Breaking News

REFLEKSI Pendidikan dan 'Entrepreneurship’ 16 Dec 2019 09:46

Article image
Ilustrasi tentang entrepreneurship. (Foto: entrepreneur.com)
Sistem pendidikan saat ini berasal dari pedagogi lama yang dirancang untuk menciptakan karyawan yang baik dan tentara yang patuh yang tidak lagi relevan.

Oleh Valens Daki-Soo

 

BEBERAPA kerabat dekat bertanya kepada saya, jalan-jalan terus begini lalu dapat uang dari mana?

Saya jawab, "Itulah untungnya jadi entrepreneur. Ya, jadi pebisnis. Liburan bisa kapan saja, terserah kita. Saat bisnis sudah stabil, perusahaan atau grup usaha Anda bekerja dengan manajemen yang baik, Anda bisa bergerak bebas, termasuk untuk merintis bisnis baru."

Itu yang sedang saya lakukan di Flores. Saya pikir, selama ini sudah bergerak di Jakarta, Karawang dan Tangerang, saatnya saya coba berbisnis juga di "pulau halaman" sendiri.

Ngomong-ngomong, cara berpikir Mendikbud Nadiem Makarim tampaknya menarik. Perubahan dan kemajuan dimulai dari, dalam dan melalui pendidikan. Saya teringat ungkapan ini (entah benar atau tidak, Anda bisa menilai sendiri), "Sekolah formal sering menggagalkan orang, karena mengajarkan orang untuk menjadi pekerja, bukan pebisnis/pengusaha."

Dr Suneel Sharma (Associate Dean & Professor, IFIM Business School, Bengaluru, India) pernah bertanya, apakah pendidikan kewirausahaan benar-benar penting (bdk: entrepreneur.com)? Bisakah pendidikan kewirausahaan menghindari kegagalan start-up (proses memulai sebuah organisasi baru atau usaha bisnis)? Mengingat sebagian besar peneliti dan akademisi meyakini bahwa kewirausahaan tidak dapat diajarkan melainkan hanya dapat dipelajari melalui ‘try-fail-learn-repeat’ (coba-gagal-belajar-ulang).

Sharma berpendapat, meskipun pendapat para peneliti dan akademisi benar, tetapi model pembelajaran tetap perlu berupa: learn-practice-try-fail (LESS)-repeat  (belajar-berlatih-coba-gagal (KURANG)-ulangi). Oleh karena itu perlu dibuat program pembelajaran kewirausahaan yang memiliki dampak besar pada pengusaha pemula dan tahap pertumbuhan.

Menurut Sharma, terdapat empat komponen yang perlu dimasukkan dalam tujuan pembelajaran, yakni  Entrepreneurial Performance (EP); Motivation (M); Entrepreneurial Skills (ES); Business Skills (BS).

Peran wirausaha (entrepreneur) bagi kemajuan suatu bangsa/negara sangat penting. Dalam hal peningkatan jumlah wirausaha Indonesia masih jauh tertinggal. Tidak perlu dibandingkan dengan negara-negara maju, dengan negara tetangga yang serumpun kita masih kalah. Jumlah wirausaha di Indonesia hanya sekitar 3,1 persen dari seluruh jumlah penduduk, di bawah dari negara tetangga di ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand yang sudah di atas 4 persen. Sementara negara-negara maju rata-rata memiliki jumlah entrepreneur di atas 14 persen.

Pentingnya peran wirausaha telah mendorong sekolah-sekolah dan kampus  di Indonesia memasukkan kurikulum wirausaha dalam mata pelajaran atau mata kuliah. Langkah ini sudah dimulai Massachusette Institute Technology (MIT) antara kurun waktu 1980-1996 (ristekdikti.go.id). Di tengah pengangguran terdidik yang semakin meluas dan kondisi ekonomi, sosial politik yang kurang stabil, MIT mengubah arah kebijakan perguruan tingginya dari high Learning Institute and Research University menjadi Entrepreneurial University. 

Meskipun banyak pro kontra terhadap kebijakan tersebut namun selama kurun waktu di atas (16 tahun) MIT mampu melahirkan 4.000 perusahaan dari tangan alumni-alumninya dengan menyedot 1.1 juta tenaga kerja dan omset sebesar 232 miliar dolar per tahun. Prestasi yang amat sangat spektakuler ini yang mengubah Amerika Serikat menjadi negara super power. Apa yang dimulai MIT  inilah yang selanjutnya ditiru dan diikuti oleh banyak perguruan tinggi sukses di dunia.

Hemat saya, boleh jadi ada yang salah dengan sistem dan "isi" pendidikan kita selama ini. Namun, tentu saja kita butuh juga banyak pemikir dan eksekutor di multi-bidang lainnya, tidak hanya bisnis/entrepreneurship.

Sistem pendidikan tradisional, tulis Dr Suneel Sharma, telah gagal untuk menyediakan pekerjaan yang berkelanjutan dalam latar belakang kurangnya pekerjaan dan otomatisasi pekerjaan. Sistem pendidikan saat ini berasal dari pedagogi lama yang dirancang untuk menciptakan karyawan yang baik dan tentara yang patuh yang tidak lagi relevan. Sistem pendidikan kewirausahaan dirancang untuk mengajarkan siswa untuk berpikir, berinovasi, dan menciptakan produk dan layanan baru.

Hari ini dan ke depan anak-anak kita jangan lagi hanya berorientasi jadi pegawai negeri atau "orang kantoran". Jiwa kewirausahaan perlu ditanam sejak dini. Karakter kuat dan pantang menyerah mesti ditempa sejak awal pertumbuhan.

Hidup menyediakan peluang beraneka sesungguhnya. Kalau kita siap secara mental, peluang itu akan tiba. Atau, kita justru menciptakan sendiri peluang untuk maju. Pilihan ada di tangan kita. Hanya memang sukses lebih mudah mendekat kepada mereka yang punya jiwa tangguh-perkasa: menganggap jatuh-bangun itu biasa, yang penting sukses menanti di ujungnya.

Bahkan sebenarnya sukses itu bukan hasil melainkan proses. Ukuran dan bentuk sukses bagi setiap orang berbeda-beda, namun intijya sama: memanusiakan manusia. Kita menjadi manusia yang bebas (termasuk secara finansial), kreatif, inovatif, responsif dan menjadi gemar menolong sesama. Itu hanya mungkin kalau kita sendiri sudah mandiri, berada pada posisi "leluasa untuk berbagi".

Soal sekolah formal, sejumlah pebisnis jadi sukses tanpa sekolah formal yg memadai.

Pasti mereka punya inteligensi yang baik sehingga bisa sukses memimpin dan mengelola bisnisnya.

Mungkin tidak bersekolah formal bikin mereka berpikir dan bekerja dengan paradigma yang berbeda dengan "orang sekolahan".

Namun, itu tidak berarti sekolah formal tidak perlu. Yang penting adalah sekolah formal mampu mengawinkan idealisme dan realisme.

Semoga dunia pendidikan kita menempa anak-anak bangsa tercinta menjadi pribadi yang berjiwa merdeka, hidup merdeka.

 

Penulis adalah peminat filsafat, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum Portal IndonesiaSatu.co

Komentar