Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

INDUSTRI Pelaku Industri Ingin Formulasi Harga Gas Berbasis Produk 27 Sep 2017 22:58

Article image
Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto dan Menteri ESDM, Ignasius Jonan dalam acara Pembukaan Seminar Pertambangan dan Energi Expo 2017 di Jakarta(Foto: Humas Kemenperin)
Jika harga gas bisa ditekan menjadi USD3 per mmbtu, ada beberapa industri yang berminat seperti PT Pupuk Indonesia, Elsoro Multi Prima, dan Kaltim Metanol Industri/Sojitz.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pelaku industri menginginkan penghitungan harga gas untuk industri agar berbasis pada produk yang dihasilkan, tidak lagi berdasarkan harga tetap. Formulasi ini diharapkan mampu memacu penyerapan gas lokal, seperti dari Blok Masela, Maluku dan Teluk Bintuni, Papua Bara

“Kami juga ingin formulasinya itu berbasis produk, bukan fixed. Sekarang ada sedikit perubahan mengenai formulasi harga. Jadi, kalau formulasi harga belum ketemu, investornya belum bisa jalan,” kata Menperin pada Pembukaan Seminar Pertambangan dan Energi Expo 2017 di Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Menperin mencontohkan, dalam pengembangan proyek industri petrokimia di Masela, para investor berharap harga dasar gas Masela dipatok sekitar USD3 per mmbtu di plant gate. Sementara itu, Kementerian ESDM menaksir bahwa harga gas Masela paling rendah di angka USD5,86 per mmbtu.

Namun demikian, lanjut Airlangga, pihaknya telah mengajukan usulan tersebut ke Kementerian ESDM beberapa waktu lalu. Permintaan ini pun sudah direspons oleh Kementerian ESDM, yang akan mengkaji formulasi harga gas yang diharapkan oleh para pelaku industri.

Menurutnya, jika harga gas itu bisa ditekan menjadi USD3 per mmbtu, ada beberapa industri yang berminat. Mereka adalah PT Pupuk Indonesia, Elsoro Multi Prima, dan Kaltim Metanol Industri/Sojitz. Rencananya tiga industri itu akan menyerap sesuai penawaran pemerintah sebesar 474 mmscfd.

Menperin menyampaikan, pihaknya memprioritaskan percepatan pembangunan industri petrokimia didalam negeri karena sektor strategis ini berperan penting sebagai pemasok bahan baku bagi banyak manufaktur hilir seperti industri plastik, tekstil, cat, kosmetika hingga farmasi.

Dengan harga gas yang kompetitif, daya saing industri petrokimia nasional akan semakin meningkat.

“Industri petrokimia merupakan salah satu sektor yang menggunakan gas bumi sebagai bahan bakunya, dengan menghasilkan produk seperti methane, methanol, dan ammonia serta produk turunan lainnya. Kami tengah fokus mendorong hilirisasi industri dari sektor andalan tersebut,” sebut Airlangga.

 

 

 

--- Ernie Elu Wea

Komentar