Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

MAKRO Pemulihan Ekonomi, IMF: Butuh Kebijakan Moneter yang Lebih ‘Smooth’ 12 Oct 2017 21:33

Article image
Logo IMF. (Foto: ist)
"Regulator juga perlu menghasilkan kebijakan makroprudensial untuk mengantisipasi risiko yang bisa mengganggu stabilitas…"

WASHINGTON, IndonesiaSatu.co -- Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan kebijakan moneter yang tepat bisa menjaga stabilitas sistem keuangan global dan mendukung permulihan ekonomi secara keseluruhan.

"Pembuat kebijakan harus menyediakan kebijakan moneter yang layak untuk mendukung pemulihan dan mengatasi persoalan ketidakpastian di sektor keuangan," kata Financial Counsellor IMF Tobias Adrian dalam menyampaikan publikasi Global Financial Stability Report (GFSR) terbaru di Washington DC, AS, yang dikutip Kamis (12/10).

Adrian mengatakan kebijakan moneter yang bisa dilakukan antara lain memastikan adanya kebijakan normalisasi moneter yang lebih "smooth" melalui komunikasi yang mudah dipahami pelaku pasar agar tidak terjadi guncangan.

"Regulator juga perlu menghasilkan kebijakan makroprudensial untuk mengantisipasi risiko yang bisa mengganggu stabilitas," ujarnya.

Selain itu, kata Adrian, bank-bank besar juga perlu meningkatkan fokus terhadap model bisnis agar dapat lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan global.

"Kami memproyeksikan sekitar sepertiga bank-bank global, dengan jumlah aset mencapai 17 trilliun dolar AS, akan kesulitan dalam menjaga profitabilitas secara berkelanjutan untuk memastikan adanya ketahanan," katanya.

Adrian mengatakan negara berkembang juga perlu untuk melanjutkan pembiayaan guna mengatasi ketidakpastian dengan menurunkan utang sektor swasta dan mendorong pengelolaan utang luar negeri.

"Pemangku kebijakan di China juga perlu mengatasi ketidakpastian dan memastikan adanya reformasi agar ekonomi tidak terlalu bergantung dari pertumbuhan kredit yang sangat cepat," tambah Adrian.

Adrian memastikan meski saat ini sistem keuangan global masih dalam keadaan kuat, namun berbagai kebijakan itu dapat dilakukan agar tidak terlalu rentan terhadap adanya gejolak.

Ia menambahkan saat ini terdapat lima risiko yang membuat sistem keuangan global menjadi rentan yaitu kondisi pasar yang masih berisiko, tingkat utang yang meningkat diantara negara G20 dan rasio pinjaman yang naik di negara berkembang dan negara dengan berpendapatan kecil.

Kemudian, skala ekspansi dari pertumbuhan kredit di China yang terlalu cepat serta tekanan eksternal lainnya seperti risiko geopolitik dan kemungkinan proyeksi ekonomi global yang mengalami penurunan.

--- Sandy Romualdus

Komentar