Breaking News

HANKAM Pembebasan Sandera di Papua, Jenderal Gatot: Kolaborasi TNI-Polri Gerak Senyap 19 Nov 2017 08:37

Article image
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. (Foto: Ist)
Jenderal Gatot menjelaskan dalam operasi senyap tersebut pasukan gabungan dari Kopasus, Batalion 751 Rider dan Taipur Kostrad melakukan pergerakan sejauh 4,5 km selama 3-4 hari yang diakhiri dengan pertempuran di dua tempat hingga akhirnya KKB mundur.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co Ratusan orang yang disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua berhasil dibebaskan oleh tim gabungan TNI dan Polri.

Ketika ditanya komentarnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan keberhasilan itu hasil dari operasi senyap. Gatot juga mengatakan keberhasilan operasi ini karena kolaborasi antara TNI dan Polri yang merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga keutuhan Indonesia sesuai dengan fungsi masing-masing. 

"Kepolisian menyiagakan dan mengamankan warga sekitar. TNI-Polri bergerak dengan senyap," ungkap Gatot setelah menghadiri acara di Kampus Unisba, Kota Bandung, Sabtu (18/11/2017). 

Jenderal Gatot menjelaskan dalam operasi senyap tersebut pasukan gabungan dari Kopasus, Batalion 751 Rider dan Taipur Kostrad melakukan pergerakan sejauh 4,5 km selama 3-4 hari yang diakhiri dengan pertempuran di dua tempat hingga akhirnya KKB mundur. 

Setelah berhasil menguasai lokasi penyanderaan, Gatot menginstruksikan agar mengutamakan keselamatan sandera. Selanjutnya Kapolda dan Pangdam melakukan evakuasi terhadap para sandera. 

Gatot juga menjelaskan adanya sandera yang merupakan warga asli tetap bertahan di kampungnya dengan penjagaan dari TNI dan Polri. Sementara yang bukan berasal dari kampung tersebut telah diungsikan. 

Terkait KKB yang melarikan diri, Gatot mengatakan hal itu sedang dalam pengejaran.

"Masih dalam pengejaran, tapi fokus saya kesampingkan semuanya. Yang penting adalah sandera harus selamat," ujarnya.

Detail pembebasan sandera

Sebagaimana diberitakan, Kapendam XVII Cendrawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi menceritakan detik-detik menjelang serbuan pasukan TNI Angkatan Darat (AD) di Desa Kimbely, Banti, Papua, yang dikuasai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Pasukan TNI AD terlebih dahulu masuk ke wilayah tersebut sebelum Satgas Terpadu TNI-Polri mengevakuasi warga yang disandera KKB.

"Sekitar pukul 04.17 WIT, para Pasukan Khusus Indonesia atau Kopassus sebanyak 13 orang, dibantu pasukan Raider 751 sebanyak 30 orang bergerak cepat masuk ke daerah sasaran untuk menyerbu atau menguasai perkampungan Kimbely. Dua tim dari Taipur Kostrad bertugas masuk sasaran dan menguasai permukiman Banti," cerita Aidi dalam rilisnya, Jumat (17/11/2017).

Pukul 07.00 WIT, lanjut Aidi, pasukan TNI AD berhasil menguasai daerah tersebut dan melapor kepada Pangdam Cendrawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit. Pangdam lalu memerintahkan prajurit untuk segera menguasai pos pengamanan kelompok separatis.

"Kurang dari dua jam, seluruh medan camp OPM (Organisasi Papua Merdeka) berhasil dikuasai pasukan TNI. Para pemberontak atau separatis berhamburan melarikan diri ke hutan dan gunung di sekitar lokasi penyerbuan," kata Aidi.

Aidi mengatakan TNI belum mengetahui terkait ada-tidaknya korban dari pihak KKB atau OPM dalam penyerbuan di Desa Kimbely dan Banti tersebut.

"Karena saat penyerbuan cuaca berkabut sangat tebal," sambung dia.

Aidi menjelaskan setelah area dinyatakan 'bersih', Satgas Terpadu TNI-Polri mendatangi lokasi untuk memulai proses evakuasi warga ke Tembagapura.

"Sekitar pukul 14.00 WIT, prosea evakuasi berhasil dilaksanakan dengan jumlah korban separatis 347 orang terdiri dari warga pendatang dan asli Papua," ujar Aidi.

Usai proses evakuasi, Satgas Terpadu TNI-Polri tetap tinggal di desa tersebut untuk mengamankan warga yang enggan dievakuasi ke Tembagapura. "Warga yang tinggal meminta jaminan keamanan dari aparat TNI dan jaminan logistik dari Pemda," tutup Aidi.

Evakuasi warga dipimpin langsung Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar, Pangdam XVII Cendrawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit dan Asisten bidang Operasi Kapolri, Irjen M Iriawan. 

--- Redem Kono

Komentar