Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

REFLEKSI Pemimpin dan Karakter Kepemimpinan 10 Oct 2016 18:47

Article image
Kepemimpinan itu sebuah proses, bukan cuma hasil. (Foto: Ist)
Pemimpin dipilih bukan karena kemauan keluarga atau kelompoknya, tetapi karena keutamaan pribadi yang berorientasi pada kepentingan publik.

Oleh Valens Daki-Soo

 

KARAKTER adalah unsur terpenting dalam kepemimpinan. Itu sebabnya, menjadi pemimpin yang matang butuh proses pendidikan, pelatihan, penugasan dan pengalaman yang panjang. Sedemikian vitalnya karakter, pakar kepemimpinan Dr John Maxwell mengatakan, "Character is everything."

Pemimpin idealnya melewati kaderisasi yang kontinyu dan sistematis. Dalam dunia politik, harusnya parpol menerapkan pola rekrutmen atau seleksi yang ketat berbasis kualitas, termasuk kemampuan dan integritas pribadi.

Bila Anda ingin menjadi pemimpin politik (bukan 'hanya' politisi), seyogianya Anda memiliki karakter yang kuat, kualitas pribadi yang prima, ketahanan dalam pertarungan politik, nilai-nilai keutamaan dan komitmen terhadap publik, ethos pengabdian serta semangat militansi dan loyalitas kepada rakyat, bangsa dan negara.

Paling penting, Anda tak hanya perlu punya daya visioner dan rencana programatis, tetapi juga (terutama) kemampuan mengeksekusi. Tak cukup memikili kecakapan semantik ataupun kemahiran berorasi yang memukau, Anda mesti punya ketegasan dan keberanian bertindak konkrit.

Dalam pandangan John Gagee Alle, pemimpin itu penunjuk, pemandu, sekaligus penuntun. Ia tidak hanya menunjukkan visi dan atau tujuan pencapaian, tetapi berjalan bersama yang dipimpin untuk mengeksekusi setiap kebijakan. Karena menjadi pemandu, pemimpin selalu menjadi pihak pertama yang bertanggung jawab, dan tidak melimpahkan risiko kepada para anggotanya. Dia berani berkorban dan rela mengabdi.

Dalam bisnis, seorang pemimpin adalah orang yang "melakukan apapun yang dia omongkan". Jika tidak, dia niscaya terpental dan kehilangan kepercayaan (trust) dari para relasi.

Di dunia militer, pemimpin adalah dia yang mampu bertindak sebagai teladan, sehingga dengan mantap bisa berkata lantang kepada para prajuritnya, "Follow me!"

Oleh karena itu, seorang pemimpin militer mesti telah terbukti dan teruji tangguh di lapangan, karena prajurit sejati ditempa di palagan. Jika tak ada medan konflik atau perang pun, kepemimpinan militer bisa diasah di ajang pembinaan satuan, operasi teritorial dan operasi terkait lainnya.

Pemimpin sejati tidak pernah sengaja mencari-cari kekuasaan. Pemimpin dipilih bukan karena kemauan keluarga atau kelompoknya, tetapi karena keutamaan pribadi yang berorientasi pada kepentingan publik.

Pemimpin seharusnya dipilih berdasarkan kualitas pribadi dan rekam jejaknya. Pemimpin bukanlah sebuah hasil yang mendadak (di)muncul(kan), tetapi buah dari proses pencarian, pembinaan dan pematangan yang kontinyu.

Saya akan meringkas karakter dari seorang pemimpin berdasarkan teori komunikasi pemikir Juergen Habermas dalam buku terkenalnya The Theory of Communicative Action (1981). Pemimpin harus memiliki empat karakter utama: kebenaran, ketepatan, kejujuran, dan ketegasan.

Pemimpin  yang menjunjung kebenaran dalam kepemimpinannya akan berbicara dari apa yang dibuatnya. Tidak ada jarak antara perkataan dan tindakannya. Karakter kebenaran hanya dapat ditemukan dalam rekam  jejak dan praksis hidupnya, bukan dari kecakapan berkata-kata tanpa pembuktian konkrit. Pemimpin yang benar mampu menunjukkan, apa yang dikatakan kongruen dengan apa yang dilaksanakan. Dia dapat bersikap demikian karena dia turun ke lapangan, mengkaji dan memetakan persoalan, menyusun langkah perbaikan, lalu mengeksekusinya tanpa keraguan.

Karakter ketepatan dalam diri pemimpin tampak dalam kemampuannya untuk menjelaskan, mengelaborasi dan mengimplementasi program dengan tepat, sehingga dapat dimengerti dan efektif di lapangan.

Ini terkait kapabilitas dan kesediaan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Pemimpin yang tidak berkarakter demikian akan bersembunyi di balik kata-kata indah, untuk menyembunyikan ketidakmampuan bertanggung jawab. Ciri pemimpin tidak bertanggung jawab selalu mencari alasan-alasan tidak substansial dalam pemilihan pemimpin (seperti SARA, politik citra, politik uang), karena ciut untuk beradu program dan rekam jejak.

Karakter kejujuran lebih menyangkut tekad dan komitmen seorang pemimpin untuk berbicara dari hati nuraninya sendiri. Pemimpin yang jujur akan selalu berteriak lalu bergerak atau bertindak ketika melihat ketakberesan yang menyengsarakan rakyat yang dipimpinnya. Tipe pemimpin seperti ini tidak pernah takut dicela, karena ia bersikap jujur. Dia tidak pernah melakukan kompromi murah, meskipun berada dalam tekanan hebat. Dia tidak sibuk membangun citra, ketika orang berlomba-lomba membangun citra bentukan untuk meraih kekuasaan.

Namun, pemimpin yang benar, tepat, dan jujur belumlah memadai jika tidak dilingkari karakter ketegasan. Pemimpin yang tegas selalu melakukan apa yang dikatakannya. Ia memiliki kemampuan mengesekusi program, kebijakan, atau konsep. Ia tidak plin-plan, tetapi berani mengambil risiko. Keberanian mengambil risiko adalah salah satu ciri utama seorang pemimpin. Dia tahu  bahwa setiap pribadi, juga kebijakan atau program ada titik lemahnya, tetapi ia tidak akan surut mengeksplorasi dan memaksimalisasi titik lemah itu.

Kiranya kebenaran, ketepatan, kejelasan, dan ketegasan menjadi kriteria bagi rakyat Indonesia dalam memilih, mendukung dan melangkah maju bersama pemimpin-pemimpin berkarakter unggul demi kejayaan bangsa dan negara tercinta, Indonesia.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, pemerhati politik dan militer, Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar