Breaking News

NASIONAL Peneliti: Hoax Pengecoh Struktur Berpikir Logis 16 Jan 2019 11:21

Article image
Peneliti dan Dosen Character Building Binus University Dr. Frederikus Fios. (Foto: Redem)
Pada tataran filosofis hoax adalah pengecohan struktur berpikir massa yang menyesatkan juga karena menipu orang lain dengan cara berpikir yang tidak benar.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kini dihujani sejumlah berita bohong (hoax). Terakhir hoax tentang tujuh kontainer yang telah tercoblos untuk pasangan calon presiden-wakil presiden tertentu. Komisi Pemilihan Umum (KPU0 dan kepolisian telah bekerja sama memastikan bahwa isu suara tercoblos tidak benar atau bohong.

Hoax: sesatkan publik

Menurut Peneliti dan Dosen Character Building Binus University Dr. Frederikus Fios, hoax yang kini terjadi adalah rekayasa informasi dan produksi makna buruk (tidak baik) yang membodohi masyarakat atau publik.

"Hoax direkayasa dengan tujuan untuk menyesatkan masyarakat atau publik dengan tujuan mematikan daya berpikir kritis publik,” paparnya kepada Redaksi IndonesiaSatu.co di Jakarta, Rabu (16/1/2019).

Akademisi yang akrab dipanggil Frits Fios ini menilai pencipta hoax sebetulnya juga pribadi-pribadi yang buruk secara moral dan menunjukkan diri tidak mampu mempengaruhi massa dengan cara cara rasional-etis.

“Karena para pencipta hoax dengan tahu dan mau untuk memburukkan orang lain yang tidak mengerti dan tidak tahu apa apa tentang politik,” bebernya.

Frits yang menamatkan studi doktoralnya di Universitas Indonesia melanjutkan, pada tataran filosofis hoax adalah pengecohan struktur berpikir  massa yang menyesatkan juga karena menipu orang lain dengan cara berpikir yang tidak benar. 

“Hoax dibuat untuk membangkitkan ketidakpercayaan pada struktur kekuasaan pemerintah,” ungkapnya.

Karena itu akademisi kelahiran Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengharapkan agar produktor dan distributor hoax perlu diawasi bukan hanya oleh polisi tapi oleh masyarakat termasuk awak media yang masih menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalisme yang benar sesuai fakta apa adanya bukan jurnalisme fiktif.

“Media massa harus mengontrol penyebar hoax dengan membuat analisis dan investigasi yang cerdas untuk menelanjangi hoax yang merusak rasa persatuan dan nasionalisme bangsa,” tegasnya.

Hoax: rendahnya karakter manusia

Lanjut Frits, hoax juga adalah tanda rendahnya karakter manusia Indonesia yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kejujuran, kesantunan, kebaikan bersama.

“Hoax merusakkan kehidupan bernegara dan perbuatan yang bukan saja menyesatkan orang tapi melawan negara jika isi hoax menyerang kredibilitas pemerintah yang adil dan fair,” papar pria yang menjabat Direktorat Humas VOX POINT INSTITUTE tersebut.

Karena hoax membahayakan Negara, demikian Frits, maka Negara harus tegas menindak produktor hoax yang merugikan dalam kehidupan bersama.

“Dibutuhkan kolobarasi semua pihak untuk melawan provokasi hoax dengan tidak terpancing dengan informasi negatif yang merusakkan diri,, sosial dan hidup bernegara kita” usulnya.

Untuk mencegah penyebaran hoax, Frits mengharapkan wajah politik yang harus diperjuangkan dengan cara rasional-etis, bukan sebaliknya irasional-buruk rupa. Kerja sama dan persatuan semua komponen bangsa sangat diharapkan untuk menghentikan penciptaan dan penyebaran hoax.

 “Mari semua komponen bangsa: masyarakat, pemerintah, insan pendidikan, media massa,, kepolisian dan tokoh agama kita lawan hoax yang mengancam persatuan bangs,” pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar