Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KESEHATAN Pemerintah Sediakan Makanan Khusus Balita di Pengungsian Korban Tsunami Palu-Donggala 09 Oct 2018 05:30

Article image
Presiden Jokowi bertemu anak-anak di tenda pengungsian Palu. (Foto: Ist)
Bahan makanan khusus bagi bayi dan anak usia bawah lima tahun yang masih tinggal di pengungsian guna memastikan kebutuhan gizi mereka terpenuhi.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan pemerintah mulai menyediakan bahan makanan khusus bagi bayi dan anak usia bawah lima tahun yang masih tinggal di pengungsian guna memastikan kebutuhan gizi mereka terpenuhi. 

"Kita menyadari bahwa dapur umum mungkin tidak sempat untuk memasak makanan untuk bayi, tidak sempat membuat bubur dan sebagainya. Kalaupun sayur, itu sayur untuk porsinya orang dewasa dengan bumbu dan sebagainya. Penyediaan makanan bayi dan anak ini nanti akan membantu untuk melakukan itu, membuat makanan-makanan yang memang porsinya adalah untuk anak dan bayi," katanya di Palu, Senin (8/10/2018).

Penyediaan Makanan Bayi dan Anak (PMBA) dimulai dengan menyediakan bahan untuk 500 porsi makanan pada tahap awal. Jumlah tersebut belum mencukupi karena kebutuhan makanan bayi dan anak di tempat pengungsian korban bencana Sulawesi Tengah per hari menurut perkiraan antara 1.500 porsi hingga 2.000 porsi.

Makanan untuk bayi dan anak tidak dimasak oleh petugas dapur umum di lokasi pengungsian. Dapur umum hanya menyediakan bahan-bahan untuk membuat makanan bayi dan anak. Orangtua yang bersangkutan yang mengolahnya sesuai dengan kebutuhan. Pemasakan makanan bayi bisa dilakukan di dapur umum atau rumah warga yang tidak rusak akibat guncangan gempa.

Yurianto berharap pos pengungsian bisa disatukan dalam pos besar untuk mengefisienkan pelayanan kesehatan, dan hal itu sudah dibicarakan dengan dinas sosial setempat.

"Bayangkan kalau cuma satu pos besar, saya hanya perlu membuat satu pos kesehatan, satu ambulans, satu tim kesehatan. Kalau terbagi menjadi tiga pos, saya harus membuat tiga pos kesehatan, tiga mobil, dan tiga tim," pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar