Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

PENDIDIKAN Penelitian: Radikalisme Masuk Sekolah Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler 26 Jan 2018 12:31

Article image
Direktur Maarif Institute Abdullah Darraz. (Foto: Ist)
Direktur Maarif Institute Abdullah Darraz menyatakan kelompok radikal biasanya memanfaatkan jam pulang siswa dalam rangka penyebaran paham radikalisme.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Radikalisme dalam bidang pendidikan berhasil masuk ke siswa lewat kegiatan ekstrakurikuler. Karena itu sekolah harus mengawasi kegiatan ekstrakurikuler agar tidak menjebak para siswa ke dalam radikalisme. 

Demikian kesimpulan penelitian bertajuk 'Penguatan Kebijakan Ekstrakurikuler dalam Meredam Radikalisme di Sekolah' dari Maarif Institute yang diterima redaksi IndonesiaSatu.co di Jakarta, Jumat (26/1/2018).

Penelitian tersebut dilakukan di 6 kabupaten/kota di 5 provinsi di Indonesia, yaitu Padang (Sumbar), Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Sukabumi (Jabar), Surakarta (Jateng), Denpasar (Bali), dan Tomohon (Sulut). Pengambilan data dilakukan pada Oktober hingga Desember 2017.

Ada 40 sekolah yang menjadi sampel dengan jumlah narasumber kurang lebih 450 orang. Metode pengumpulan data dilakukan dengan analisis dokumen, wawancara semi terstruktur, observasi lapangan, dan Focus Group Discussion.

Direktur Maarif Institute Abdullah Darraz menyatakan kelompok radikal biasanya memanfaatkan jam pulang siswa dalam rangka penyebaran paham radikalisme. Ia pun menilai sekolah belum mampu memonitor kegiatan di luar jam sekolah.

"Harusnya sekolah kita bisa lebih memonitor. Karena kelompok radikal ini sangat memanfaatkan jam-jam pulang sekolah. Perlu diperhatikan pola-pola seperti ini. Saya rasa sekolah masih kesulitan memonitor hal ini," kata Darraz.


Berdasarkan hasil penelitian, kata Darraz, kegiatan ekstrakurikuler terbukti menjadi pintu kelompok radikal untuk menyasar siswa. Hal itu disebabkan kegiatan ekstrakurikuler yang melibatkan pihak selain sekolah. 

"Ini menjadi fenomena umum beberapa temuan telah mengonfirmasi bahwa radikalisme masuk lewat kegiatan ekstrakurikuler. Pada beberapa kasus itu kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah tidak terlalu immune dari pengaruh kelompok radikal dari kelompok luar. Misal alumni, lembaga konseling, lembaga kursus," ujar Darraz.

Namun selain itu, hasil penelitian Maarif Institute juga mengungkapkan adanya peran guru dalam penyebaran radikalisme lewat kegiatan belajar mengajar (KBM). Darraz menyatakan ada beberapa guru yang ditemukan menyisipkan pandangan radikalnya saat mengajar.

"Kami juga lihat radikalisme itu masuk ke sekolah lewat proses KBM. Faktor utamanya adalah karena guru," jelasnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Totok Suprayitno menanggapi hal ini. Ia mengakui anak usia pelajar memang kelompok rentan terhadap penyusupan radikalisme.

"Anak-anak pelajar kita memang kelompok yang paling rentan. Paling mudah dipengaruhi dan kalau berhasil, efek pendidikan paham-paham itu nancap lama sekali," ujar Totok dalam kesempatan yang sama.

Ia pun berharap sekolah dapat membangun kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini diharapkan mampu menjadi bekal untuk menangkal paham radikal.

"Paham radikalisme ini biasanya against logical thinking. Hanya berjangka pendek. Biasanya lebih ke hal-hal yang lebih emosional. Jadi bagaimana anak-anak harus memiliki critical thinking yang baik. Hal-hal yang tidak logis jadi bisa tertangkal oleh setiap individu anak. Critical thinking dan learning capability seperti menjadi bekal untuk masa depan serta untuk menangkal hal yang illogical," pungkasnya.  

--- Simon Leya

Komentar