga Maroko yang berjumlan 35 juta orang.

“Umat Kristiani adalah minoritas kecil di kerajaan ini. Tapi bagi saya ini tidak masalah, walau saya menyadari berkali-kali sebagian dari Anda mengalami kesulitan," katanya dalam pertemuan dengan para pemimpin komunitas Katolik di Katedral Rabat.

Kaum konservatif  Katolik mengeritik sikap Paus yang menentang usaha-usaha mengajak orang-orang di luar untuk memeluk Katolik.

"Gereja tumbuh bukan melalui proselitisme tetapi melalui daya tarik," kata Fransiskus yang disambut tepukan tangan. (Proselitisme adalah sikap meyakinkan orang untuk mengikuti kepercayaan atau iman yang kita anut_red)

“Ini berarti, saudara-saudariku yang terkasih, bahwa misi kita sebagai orang yang dibaptis, sebagai imam dan sebagai pria dan wanita yang  dikuduskan, tidak sungguh ditentukan oleh jumlah atau wilayah yang kita kuasai, tetapi lebih ditentukan oleh kapasitas kita untuk menghasilkan perubahan dan untuk membangkinkan mujizat dan belas kasih,” kata Paus.

Penguasa Maroko tidak mengakui warga Maroko yang berpindah keyakinan menjadi Kristen. Banyak di antara mereka terpaksa harus beribadah di rumah-rumah. Berpindah agama dari Islam ke Kristen dilarang, sebagaimana berlaku di banyak negara-negara Islam. Pindah agama dihukum hingga tiga tahun penjara.

“Masalahnya adalah bukan kapan kita sedikit dalam hal jumlah, tetapi kapan kita tidak berarti,” Kata Paus Fransiskus seraya menambahkan bahwa umat Katolik dipanggil untuk menjadi bagian yang integral dari dialog antar umat beragama di dunia yang “tercabik-cabik oleh kebijakan ekstrimisme dan pemecah-belahan”.

Di hadapan 100.000 umat Katolik  yang memenuhi arena olah raga sebelum kembali ke Roma, Paus juga menekankan perlunya dialog antar agama, seraya mengatakan kita harus menentang “pengelompokan menurut kriteria perbedaan moral, sosial, etnik atau agama”.

Pada hari Sabtu, Paus Fransiskus dan Raja Mohammed VI mengunjungi sebuah institut kerajan yang didirikan untuk melatih para imam dan pria dan wanita pendakwah Islam.

Maroko mempromosikan dirinya sebagai oasis dari toleransi agama di kawasan yang terpecah oleh militansi. Institut tersebut sudah menawarkan pelatihan kepada pendakwah Muslim dari Afrika dan Eropa yang disebut sebagai Islam moderat.

Pada kesempatan tersebut, Paus Frasiskus memuji raja yang menyediakan “pelatihan untuk memerangi semua bentuk ekstrimisme, yang kerap mengarah kepada kekerasan dan terorisme, dan yang mana dalam banyak kesempatanan melahirkan kejahatan terhadap agama dan melawan Tuhan itu sendiri”.

Masih pada hari Sabtu, para pemimpin Yahudi bergabung bersama perwakilan umat Kristiani beradai di barisan depan pada dua kesempatan yang disiapkan oleh Paus dan kerajaan pada dialog antar kepercayaan.

Imbauan Paus Fransiskus bagi dialog antara agama dibuat dengan lebih tajam pada hari Minggu di Katedral Rabat yang juga dihadiri oleh Pater Jean-Pierre Schumacher, seorang rahib Perancis berusia 95 tahun yang lolos dari pembantaian Tibhirine di Algeria.

Pada Maret 1996, tujuh rahib Perancis diculik di sebuah biara di Tibhirine, Algeria Tengah selama terjadinya perang sipil antara pemerintah dan kelompok-kelompok pemberontak Islam.

Para rahib ditahan selama dua bulan dan ditemukan sudah meninggal, kecuali Pater Schumacher yang berhasil lolos.

--- Simon Leya

Komentar